Ramadan Datang, Beban atau Jalan Pulang Menuju Kemuliaan?

Oleh Nadisah Khairiyah
LensaMediaNews.com, Tsaqofah Aqliyah_ Allah ﷻ berfirman:
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami limpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi…”
(TQS. Al-A’raf: 96)
Ayat ini adalah janji. Janji ini bukan hanya untuk masa lalu. Bukan pula untuk sebuah negeri yang jauh. Ia berlaku untuk siapa pun yang hari ini merindukan hidup yang lebih tenang, lebih cukup, lebih bermakna. Dan janji tentang kebahagiaan yang tidak rapuh oleh keadaan.
Namun jujur saja, tidak semua orang menyambut Ramadan dengan gembira.
Ada yang merasa bulan ini berat.
Ada yang lelah duluan membayangkan lapar dan dahaga. Ada yang diam-diam merasa ini hanya rutinitas tahunan yang melelahkan.
Dan tidak apa-apa jika hatimu belum sepenuhnya bergetar. Bisa jadi yang membuatmu lelah bukan Ramadannya,
tetapi kehidupan yang terlalu lama terasa kering dari keberkahan. Kita mengejar banyak hal, harta, karier, pengakuan, namun hati tetap gelisah. Kita sibuk, tetapi tidak tenang. Kita memiliki, tetapi tidak merasa cukup. Padahal Allah sudah menunjukkan jalan keberkahan itu: iman dan takwa. Dan Ramadan adalah madrasahnya.
Allah mewajibkan puasa agar kita bertakwa (QS. Al-Baqarah: 183). Takwa adalah kesadaran utuh bahwa hidup ini berada dalam aturan dan kasih sayang Allah. Ia menjaga langkah, menenangkan jiwa, meluruskan arah. Takwa membuat seseorang tidak mudah goyah oleh tekanan dunia, karena ia tahu siapa Rabb-nya dan untuk apa ia hidup.
Rasulullah ﷺ menjelaskan dalam hadis riwayat Al-Bukhari bahwa puasa Ramadan adalah salah satu fondasi tegaknya Islam. Ia bukan ibadah tambahan. Ia penopang bangunan keimanan. Tanpanya, jiwa mudah runtuh oleh syahwat dan arus kehidupan.
Ramadan juga bulan ampunan. Dalam hadis riwayat Muslim ibn al-Hajjaj disebutkan bahwa Ramadan ke Ramadan menjadi penghapus dosa selama dosa besar dijauhi. Setiap hari di bulan itu ada hamba yang dibebaskan dari api neraka (HR Ahmad ibn Hanbal). Pintu-pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup (HR An-Nasa’i).
Ini kabar gembira. Puasa melatih kita menahan diri dari yang halal agar kita kuat meninggalkan yang haram. Ia mengajari bahwa bahagia bukan pada banyaknya yang kita konsumsi, tetapi pada dekatnya hubungan dengan Allah. Lapar menjadi latihan pengendalian. Dahaga menjadi saksi cinta.
Dari sinilah lahir kemuliaan: takwa. Allah menegaskan bahwa yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa (QS. Al-Hujurat: 13). Kemuliaan bukan pada jabatan atau harta, tetapi pada kualitas ketaatan. Namun takwa yang terus tumbuh tidak mungkin berhenti pada diri sendiri. Ia ingin menata keluarga. Ia ingin memperbaiki masyarakat. Ia ingin kehidupan berjalan sesuai aturan Allah, bukan sekadar keinginan manusia.
Sebab keberkahan yang dijanjikan dalam QS. Al-A’raf: 96 bukan hanya untuk individu, tetapi untuk “penduduk negeri-negeri.” Artinya, ketika iman dan takwa menghidupkan pribadi-pribadi, lalu syari’ah Allah menjadi pedoman kehidupan bersama, maka keberkahan turun: keadilan dalam hukum, kesejahteraan yang merata, dan kehidupan sosial yang bermartabat.
Inilah rahasianya:
Mulia dengan takwa. Berkah dengan syari’ah. Ramadan bukan sekadar ibadah personal. Ia titik awal perbaikan diri sekaligus fondasi perubahan masyarakat. Ia melatih hati agar tunduk kepada Allah, agar siap hidup di bawah aturan-Nya dalam seluruh aspek kehidupan.
Maka jika ada yang merasa Ramadan adalah beban, mungkin yang terasa berat bukan puasanya melainkan hati yang belum menemukan arah pulang. Ramadan bukan untuk memberatkan. Ia datang sebagai jalan pulang. Pulang menuju kemuliaan. Pulang menuju keberkahan. Pulang menuju kebahagiaan yang Allah sendiri janjikan.
Karena Allah telah berjanji.
Dan janji-Nya tidak pernah dusta: iman dan takwa menghadirkan keberkahan dari langit dan bumi. Marhaban ya Ramadan. Semoga kali ini kita tidak sekadar melewatinya tetapi benar-benar memasuki pintu yang Allah buka untuk kita.
و الله اعلم بالصواب
