Hustle Culture Bukti Gagalnya Sistem

hustle culture bukti gagal sistem

Lensamedianews.com, Surat Pembaca — Fenomena hustle culture semakin meluas di kalangan generasi muda. Budaya yang mendorong kerja tanpa henti ini sering dipromosikan sebagai jalan cepat menuju kesuksesan. Padahal, berbagai kajian menunjukkan bahwa pola hidup serba cepat dan kompetitif justru membawa dampak serius bagi kesehatan mental maupun fisik. Realitas ini bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan tanda bahwa arah pembangunan hari ini keliru karena manusia dinilai hanya dari produktivitas materi.

Riset psikolog Indrayanti dari Universitas Gadjah Mada mengungkap bahwa media sosial memicu kebiasaan membandingkan diri secara terus-menerus. Generasi muda merasa harus selalu terlihat sibuk agar dianggap berhasil. Negara semestinya membaca fenomena ini sebagai peringatan bahwa sistem yang berjalan telah melahirkan tekanan sosial berlebihan dan perlahan mengikis keseimbangan hidup masyarakat.

Pemberitaan ANTARA (11-9-2025) juga menyoroti meningkatnya kelelahan mental akibat budaya kerja ekstrem. Fakta ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekadar individu yang gagal mengatur waktu, melainkan sistem ekonomi yang menjadikan keuntungan sebagai tujuan utama. Akibatnya, banyak anak muda bekerja demi validasi sosial, bukan karena kesadaran ibadah ataupun tanggung jawab hakiki sebagai manusia.

Akar persoalan ini berkaitan erat dengan kapitalisme demokrasi yang menempatkan manfaat materi sebagai ukuran keberhasilan. Ketika pencapaian hanya diukur dari angka dan prestasi duniawi, manusia kehilangan arah hidup yang sejati. Generasi muda pun terjebak dalam lingkaran kerja tanpa makna, bahkan merasa bersalah saat beristirahat, seolah nilai diri mereka ditentukan oleh seberapa sibuk mereka setiap hari.

Solusi mendasar tentu tidak cukup dengan kampanye work-life balance yang bersifat parsial. Negara perlu kembali pada penerapan syariah secara kaffah sebagai sistem yang mengatur ritme kehidupan secara adil. Syariah menempatkan kerja sebagai bagian dari ibadah, tetapi tetap menjaga batas kemanusiaan dan keseimbangan ruhiah. Dalam sistem Khilafah, pemimpin bertugas memastikan kesejahteraan lahir dan batin rakyat, bukan sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi semata.

Hustle culture pada akhirnya menjadi bukti bahwa sistem sekuler gagal menghadirkan ketenangan. Jika negara berani mengubah arah menuju aturan Islam, generasi muda tidak lagi dipaksa mengejar standar semu. Mereka akan tumbuh produktif sekaligus tenang karena hidup diarahkan oleh wahyu, bukan tekanan sosial. Janji Allah pun nyata: siapa yang menolong agama-Nya, pertolongan itu akan kembali sebagai kehidupan yang lebih berkah dan seimbang.

Wallahu a’lam bi ash-shawab. [LM/Ah]

Isnawati
Muslimah Penulis Peradaban