Miris, Medan Raih Penduduk Miskin Terbanyak

IMG-20260902-WA0001

Oleh: Rahmi Lubis, S.Pd. 

 

Opini_LenSa Media News_Kemiskinan masih menjadi masalah negeri ini. Angka kemiskinan yang terus meroket menjadikan kota medan meraih gelar kota terbanyak penduduk miskin. Hal ini dapat dilihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara yang mencatat sejumlah 1,11 juta penduduk masih hidup di bawah garis kemiskinan. Adapun Penetapan garis kemiskinan rumah tangga terbaru sebesar Rp3.939.495 per bulan. Itu artinya total belanja satu keluarga untuk kebutuhan makanan dan nonmakanan harus menembus angka Rp3,93 juta. Dengan kata lain, rumah tangga yang memiliki penghasilan di bawah angka tersebut tergolong dari status rumah tangga miskin. Penduduk miskin terbanyak di Sumatera Utara memang berada di Kota Medan. Hal ini dikarenakan jumlah penduduknya yang paling banyak dibandingkan 32 kabupaten dan kota lainnya (Detik.com; 12-05-26).

Lalu, bagaimana masyarakat kota Medan menyikapi tentang kemiskinan ini? Tingginya angka kemiskinan maka tinggi pulalah angka kriminalitas. Korelasi ini harusnya menjadi permasalahan utama warga kota Medan agar bisa hidup tenang, aman, dan damai di kota tercinta ini. Lantas, jika kita melihat kondisi kemiskinan ini, muncul pertanyaan apakah kemiskinan ini adalah keniscayaan atau pilihan pada diri tiap manusia?

Miskin Keniscayaan pada Sistem Kapitalis

Dikutip dari pernyataan Dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Sumatera Utara, Dr. Arif Rahman menegaskan tingginya jumlah penduduk miskin di Medan bukan disebabkan karena lemahnya ekonomi kota, melainkan dampak dari konsentrasi aktivitas ekonomi dan tingginya urbanisasi (Detiksumut; 12-05-26). Hal ini menandakan adanya berbagai faktor angka kemiskinan sulit diatasi.

Jika kita mengamati dari pengelolaan sumber daya alam saja, masyarakat yang berada di kawasan sekitar sumber daya alam tidak dapat merasakan kayanya hasil sumber daya alam tersebut. Mengapa demikian? Hutan, perkebunan, gas alam, minyak, batu bara, nikel, timah, dan lainnya semua pengelolaannya diserahkan kepada pihak asing atas persetujuan pemerintah sendiri. Aneh bukan? Itulah yang namanya sistem kapitalisme. Sistem yang menjadikan pemilik modal menjadi oligarki untuk meraih keuntungan pribadi yang sebesar-besarnya.

Pemerintah sendiri kini sudah berubah haluan. Mengatasnamakan kepentingan rakyat namun faktanya abai terhadap rakyat. Legitimasi peraturan hanya diperuntukkan bagi para pemilik modal. Nasib rakyat dilupakan. Sebab, dasar pemikiran yang ada pada diri manusia saat ini adalah sekulerisme. Aturan kehidupan yang hanya bersandar dengan kepuasan nafsu semata tanpa memandang aturan yang diciptakan oleh Sang Pencipta.

Inilah kenyataan pahit yang harus diterima oleh semua orang saat ini. Abainya pada aturan Tuhan menjadikan manusia sesat. Bukan hanya kemiskinan yang menjadi keniscayaan melainkan segala aspek kehidupan yang telah rusak. Buktinya saja, seks bebas yang merajalela, kriminalitas yang memuncak, bahkan alam juga ikut merasakan kerusakannya. Adakah solusi atas semua problematika umat saat ini?

Islam Solusi Pasti

Islam memandang masalah kemiskinan tidak sepatutnya menjadi masalah. Miskin itu pilihan. Ketika individu merasa cukup dengan yang dimiliki tanpa ingin merasakan kemewahan atau berlebihan, kata miskin tidak akan tersemat pada dirinya tetapi merasa cukup atau qanaah. Inilah indahnya islam. Tidak ada kata miskin ataupun kaya. Setiap manusia hanya dipandang dalam hal ketakwaannya kepada Allah SWT.

Perlu kita garisbawahi islam dalam hal ini bukan hanya sebagai agama melainkan sebuah sistem kehidupan untuk seluruh umat dengan menjalankan hukum syariat islam untuk segala lini kehidupan kecuali yang berkaitan dengan akidah/ibadah. Setiap individu tidak dipaksa untuk menyembah kepada satu Tuhan namun untuk kehidupan umum harus menjalankan syariat sebagai aturan kehidupan.

Dalam sistem islam, pemerintah haram untuk memberikan hasil kekayaan alam di negeri ini untuk negara asing bahkan untuk negara kafir. semua pengelolaan diserahkan kepada negeri untuk mencukupi kebutuhan seluruh penduduk negeri tersebut tanpa terkecuali. Disinilah perbedaan yang sangat mendasar. Tidak adanya kepentingan oligarki dan sekelompok pihak. Semua diserahkan dan dikelola untuk kebutuhan bersama. Alhasil seluruh masyarakat negeri akan merasakan kemakmuran atas hasil alam yang melimpah ruah ini.

Belajar dari Sejarah Daulah Islamiyah saat islam menjadi sebuah sistem kehidupan yaitu pada masa kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz. Semua umat yang berada pada kepemimpinannya tidak ada yang mau menerima zakat. Petugas pengumpul zakat, Yahya bin Said menyalurkan zakat ke Afrika dan kenyataannya, saat ia akan menyalurkan zakat tersebut tidak ia dapati seorang pun rakyat miskin yang layak diberikan zakat. Masyaallah, kapan ini terjadi pada kota Medan dan di seluruh penjuru negeri?

Mari tegakkan islam sebagai sistem kehidupan. Allahu Akbar.

 

Waallahu Alam Bisawwab 

(LM/Sn)