NCAG Cara Penjajah Menghabisi Gaza

Oleh : Nurjannah S
LenSaMediaNews.com–Gedung Putih dalam pernyataan resminya menyebutkan bahwa NCAG (National Committee for the Administration of Gaza atau Komite Nasional untuk Administrasi Gaza) dibentuk sebagai bagian dari implementasi tahap kedua dari Rencana Komprehensif untuk mengakhiri konflik di Gaza. Lembaga ini direncanakan berfungsi sebagai pemerintahan sementara yang akan mengelola Gaza setelah fase kedua gencatan senjata di wilayah tersebut diberlakukan.
Komposisi anggota NCAG sendiri telah diumumkan pada 14 Januari, dengan Ali Shaath dipercaya memimpin komite tersebut sebagai ketua. Komite ini diklaim untuk membantu dan mengurus rakyat Palestina sehari-hari mulai dari bidang ekonomi, pertanian, kesehatan, perumahan, kehakiman, hingga keamanan internal (CNNindonesia.com, 20-02-2026).
NCAG dan BoP (Board of Peace) adalah dua komponen utama dalam rencana transisi perdamaian dan rekonstruksi di Gaza pasca genosida. BoP sebagai Pengarah/Dewan Tertinggi yang dipimpin oleh Trump. NCAG sebagai Pelaksana Teknis atau badan teknokratis yang beroperasi di bawah mandat BoP.
Logika yang Salah
Setelah perang yang panjang di Palestina kini penjajah ingin menjadi pahlawan. Padahal penderita Palestina hakikatnya karena keberadaan para penjajah ini khususnya AS dan Israel. Kejahatan dan genosida yang dilancarkan Israel tidak lain memang bagian dari perintah dan persetujuan AS.
Jika kita teliti pembentukan komite administrasi baru di Gaza bukanlah solusi, tetapi justru bagian dari strategi politik yang lebih besar. Tanpa penghentian genosida dan tanpa mengakhiri blokade serta intervensi politik, berbagai rencana administratif justru hakikatnya menjadi cara lain menghancurkan Gaza.
Bantuan sejati kepada Gaza cukup dengan menghentikan serangan dan meninggalkan wilayah tersebut, maka rakyat Gaza dapat kembali menjalani kehidupan mereka secara normal. Mereka berhak menghirup udara kebebasan tanpa bayang-bayang kematian, tanpa suara bom, dan tanpa tekanan politik dari kekuatan luar.
Justru pembentukan pemerintahan administrasi yang diarahkan dari luar menimbulkan pertanyaan besar tentang tujuan sebenarnya. Langkah tersebut dapat dipahami sebagai upaya untuk tetap mengendalikan Gaza secara politik dan administratif, meskipun dengan bentuk yang berbeda dari pendudukan militer langsung.
Kondisi ini dapat diibaratkan seperti seseorang yang datang ke sebuah rumah yang sudah memiliki pemilik dan anggota keluarga di dalamnya. Alih-alih menghormati pemilik rumah tersebut, orang luar itu justru masuk dan mulai mengatur segala sesuatu di dalam rumah: menentukan aturan, mengatur aktivitas penghuni, bahkan memutuskan bagaimana rumah itu harus dijalankan. Tindakan seperti ini tentu bukan bentuk bantuan, melainkan perampasan hak.
Para penguasa negeri-negeri muslim rela membiarkan genosida, mereka takut mengirimkan tentara karena takut terhadap tekanan negara adidaya. Kekhawatiran terhadap sanksi politik, tekanan ekonomi, atau bahkan ancaman terhadap kekuasaannya. Dalam sejarah politik internasional, tidak sedikit contoh pemimpin yang digulingkan atau ditekan ketika dianggap tidak sejalan dengan kepentingan kekuatan AS.
Persatuan Umat Solusi Gaza
Di tengah berbagai dinamika politik internasional, umat Islam perlu menyadari bahwa mereka pada hakikatnya adalah satu kesatuan. Islam tidak memandang umat berdasarkan batas negara, ras, atau bahasa, tetapi sebagai satu umat yang memiliki ikatan akidah yang sama. Allah menegaskan dalam firmanNya yang artinya,“Sesungguhnya umat kalian ini adalah umat yang satu, dan Aku adalah Tuhan kalian, maka sembahlah Aku.”(TQS Al-Anbiya: 92).
Ayat ini menunjukkan bahwa umat Islam merupakan satu kesatuan yang tidak boleh terpecah. Karena itu, penderitaan yang menimpa sebagian kaum muslimin semestinya dirasakan oleh seluruh umat. Rasulullah Saw. juga menggambarkan hubungan antar kaum muslimin seperti satu tubuh. Ketika satu bagian tubuh sakit, bagian yang lain ikut merasakan dampaknya.
Kesadaran seperti inilah yang seharusnya membangkitkan solidaritas dan kepedulian umat terhadap tragedi yang menimpa Gaza. Persatuan umat bukan hanya sebatas perasaan simpati, tetapi juga memerlukan kekuatan politik yang mampu melindungi kaum muslimin.
Dalam sejarah Islam, persatuan itu terwujud melalui kepemimpinan umum yang menaungi umat yaitu Khilafah. Khalifah atau imam berfungsi menjaga keamanan, menegakkan keadilan, serta melindungi wilayah dan rakyatnya dari agresi musuh.
Rasulullah Saw.bersabda:“Imam (pemimpin) adalah perisai; manusia berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.”
(HR. Bukhari).
Hadits ini menunjukkan pentingnya persatuan umat di bawah kepemimpinan Islam yang mampu menjaga kehormatan dan keamanan kaum muslimin. Hanya Khilafah yang mampu menjaga kemulian muslim Gaza dan umat manusia seluruhnya.
Wallahu’alam. [LM/ry].
