Hanya Pendidikan Karakter,  Brain Rot Teratasi?

Brainrot-LenSaMediaNews

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Institut Literasi dan Peradaban

 

LenSaMediaNews.Com–Media sosial pada akhirnya memunculkan simalakama, dihindari tidak bisa karena hampir semua yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan manusia baik primer atau sekunder selalu mebutuhkan teknologi digital.

 

Namun di sisi lain, ternyata juga membawa dampak negatif. Media sosial sebagai salah satu produk digital, menjadikan  anak-anak dan remaja menyerap nilai-nilai dari konten digital, tanpa filter yang memadai, serta bimbingan yang cukup untuk membedakan mana informasi baik dan tidak baik.

 

Algoritma media sosial dirancang untuk meningkatkan engagement, sayangnya sering kali mempromosikan konten sensasional dan kontroversial untuk lebih menarik perhatian pengguna.  Paparan konten negatif yang terus-menerus dapat “menormalkan” perilaku buruk, mengikis empati, dan membentuk pola pikir yang menyimpang dari nilai-nilai luhur bangsa.

 

Muncullah fenomena brain rot (pembusukan otak), yaitu penurunan kualitas kemampuan kognitif, konsentrasi, dan daya pikir kritis seseorang akibat terlalu banyak mengonsumsi konten pendek, dangkal, dan tidak berkualitas. Ini memunculkan juga solusi mendesak yaitu pendidikan karakter sebagai sebagai fondasi kuat agar generasi muda tidak kehilangan jati diri.

 

Kominfo Jawa Timur dan Universitas Brawijaya Malang menginisiasi ” Cerdas Digital (CERDIG)” . Yaitu program yang fokus mengajarkan etika digital dan tanggung jawab saat bermedia sosial, terutama untuk pelajar dan masyarakat di daerah pesisir.

 

Beberapa sekolah di Jawa Timur mulai bergerak konkret dan bisa menjadi inspirasi nasional. SMP Negeri 1 Lamongan menjadi pelopor dengan menerapkan pendekatan sains, teknologi, teknik, seni, dan matematika (STEAM)). Kemudian  di Sidoarjo, sebanyak 2.764 mahasiswa calon guru dari Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya mengikuti orientasi khusus tentang pendidikan karakter di era digital. Mereka diajarkan pentingnya moralitas dan empati dalam pembelajaran yang berbasis teknologi.

 

Racun Kapitalisme Dirancang Hancurkan Generasi

 

Jika yang dimaksud pendidikan karakter hanya sebatas mengajarkan etika digital, moralitas dan empati serta tanggungjawab lantas dimana sisi solusi mendesaknya?

 

Padahal dampak sudah sangat mengerikan, banyak remaja yang tak lagi bisa membedakan dunia nyata atau ilusi ( lonwly in the Crowd), terjebak judol pinjol, tak segan praktik prostitusi online offline demi gaya hidup konsumtif dan hedonis, tak beradab, mudah depresi hingga self harm, insecure hingga bunuh diri. Angka kasusnya fantantis, maka apalagi yang ditunggu?

 

Fenomen Brain rot memang akibat yang diseting sekaligus diinginkan oleh kafir barat. Media sosial tanpa aturan dan batasan syariah telah menjadi racun idiologis Kapitalisme sekuler. Pemisahan agama dari kehidupan yang termanifestasikan di berbagai konten media sosial yang memang nirmanfaat bahkan jelas-jelas mengguncang akidah. Begini masih bersikeras bahas pembangunan karakter?

 

Jika benar demikian, maka bersiaplah kita hancur, kita sedang bicara sistem dan bukan sekadar penyuluhan program. Bukan rahasia, karakter Kapitalisme akan terus memasarkan produk apapun termasuk gaya hidup untuk mematikan daya pikir sekaligus daya juang generasi muslim. Tanpa memedulikan dampak negatifnya, ibarat membunuh generasi tapi tanpa senjata.

 

Kafir sadar betul, untuk mengenyahkan Islam dari muka bumi tidak harus menggunakan senjata canggih nan mutakhir, tapi cukup rusak perempuan, pemudanya dan agamanya. Buatlah kaum muslim meragukan agamanya sendiri dengan terus menerus menyebarkan opini kebebasan tanpa batas ,nafsu manusia menjadi tuannya. Allah swt. yang menetapkan halal haram malah dijadikan bulan-bulanan hingga Islam terpecah menjadi istilah Islam biasa, Islam modern dan Islam terorisme ( mereka yang konsisten amal makruf nahi mungkar).

 

Tak Ada Brain Rot dalam Islam

 

Solusi terbaik adalah terapkan syariat Islam. Sebab hanya syariat Islam yang mewajibkan peran negara 100 persen untuk mengatasi brain rot yakni dengan memblokir segala konten sampah dan melarang pembuatannya.  Bahkan hingga memberikan sanksi hukum yang tegas dan adil jika masih ada pelanggaran.

 

Negara juga bertanggung jawab menanamkan akidah Islam, membentuk pola pikir, dan pola sikap Islam dalam diri warga negaranya sehingga setiap individu mampu secara optimis menentukan tujuan dan arah hidupnya, dengan standar Islam.

 

Negara pantang abai, Rasul mendoakan para pemimpin yang berlaku pengecut bahkan khianat kepada rakyatnya, ” Tidaklah seorang manusia yang diamanati Allah Swt. untuk mengurus urusan rakyat lalu mati dalam keadaan ia menipu rakyatnya, melainkan Allah mengharamkan surga baginya.” (HR Bukhari). Wallahualam bissawab. [LM/ry].