Rojali dan Rohana, Kamu yang Mana?

Oleh: Ferrina Mustika Dewi
(Penggiat Dakwah Remaja)
LensaMediaNews.com, Rubrik Remaja_ Siapa di sini yang suka belanja? Kamu tipe yang langsung beli atau lihat-lihat dulu terus belinya di online shop? Tentunya banyak yang seperti ini. Harga barang di online shop lebih murah daripada di tokonya langsung. Karena itu, banyak orang seringnya lihat-lihat saja, terus nanya harga. Tapi endingnya enggak beli barangnya. Akhirnya muncul fenomena dengan julukan yang beberapa waktu terakhir menjadi sorotan netizen. Fenomena Rojali dan Rohana, siapa mereka?
Rojali dan Rohana
Dua istilah ini bukan nama orang yang sebenarnya, ya. Mereka adalah singkatan yang sengaja ditujukan kepada calon pembeli yang suka berkunjung ke mal. Rojali adalah istilah untuk rombongan jarang beli, sedangkan Rohana itu kepanjangan dari rombongan hanya nanya. Dua julukan tersebut terlihat unik, mengacu pada fenomena dari pengunjung yang datang ke pusat perbelanjaan atau mal-mal.
Alphonzus Widjaja, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) mengungkapkan fenomena Rojali dan Rohana makin banyak terjadi. Kunjungan konsumen ke mal memang tetap meningkat. Hanya saja pola belanja masyarakat dinilai berubah signifikan. Tren belanja utamanya ditujukan pada kelas menengah ke bawah yang daya belinya belum pulih. Mereka akan tetap datang ke mall dan membeli produk yang harga satuannya kecil (cnbcindonesia.com, 30/07/2025).
Selain itu, Ajib Hamdani, selaku Analis Kebijakan Ekonomi Apindo menilai fenomena ‘Rojali’ dan ‘Rohana’ muncul karena pasar makin selektif. Konsumen pun lebih berhati-hati dan pola konsumsi bergeser. Tren ini menurutnya juga tak akan bertahan lama. Ketika daya beli masyarakat pulih dan ekonomi bertumbuh, konsumen akan aktif berbelanja kembali (money.kompas.com, 30/7/2025).
Bukan hanya Tren Lucu-Lucuan
Meskipun fenomena ini sekadar lucu-lucuan saja, ya. Semua pihak harus memperhatikan dengan serius demi mencari solusi. Sebab, hal tersebut bisa menjadi sinyal bahwa kondisi ekonomi kita sedang tidak baik-baik saja.
Konsumen punya hak memilih untuk belanja di mana saja, sesuai dengan kemampuan finansial masing-masing. Pedagang juga punya strategi pemasaran yang beda dari yang lain, disesuaikan dengan tren dan habit belanja konsumen sekarang. Sehingga problem utamanya bukan pada pembeli maupun pedagang, namun pada sistem ekonomi yang sedang berjalan.
Kita harus melihat bahwa penerapan sistem ekonomi kapitalis hari ini menjadi biang keladi masalah ekonomi yang terjadi. Kondisi ekonomi yang tidak baik-baik saja, membuat masyarakat mencari solusinya sendiri. Salah satunya, kemunculan fenomena Rojali dan Rohana ini.
Solusi Islam
Sistem ekonomi yang sekarang diterapkan sangat berbeda dengan sistem ekonomi Islam. Dalam Islam, Negara bertanggung jawab penuh dalam mengurus kepentingan umat. Negara diwajibkan menjamin seluruh kebutuhan hidup yang bersifat individu, dari pangan, sandang, sampai papan. Maupun bersifat bersama, seperti pendidikan dan keamanan. Negara harus bisa memastikan akses semua kebutuhan masyarakat terjangkau semua kalangan.
Di sisi konsumen boleh membelanjakan hartanya sesuai kebutuhan, tetapi tidak berlebihan. Juga, tidak ada larangan membeli barang mahal atau murah. Yang penting barang tersebut dibutuhkan dan halal.
Dari sisi penjual, ia harus menanamkan pemikiran dalam dirinya, ia sedang menjemput pembeli. Ketika tokonya sepi atau ramai, penjual tetap meyakini kondisi tersebut bagian dari qadha Allah. Selain itu, penjual dapat meningkatkan kemampuan marketing melalui kelas-kelas pelatihan, seminar, dan lainnya.
Mekanisme jual beli atau muamalah sepenuhnya diserahkan pada pasar. Negara hanya turun tangan, jika terjadi masalah praktik penimbunan, penipuan, kecurangan yang dilakukan pedagang atau konsumen. Kalau ekonomi pasar terganggu, seperti bangkrutnya pedagang maupun konsumen menjadi miskin, negara akan memberikan bantuan, yaitu menyediakan lapangan pekerjaan, meminjamkan modal, dan lainnya, sampai ekonomi pedagang atau konsumen menjadi stabil (narasipost.com, 06/08/2025).
Dalam Islam, negara sudah seharusnya melindungi rakyatnya, sebagaimana sabda Rasulullah, SAW. yang berbunyi, “Imam/ (khalifah) itu pengurus rakyat dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus.” (HR. Bukhari dan Ahmad)
Jadi, menyikapi fenomena Rojali atau Rohana, kamu lebih suka yang mana? Keduanya tidak masalah. Hanya suka melihat-lihat dan bertanya tanpa membeli, sama sekali tidak dilarang. Namun, fenomena ini jadi indikator lemahnya sistem ekonomi, yang harus dicover oleh negara bukan dibiarkan begitu saja.
Indahnya Islam
Sungguh, ketika sistem ekonomi Islam diterapkan, kehidupan yang rahmatan lil’alamin akan terwujud. Orang akan datang ke mal jika butuh, berniat membeli, dan mampu. Bukan semata untuk lihat-lihat.
Dengan Islam, hidup bahagia dan penuh keberkahan menjadi bagian dari keseharian. Rida Allah pun senantiasa meliputi. Wallahu’alam bishshawwab.[]
