Gelombang PHK Massal Belum Usai, Buruknya Kapitalisme

Oleh Dinar Rizki Alfianisa
LenSa MediaNews.Com, Fenomena tutupnya pabrik dan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal di berbagai daerah di Indonesia belum usai. Sejumlah pabrik melakukan PHK terhadap karyawannya dengan tujuan efisiensi.
Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament (APSyFI) mencatat, total ada 60 pabrik yang telah melakukan PHK massal, bahkan berhenti total dalam rentan waktu 2022-2024. Setidaknya, dari angka itu, ada lebih dari 30 pabrik yang dikonfirmasi telah tutup atau berhenti produksi secara total.
Baru-baru ini Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) Ristadi mengungkapkan ada tiga perusahaan yang dikabarkan bersiap melakukan PHK massal. Salah satu pabrik sepatu yang ada di daerah Kabupaten Tangerang akan melakukan PHK 2.400 pekerjanya. Sedangkan 2 pabrik lain di Kabupaten Bandung dan Subang tidak hanya melakukan PHK namun juga akan tutup.
Semetara itu Kepala BKF Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengungkapkan, tahun 2024 jumlah PHK di sektor tekstil mencapai 90.000 orang dan dari sektor pakaian atau produk tekstil mencapai 20.000. Dengan demikian totalnya mencapai 110.000 korban PHK (cnbcindonesia.com, 08-01-2024).
Kapitalisme Biang Masalah
Gelombang PHK massal ini masih terjadi dan akan terus terjadi karena sistem ekonomi yang diterapkan hari ini adalah sistem ekonomi kapitalisme. Hal ini dapat kita lihat dari cara pandang dan kebijakannya.
Pertama, keran impor yang terbuka lebar sehingga perusahaan tidak mampu bersaing dengan produk-produk impor yang harganya jauh lebih murah. Minimnya keterlibatan negara dalam kegiatan ekonomi ini menjadikan mudahnya para kapital menguasai pasar. Bebasnya barang-barang impor masuk ke dalam negeri juga akibat dari liberalisme ekonomi.
Kedua, cara pandang sistem ekonomi kapitalisme yang mengedepankan pertumbuhan kuantitas. Kapitalisme memandang bahwa kebutuhan manusia itu tidak terbatas, maka untuk memenuhinya haruslah melakukan produksi sebanyak-banyaknya dan terus-menerus. Hal ini tentu merupakan pandangan yang salah dan berbahaya karena hanya fokus pada produksi tanpa mempertimbangkan faktor pemerataan atau distribusi.
Ketiga, tidak adanya keberpihakan dan tanggungjawab korporasi terhadap para pekerja. Hubungan yang ada diantara keduanya adalah saling mengeksploitasi. Pekerja hanya dianggap sebagai salah satu faktor produksi. Untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya maka biaya produksi harus serendah-rendahnya. Tidak heran upah para pekerja hari ini tidak sebanding dengan manfaat dan pengorbanan yang dia berikan.
Keempat, krisis global yang terjadi berulang. Bukan hal yang aneh dan seringkali kita mengalami krisis tahunan, krisis 5 tahunan dan 10 tahunan pada ekonomi global. Hal ini menyebabkan harga-harga barang naik dan daya beli masyarakat menurun. Tentu saja hal ini berdampak lain pada kehidupan masyarakat seperti meningkatnya tindak kriminalitas hanya karena urusan perut.
Dari sini kita dapat melihat bahwa sebenarnya sistem ekonomi kapitalisme bukan menjadi solusi atas permasalahan yang ada tapi justru malah memunculkan masalah baru.
Kebutuhan akan Sistem Islam
Islam adalah agama sekaligus sistem kehidupan. Tidak ada masalah dalam kehidupan ini selain Islam punya aturan dan solusinya. Kehidupan ekonomi dalam Islam adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia baik itu proses produksi, konsumsi dan distribusi. Islam memandang bahwa kebutuhan manusia itu terbatas yang tidak terbatas adalah keinginannya. Hal ini sangat jauh berbeda dengan pandangan kapitalisme. Sehingga problem utamanya bukanlah faktor produksi melainkan faktor distribusi bagaimana pemerataan itu bisa dihadirkan.
Di sisi lain, hubungan antara pekerja dan pemberi pekerja adalah hubungan kemanusiaan dan persahabatan dalam bisnis. Keduanya adalah pihak-pihak yang saling membutuhkan dan terikat akad sesuai syariat Islam tanpa mendzolimi salah satu pihak. Pekerja akan mendapatkan upah sesuai kesepakatan bersama . Sedangkan pemberi kerja tidak akan dengan mudah mem-PHK karyawannya karena faktor kemanusiaan tadi.
Dengan penerapan sistem ekonomi Islam juga, krisis global berulang seperti yang hari ini terjadi, tidak akan terjadi. Salah satunya karena masyarakat Islam memiliki mindset bahwa rezeki adalah hal yang akan Allah berikan pada seluruh makhluk yang bernyawa. Selama masih hidup maka rezeki itu akan tetap ada. Dengan pandangan seperti ini, setiap individu tidak akan memiliki ambisi yang berlebihan dalam mencari rezeki sampai menghalalkan segala cara. Perusahaan juga tidak akan memproduksi barang secara berlebihan sehingga terjadi penumpukkan barang yang berakhir kerugian dan kemubadziran.
Maka dari sini seharusnya kita menyadari akan kebutuhan diterapkannya sistem ekonomi Islam. Sistem ekonomi Islam sendiri tidak akan terwujud tanpa adanya khilafah Islamiyyah sebagai sistem pemerintahan.Wallahualam. [LM/ry].
