Ketika Allah Membela Para Pekerja

Oleh Nadisah Khairiyah
LensaMediaNews.com, Tsaqafah Aqliyah_ Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits qudsi:
قَالَ اللَّهُ: ثَلاَثَةٌ أَنَا خَصْمُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ…
Allah berfirman: “Ada tiga golongan yang menjadi musuh-Ku pada Hari Kiamat… (HR al-Bukhari)
Di situ disebutkan (salah satunya): seseorang yang mempekerjakan pekerja, mengambil manfaat dari dirinya, tetapi tidak memberikan upahnya.
Bayangkan, bukan sekadar dosa, bukan sekadar pelanggaran, tetapi menjadi musuh Allah. Seolah Allah sedang berkata kepada manusia:
Aku melihat mereka yang lelah bekerja, dan Aku tidak akan diam saat mereka dizalimi.
Di tengah dunia yang sering mengabaikan jeritan buruh, hadits ini menyingkap satu hakikat besar: Allah menjaga para pekerja.
Kasih Sayang yang Nyata, Bukan Sekadar Kata
Perlindungan dalam Islam bukan retorika. Ia nyata, tegas, mengikat. Rasulullah ﷺ memerintahkan: “Berikanlah upah pekerja sebelum kering keringatnya.”
Ini bukan sekadar anjuran moral. Ini adalah standar keadilan. Bahwa setiap tenaga yang dikeluarkan, setiap peluh yang jatuh, memiliki hak yang tidak boleh ditunda, apalagi diabaikan. Islam tidak memandang buruh sebagai alat. Ia adalah manusia yang dimuliakan.
Saat Sistem Mengambil Alih Peran
Namun realitas hari ini berkata lain. Jutaan orang menganggur. Jutaan lainnya bekerja, tapi tetap tidak sejahtera. Sekitar 7,35 juta manusia masih mencari pekerjaan.
Sebagian yang bekerja hanya menerima upah ratusan ribu rupiah.
Gelombang PHK terus terjadi, tekanan hidup semakin berat. Konflik antara buruh dan perusahaan terus berulang. Maka muncul pertanyaan: Jika Allah begitu menjaga para pekerja, mengapa realitasnya begitu menyakitkan?
Jawabannya bukan pada kurangnya sumber daya. Bukan pula karena manusia malas atau tidak bekerja keras.Tetapi karena sistem yang mengatur kehidupan tidak dibangun di atas keadilan.
Islam: Bukan Sekadar Nilai, tetapi Sistem
Dalam Islam, hubungan kerja adalah akad ijârah, akad atas jasa, bukan atas kehidupan manusia. Artinya, buruh tidak dipaksa menjadikan upah sebagai penopang seluruh hidupnya. Dan majikan tidak dibebani tanggung jawab di luar akad.
Lalu siapa yang menjamin kehidupan? Jawabnya adalah: negara.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Imam adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas mereka.”
Di sinilah Islam menutup celah kezaliman. Negara wajib: menjamin kebutuhan dasar rakyat, membuka lapangan kerja, mengelola sumber daya untuk kesejahteraan, menghidupkan lahan terlantar dan memberikan akses modal tanpa riba
Dengan mekanisme ini, buruh tidak tercekik oleh kebutuhan hidup. Dan majikan tidak terbebani di luar akad. Harmoni tercipta. Keadilan menjadi nyata.
Kabut yang Menutup Pandangan
Namun hari ini, banyak manusia tidak melihat ini. Bukan karena kebenaran tidak ada. Tetapi karena cara pandang yang keliru terus diulang. Kita diajarkan bahwa: pasar adalah solusi, negara cukup menjadi regulator, kesejahteraan adalah hasil kompetisi
Tanpa disadari, kita mulai menerima ketidakadilan sebagai sesuatu yang wajar. Padahal, realitas hari ini justru menunjukkan kegagalan cara pandang itu sendiri.
Allah ﷻ telah mengingatkan:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا
Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (al-Quran) maka bagi dia kehidupan yang sempit… (QS Thaha [20]: 124).
Sempit, meski dunia terasa luas. Sempit, meski peluang terlihat banyak.
Saatnya Membuka Mata
Sudah terlalu lama, akal yang Allah anugerahkan tidak digunakan untuk melihat kebenaran secara utuh. Realitas tidak kita baca dengan menggunakan kacamata wahyu.
Bukan karena wahyu tidak ada.
Tetapi karena ia hanya dibaca, tanpa benar-benar dipahami. Akibatnya, solusi dicari ke mana-mana, padahal jawabannya telah Allah siapkan.
Dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya. Solusi yang menjaga manusia, memuliakan pekerja, menghadirkan keadilan bukan sekadar janji.
Kini pertanyaannya bukan lagi tentang sistem mana yang lebih populer. Tetapi apakah kita akan terus bertahan dalam sistem yang melukai, atau mulai melangkah menuju aturan Allah yang menyembuhkan?
و الله اعلم بالصواب
