RemajaPeduli-LenSaMediaNews

Oleh: Saripah

Aktivis Muslimah

 

LenSaMediaNews.Com–Sebagai remaja tidak boleh memandang bencana alam sekadar berita yang lewat di layar ponsel. Banjir bandang, longsor, dan kebakaran hutan sering kali hanya menjadi headline yang dibaca sekilas, lalu dilupakan. Padahal, di balik berita itu ada penderitaan nyata: rumah hanyut, keluarga kehilangan tempat tinggal, anak-anak terpaksa mengungsi, dan kehidupan yang porak-poranda.

 

Data BNPB mencatat, bencana banjir dan longsor besar di Sumatra pada akhir 2025 saja telah menelan ratusan korban jiwa dan memaksa ratusan ribu hingga jutaan warga mengungsi (The Guardian.com, 2-12-2025). Mereka yang terdampak bukan orang asing, melainkan saudara seiman, sesama umat, dan satu bangsa.

 

Remaja kerap merasa tidak terlibat karena bencana tidak terjadi di sekitar tempat tinggalnya. Beranggapan bahwa karena tidak menebang pohon atau tidak tinggal di daerah rawan, maka bencana bukan tanggung jawab pribadi. Padahal, bumi adalah satu sistem yang saling terhubung. Kerusakan di satu wilayah akan berdampak ke wilayah lain. Sikap merasa aman dan cuek justru menjadi masalah besar karena membuat manusia lalai terhadap tanggung jawab bersama.

 

Dalam pandangan Islam, bencana bukan hanya peristiwa alamiah, tetapi juga peringatan dari Allah agar manusia lebih peka terhadap tanda-tanda-Nya. Banyak bencana yang disebut “bencana alam” sejatinya merupakan akibat dari perbuatan manusia sendiri. Penebangan hutan secara liar, penyempitan sungai, pembuangan sampah sembarangan, eksploitasi bukit dan lahan, serta pembakaran hutan yang dianggap biasa, semuanya berkontribusi terhadap rusaknya keseimbangan alam. Alam seolah “tidak kuat lagi” menahan ulah manusia, hingga akhirnya menimbulkan bencana.

 

Contoh paling dekat adalah banjir. Hujan deras merupakan hal yang wajar, tetapi ketika hutan di hulu gundul, sungai dipersempit, dan saluran air dipenuhi sampah, air kehilangan jalurnya dan meluap. Hal-hal kecil seperti membuang sampah plastik sembarangan atau membiarkan got tersumbat ternyata memiliki dampak besar bagi orang lain di tempat yang jauh. Begitu pula dengan longsor yang dipicu oleh penggundulan bukit dan pembangunan yang memaksa alam berubah, serta kebakaran hutan yang sering berawal dari kelalaian kecil namun berujung pada penderitaan banyak orang.

 

Al-Quran telah mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi karena perbuatan tangan manusia (QS. Ar Rum:41). Ayat ini ditujukan bukan hanya kepada pejabat atau pengusaha besar, tetapi juga kepada setiap individu, termasuk remaja. Setiap sikap dan pilihan sehari-hari menjadi bagian dari tanggung jawab tersebut, memilih peduli atau memilih cuek.

 

Remaja muslim memiliki amanah besar. Meskipun belum memiliki kekuasaan untuk membuat kebijakan atau menghentikan perusakan lingkungan secara langsung, remaja memiliki peran penting dalam membangun kesadaran. Islam memandang alam sebagai bagian dari ibadah, bukan sekadar objek eksploitasi. Menanam pohon dinilai sebagai sedekah yang pahalanya terus mengalir, merusak alam dilarang, bahkan dalam kondisi perang pun Rasulullah melarang penebangan pohon sembarangan. Hal ini menunjukkan betapa tingginya nilai menjaga lingkungan dalam Islam.

 

Peran remaja dapat dimulai dari tindakan-tindakan sederhana namun bermakna, seperti tidak membuang sampah ke sungai, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mendukung dan mengikuti kegiatan lingkungan di sekolah, ikut aksi bersih sungai atau penanaman pohon, serta memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan edukasi lingkungan. Remaja juga bisa mengajak adik-adik dan teman sebaya untuk memahami bahwa bumi bukan sesuatu yang boleh diperlakukan seenaknya. Selain itu, mendoakan para korban bencana juga merupakan bentuk kepedulian yang bernilai ibadah.

 

Peduli lingkungan bukan tren gaya hidup semata, atau upaya pencitraan agar terlihat keren. Kepedulian terhadap alam adalah bagian dari akhlak dan iman seorang muslim. Kerusakan lingkungan sering kali berawal dari rusaknya sikap manusia, termasuk pembiaran terhadap kesalahan dan maksiat yang dianggap wajar. Al-Quran mengingatkan bahwa azab dapat menimpa bukan hanya pelaku kezaliman, tetapi juga mereka yang memilih diam dan tidak peduli.

 

Sebagai remaja kita jangan menunda kepedulian hingga dewasa. Masa remaja adalah waktu terbaik untuk menumbuhkan kepekaan, tanggung jawab sosial, dan kesadaran ekologis. Remaja yang peduli hari ini adalah harapan bagi masa depan, karena iman sejati tidak hanya tercermin dalam ibadah pribadi, tetapi juga dalam sikap menjaga bumi, sesama manusia, dan amanah yang Allah titipkan. Wallahualam bissawab. [LM/ry].