Palestina, Jalani Ramadan dalam Getir Perjuangan

Oleh: Anisa Rahmi Tania
LensaMediaNews.com, Opini_ Saat di sini kaum muslim dapat sahur dengan nikmat, menjalankan puasa dengan tenang, salat tarawih dengan khusyuk, muslim di Palestina tidak begitu. Makan dan tidur bukan lagi hal yang dapat mereka nikmati. Mereka melewatkan setiap hari dengan kegetiran. Melewatkan setiap waktu makan dengan kelaparan. Hanya iman yang menjadi penguat mereka untuk terus melanjutkan hidup.
Agresi Keji Tanpa Henti
Lebih dahsyat dari perjuangan sebelumnya, warga Palestina harus menghadapi senjata mutakhir Zionis. Laporan investigasi Al Jazeera mengonfirmasi sebanyak 2.842 warga Palestina hilang sejak agresi Oktober 2023 lalu. Hilangnya warga tersebut karena serangan bom termal dan termobarik. Senjata ini dapat melenyapkan sasarannya hilang tanpa jejak, seolah menguap.
Sungguh upaya Zionis yang ingin melenyapkan warga Palestina hingga tak tersisa telah berada pada puncaknya. Tidak ada perikemanusiaan yang mengusik hati mereka, saat melihat sosok manusia dihancurleburkan hingga tak bersisa. Saat tank dan senjata tidak mampu melawan mental pejuang para mujahidin, kini mereka tak segan menggunakan senjata pemusnah massal.
Kekejian Zionis tidak berhenti. Saat warga Palestina tengah melaksanakan ibadah puasa pun, serangan terus terjadi. Sebagaimana terjadi pada hari Senin (23/2/2026), satu masjid di Tepi Barat dirusak dan dibakar oleh para pemukim Israel. Mereka pun menulis grafiti slogan rasis di dinding-dinding Masjid Abu Bakr as-Siddiq. Para jemaah terkejut saat hendak menjalankan ibadah sholat, mereka mendapati masjid telah rusak dan api membara, mengeluarkan kepulan asap hitam (sindonews.com, 24/02/2026).
Pengkhianatan Memperpanjang Penderitaan
Segala macam senjata dan cara tampaknya terus dilakukan Zionis. Akan tetapi, Palestina tetap teguh. Upaya ini memperlihatkan dengan jelas, betapa kekuatan mental pejuang Palestina telah mengalahkan senjata-senjata Zionis. Puluhan tahun lamanya mereka hidup dalam perang, membuat iman dan mental muslim Palestina semakin kokoh. Bukan hanya para pemuda dan pasukan mujahidinnya, tetapi para perempuan dan anak-anaknya.
Kekuatan iman mereka mengakar dalam. Membuat mereka bisa tegar tetap berdiri di tanah yang diberkahi. Meskipun bom senantiasa menghantui, kelaparan harus mereka jalani, dan kehilangan menjadi biasa untuk mereka hadapi.
Di tengah kengerian atas bom termal dan termobarik tersebut, sekutu Zionis, AS, lagi-lagi merangkul dengan erat beberapa negara muslim. Mereka duduk bersama dengan bermanis muka dan membuat kesepakatan. Dengan nama manis Board of Peace. Bukan untuk mewujudkan kedamaian di Palestina, tetapi untuk mengokohkan kerjasama dan perekonomian mereka.
Sungguh tindakan ini adalah langkah pengkhianatan pada Palestina. Perdamaian Palestina seakan dijadikan sebagai tujuan, namun nyatanya mereka tidak peduli atas nasib warga Palestina. Para penguasa itu hanya tunduk pada sang agresor yang mengajukan diri sebagai Bapak Dewan Perdamaian.
Bagaimana seorang yang telah lama membela habis-habisan Zionis dengan pasokan senjatanya, menjadi ketua dewan perdamaian. Lantas para penguasa muslim yang memimpin rakyat dengan mayoritas muslim, hadir berjabat tangan, lantas sepakat bergabung dengannya. Hal ini jelas di luar akal sehat.
Langkah ini tidak lebih dari sebuah pengkhianatan terhadap Palestina. Langkah ini pula yang telah membuat penderitaan rakyat Palestina semakin panjang. Sekaligus memperpanjang serangan-serangan yang harus dihadapi setiap harinya.
Terapkan Islam Kaffah, Solusi Hakiki
Fakta yang terjadi antara penjajah dan penguasa muslim telah menampakkan buruknya sistem saat ini. Dunia Islam yang telah lama dicengkram sistem kapitalisme-sekuler telah membentuk para penguasa tak berhati. Perhitungan mereka hanyalah untung rugi bagi dirinya dan kelompoknya. Tidak lebih dari itu.
Oleh karena itu, persoalan Palestina bukan sebatas pada penjajahan Zionis dan pengkhianatan para penguasa. Permasalahan ini juga terkait dengan sistem kehidupan yang diterapkan.
Sekularisme yang menjadi asas dari kapitalisme telah membentuk benak manusia hanya berpikir pada aspek materi. Tidak ada standar yang diterapkan secara tegas untuk menghukumi mana yang benar dan salah. Dalam sistem ini, aturan dibuat oleh manusia itu sendiri sesuai dengan kepentingan para pembuat aturan. Tidak heran jika banyak aturan yang melanggar hukum syariat. Seperti kerja sama penguasa muslim dengan kafir penjajah, dan lain-lain.
Dalam hal ini, kembali menerapkan sistem Islam sebagai ideologi adalah solusi hakiki. Solusi satu-satunya untuk keselamatan Palestina. Termasuk keselamatan seluruh kaum muslim. Sistem Islam mengatur para penguasa sebagai pengurus dan pelayan rakyatnya. Diangkatnya para penguasa sekaligus untuk menerapkan aturan Allah SWT.
Maka, haram melakukan kerjasama dengan negara yang menyerang kaum muslim. Sebaliknya, menjadi kewajiban penguasa untuk membela dan melindungi darah kaum muslim, dengan segala daya upaya yang bisa diakukan.
Wallahu’alam
