Al-Qur’an: Jalan Kembali Menuju Kemuliaan Umat

Oleh Nadisah Khairiyah
LensaMedianews.com, Tsaqofah Aqliyah_ Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda di hati kaum Muslim. Masjid menjadi hidup. Lantunan ayat-ayat Allah menggema di malam hari. Al-Qur’an dibaca, dihafal, ditadabburi.
Namun Ramadan sesungguhnya mengingatkan kita pada satu fakta besar: yaitu bulan diturunkannya Al-Qur’an.
Allah ﷻ berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan tentang petunjuk itu, dan pembeda antara yang haq dan yang batil (QS al-Baqarah [2]: 185).
Para ulama menjelaskan bahwa kemuliaan Ramadhan berasal dari peristiwa agung ini: turunnya Al-Qur’an.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menegaskan bahwa Allah memuliakan Ramadhan karena di bulan inilah, Al-Qur’an diturunkan, kitab yang menjadi sumber hidayah, pembeda antara yang benar dan yang salah, antara yang halal dan yang haram.
Dengan kata lain, Ramadan dimuliakan oleh Al-Qur’an. Bukan sebaliknya. Al-Qur’an tidak hanya diturunkan pada bulan yang mulia, tetapi juga pada malam paling mulia.
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Sungguh Kami telah menurunkannya pada malam Lailatul Qadar (QS al-Qadr [97]: 1).
Imam ath-Thabari menjelaskan bahwa pada malam itu Al-Qur’an diturunkan secara keseluruhan ke langit dunia, sebuah peristiwa agung yang menjadi awal cahaya petunjuk bagi umat manusia.
Karena itu, kemuliaan tertinggi Ramadhan bukan sekadar pada ibadahnya, tetapi pada pesan yang dibawanya: kembali kepada Al-Qur’an.
Al-Qur’an: Mukjizat yang Tak Pernah Tertandingi
Sejak pertama kali diturunkan, Al-Qur’an menantang seluruh manusia dan jin untuk membuat sesuatu yang serupa dengannya.
Allah ﷻ berfirman:
قُل لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَن يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ
Katakanlah: jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat sesuatu yang serupa dengan Al-Qur’an ini, mereka tidak akan mampu membuat yang semisal dengannya (QS al-Isra’ [17]: 88).
Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa kemukjizatan Al-Qur’an tampak dari segala sisinya: bahasanya, maknanya, hukumnya, bahkan berita gaib yang dikandungnya.
Lebih dari itu, Allah sendiri menjamin penjagaannya.
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
Sungguh Kami yang menurunkan Al-Qur’an dan Kami pula yang menjaganya (QS al-Hijr [15]: 9).
Sejak 14 abad yang lalu hingga hari ini, tidak ada satu huruf pun yang berubah.
Al-Qur’an tetap terjaga.
Pertanyaan penting saat ini adalah:
apakah umat masih menjaganya dalam kehidupan mereka?
Al-Qur’an: Sumber Keberkahan Kehidupan
Allah ﷻ menegaskan:
وَهَٰذَا كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ
Ini adalah kitab yang Kami turunkan penuh keberkahan. Maka ikutilah ia (QS al-An’am [6]: 155).
Para ulama menjelaskan bahwa keberkahan Al-Qur’an bukan hanya pada bacaan atau hafalannya.
Keberkahan Al-Qur’an muncul ketika ia diikuti dan diamalkan. Bukan hanya dalam kehidupan pribadi. Tetapi juga dalam kehidupan masyarakat dan negara.
Karena itu Allah mengingatkan:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا
Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku maka baginya kehidupan yang sempit (QS Thaha [20]: 124).
Imam al-Baghawi menjelaskan: sekalipun seseorang memiliki kekayaan melimpah, jika ia berpaling dari Al-Qur’an, kehidupannya tetap akan sempit. Inilah yang sedang kita saksikan hari ini.
Negeri yang kaya sumber daya alam.
Namun jutaan rakyat hidup dalam kesulitan. Bukan karena bumi ini miskin, tetapi karena petunjuk Allah tidak dijadikan dasar pengaturan kehidupan.
Ketika Al-Qur’an Tidak Menjadi Sistem Hidup
Al-Qur’an menjelaskan prinsip-prinsip kehidupan secara lengkap.
Allah ﷻ berfirman:
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ
Kami turunkan kepadamu Al-Kitab untuk menjelaskan segala sesuatu (QS an-Nahl [16]: 89).
Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual. Ia juga mengatur ekonomi, hukum, pemerintahan, hingga keadilan sosial.
Dalam ekonomi Allah menegaskan:
وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (QS al-Baqarah [2]: 275).
Namun realitas hari ini justru sebaliknya.
Riba dilegalkan. Bahkan menjadi fondasi sistem ekonomi.
Allah juga mengingatkan:
كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ
Agar harta tidak hanya berputar di kalangan orang-orang kaya saja (QS al-Hasyr [59]: 7).
Tetapi yang terjadi justru sebaliknya.
Kekayaan alam dikuasai oleh segelintir oligarki. Sementara rakyat banyak hanya menikmati sisa-sisanya.
Dalam urusan hukum pun Allah telah menegaskan:
إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ
Hak menetapkan hukum hanyalah milik Allah (QS Yusuf [12]: 40).
Namun dalam sistem sekuler hari ini, hukum justru dibuat oleh manusia berdasarkan kepentingan politik dan kekuasaan. Akibatnya, keadilan sering menjadi barang langka.
Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah
Rasulullah ﷺ telah memberi peringatan yang sangat jelas:
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي
Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selama berpegang pada keduanya: Kitabullah dan Sunnahku (HR al-Hakim).
Berpegang pada Al-Qur’an bukan hanya membacanya. Bukan hanya menghafalnya, tetapi dilanjutkan dengan menjadikannya sebagai sumber hukum dan pedoman kehidupan.
Karena itu Allah bersumpah:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ
Demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sampai mereka menjadikan engkau sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan (QS an-Nisa’ [4]: 65).
Keimanan menuntut ketaatan, dan ketaatan menuntut penerapan.
Jalan Kemuliaan Umat
Sejarah telah membuktikan satu fakta besar.
Ketika Al-Qur’an diterapkan secara kaffah, umat Islam memimpin dunia, keadilan tegak, kemakmuran meluas dan ilmu pengetahuan berkembang.
Namun ketika Al-Qur’an disingkirkan dari kehidupan, yang muncul justru sebaliknya: ketimpangan sosial, korupsi sistemik, ketidakadilan hukum dan krisis moral.
Karena itu kemuliaan umat tidak akan kembali dengan sekadar nostalgia sejarah. Kemuliaan umat hanya akan kembali ketika Al-Qur’an kembali memimpin kehidupan. Bukan sekadar dibaca, tetapi dijadikan sistem hidup dan dasar peradaban.
Hikmah
Rasulullah ﷺ bersabda:
يُؤْتَى بِالْقُرْآنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَهْلِهِ الَّذِينَ كَانُوا يَعْمَلُونَ بِهِ
Pada Hari Kiamat nanti didatangkan Al-Qur’an dan keluarganya, yakni mereka yang mengamalkannya.
(HR Muslim)
Wallahu a’lam bi ash-shawab.
