Literasi Kurang, Mempengaruhi Daya Kritis?

Literasi

Oleh. Ferrina Mustika Dewi

 

 

LensaMediaNews.com, Rubrik Remaja_ Siapa yang masih suka membaca ? Novel, koran, komik, atau majalah, baik bentuk fisik atau digitalnya? Kalau di antara kamu masih ada  yang suka membaca, beruntung lah. Tahu enggak, sih, kabarnya minat membaca di kalangan remaja seperti kita ini cenderung menurun, lho.

 

Kurangnya Minat Baca

Kira-kira, kenapa ya, minat membaca generasi muda sekarang kurang? Salah satu faktornya adalah karena kemajuan teknologi yang pesat dan kian masif. Teknologi digital membuat semakin menjamurnya berbagai macam video, game, tontonan streaming video yang juga melimpah. Semua itu menawarkan kepuasan langsung secara instan dibandingkan proses membaca yang memerlukan waktu dan konsentrasi.

 

Lingkungan keluarga dan sosial juga punya peran penting dalam pembentukan minat baca remaja. Kurangnya dukungan serta dorongan dari orang tua untuk mengajak anaknya membaca. Belum lagi minimnya kegiatan literasi di sekolah dan komunitas. Makin menjauhkan kita sebagai remaja dari kebiasaan membaca ini (www.bola.com, 19/06/2024).

 

UNESCO sebagai Organisasi yang fokus pada pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya, menyebutkan indeks minat baca masyarakat Indonesia hanya di angka 0,001% atau perbandingan dari 1 orang dari 1000 orang Indonesia yang rajin membaca. Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi) dalam website resminya juga merilis hasil Riset dari World’s Most Literate Nations Ranked yang diselenggarakan oleh Central Connecticut State University pada Maret di tahun 2016, Indonesia menduduki peringkat kedua dari bawah pada total 61 negara dalam peringkat minat membaca  (www.rri.co.id, 23/04/2024).

 

Kurang Minat Baca Berarti Kurang Kritis ?

Kurangnya minat baca remaja Indonesia menunjukkan betapa tingkat pengetahuan rendah dan daya kritis  terhadap suatu peristiwa juga jadi menurun. Apalagi di era sekarang, banyak warga Indonesia dengan mudahnya menyebar hoax atau informasi menyesatkan, akibat dari kurangnya membaca.

 

Hal tersebut terjadi karena tidak adanya kemampuan untuk menganalisa peristiwa dan memberi pandangan dari sudut pandang yang khusus. Bahkan, remaja seperti kita ‘kan pengguna aktif dunia sosial media. Kalau mau konten dan komentar kita berfaedah, harus diubah pemikiran kita dalam berselancar di dunia maya, biar enggak terkesan asal bunyi.

 

Maka penting banget untuk menumbuhkan kembali minat baca generasi remaja. Kenapa? Karena daya nalar dan kritis ditentukan dengan rajinnya kita membaca buku. Budaya membaca bukan hanya sekadar anjuran yang banyak manfaatnya, tapi harus dijadikan aktivitas yang bisa meningkatkan daya kritis kita. (www.muslimah.net, 17/02/2023)

 

Meneladani Ulama dalam Membaca

Sejarah peradaban Islam telah mencatat membaca dan menulis tumbuh menjadi bagian dari keilmuan Islam. Dalam Al-Qur’an dan hadis Rasulullah terdapat perintah bagi umat Islam untuk membaca dan mencari ilmu. Jadi membaca bukan hanya melihat tulisan saja, tapi kegiatan menganalisa dan memberi pandangan atau pendapat kita untuk bisa memperoleh pesan yang disampaikan dalam sebuah buku.

 

Fakta lainnya, perpustakaan Islam menjadi perhatian utama dari para khalifah. Karena umat Islam pada masa kekhalifahan Islam, ilmu ditempatkan sebagai harta yang amat penting. Makanya, perpustakaan umat Islam saat itu sangat besar dan terbaik di dunia. Ada perpustakaan Baghdad, Kardoova, Isybiliah, Gharnathah, Kairo, Damaskus, Tarabulus, Madinah, dan Al-Quds.  Keren !

 

Oleh karena itu, membaca dan menulis jadi aktivitas yang melekat pada diri umat Islam. Selain mampu menyebarkan ilmu agama dan pengetahuan, dari aktivitas membaca, para ulama saat itu dapat menulis berbagai kitab yang sekarang menjadi warisan untuk generasi muda muslim. Allah telah memerintahkan kita untuk membaca yaitu :
Bacalah dan Rabb-mulah yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan manusia dengan pena. Dia-lah yang mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya(Qs. Al-Alaq – 1-5)

 

Beda banget dengan kondisi sekarang. Kita punya sedikit ilmu, tapi mudah sekali mengeluarkan pendapat. Media sosial pun memfasilitasi munculnya pendapat-pendapat yang tidak berdasar pada ilmu.

 

Sekarang, kita intropeksi diri sebagai bagian dari kaum muslim. Tingkatkan lagi budaya membaca, lalu ikatlah ilmu dengan menulisnya. Berusaha melatih diri untuk bisa menyampaikan pendapat dari ilmu yang sudah kita baca dan pelajari. Agar pendapat kita tidak asal bunyi, harus diperkuat dengan memahami fakta dan mengeluarkan sudut pandang khas sebagai seorang muslim yang sesuai syariat Islam. Kita juga harus mengkaji Islam kaffah sebagai bekal utama dalam menghadirkan pendapat Islam agar sesuai syariat pada setiap peristiwa yang muncul dalam kehidupan kita.
Wallahua’lam bishshawab.[]