Dehumanisasi Muslim Palestina, Makin Tak Manusiawi

Oleh: Yuke Octavianty
Forum Literasi Muslimah Bogor
LenSaMediaNews.com–Muslim Palestina tak henti-hentinya mengalami penindasan. Bahkan penindasan yang terjadi di luar batas kemanusiaan. Banyak warga Gaza dibunuh zionis dengan membabi buta, tanpa belas kasihan.
Gaza Kian Memprihatinkan
Sejak agresi zionis ke wilayah Gaza, pada 7 Oktober 2023, dilaporkan korban tewas mencapai angka 72.736 (antaranews.com, 10-5-2026). Sementara sejumlah 172.535 mengalami luka-luka. Serangan yang dilancarkan terus menelan korban sipil. Tak pandang bulu, dewasa ataupun anak-anak. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyampaikan satu dari lima korban amputasi adalah anak-anak (tempo.co.id, 4-5-2026). Minimnya tenaga medis spesial prostetik dan pembatasan masuknya material medis ke Jalur Gaza menjadi penyebab ribuan korban tak mampu mengakses perawatan yang memadai.
Seperti yang telah diketahui, Israel telah melakukan pelumpuhan di Jalur Gaza sejak 2007. Tak kurang dari 2,4 juta jiwa di wilayah tersebut mengalami kelaparan akut. Serangan tahun 2023 hingga saat ini juga tak berbeda jauh. Genosida terus terjadi hingga kini. Kehancuran infrastruktur pun dilaporkan sebagai kehancuran terdahsyat sepanjang peperangan terjadi.
Parahnya lagi, genosida pun terus terjadi meskipun gencatan senjata telah disepakati. Pada gencatan senjata 10 Oktober 2025, dilaporkan terdapat 832 orang tewas dan sebanyak 2.345 korban mengalami luka-luka karena kebrutalan Zionis Israel.
Kebiadaban Israel pun kian di luar batas manusiawi. Zionis membunuh warga sipil yang tak berdaya, termasuk anak-anak. Bahkan korban yang sudah tewas pun dilarang untuk dikuburkan di tanahnya sendiri. Kejamnya lagi, jenazah yang sudah dikuburkan, diperintahkan untuk dibongkar dan dipindahkan ke tempat lain.
Kekejaman ini tak bisa terus didiamkan. Mengingat wilayah yang dikuasai zionis semakin luas dan terus menganeksasi wilayah Gaza dan Palestina. Zionis terus menyiapkan strategi untuk memperluas wilayah pendudukan dengan tujuan mengusir seluruh penduduk Gaza.
Dilaporkan juga, Gaza menjadi tempat paling kejam bagi para jurnalis. Lebih dari 300 jurnalis tewas sejak penyerangan 7 Oktober 2023. Demikian dilaporkan OHCHR, Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights (antaranews.com, 4-5-2026).
Zionis makin liar melakukan serangan terhadap Gaza, tanpa memedulikan ketetapan gencatan senjata yang awalnya disepakati bersama. Serangan pun semakin tidak manusiawi, genosida makin tidak terkendali bahkan menyasar anak-anak yang tak berdosa. Jumlah korban terus bertambah. Bahkan, Zionis Israel pun menyerang para jurnalis dengan tujuan membungkam mata dunia terhadap keadaan Gaza yang kian memprihatinkan.
Menilik keadaan ini, pemimpin dunia tak mampu berbuat banyak. Mereka hanya bisa menyampaikan kecaman tanpa melakukan aksi yang nyata. Para pemimpin negeri-negeri Islam tak mampu menyatukan kekuatan militer karena kekuatannya di bawah kendali negara adidaya. Parahnya lagi, para pemimpin negara muslim juga terkungkung dalam pemahaman nasionalisme yang mengerat-ngerat rasa ukhuwah sesama muslim.
Sungguh, akar masalah dari peperangan yang tak berkesudahan ini adalah adanya entitas Zionis di tanah milik Palestina. Praktisnya, entitas Yahudi penjajah ini harus diusir dengan tegas melalui kekuatan militer.
Solusi Pembelaan Islam
Palestina wajib dibela. Ukhuwah Islamiyyah menjadi satu-satunya jalan yang mampu membelanya. Ukhuwah inilah yang mampu mewujudkan kekuatan jihad hingga mampu membentuk kekuatan militer dan kekuatan umat untuk mengusir Zionis penjajah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sungguh, Allah Maha Kuasa menolong mereka itu,” (TQS. Al-Hajj: 39).
Kekuatan ukhuwah Islamiyyah dan kekuatan militer umat hanya mampu direalisasikan dalam satu wadah tangguh, Khilafah dalam sistem Islam. Satu-satunya institusi yang mampu membela dan menjaga darah kaum muslimin.
Khilafah secara tegas mampu menghentikan segala bentuk penjajahan tanpa harus menunggu korban berjatuhan. Khilafah-lah satu-satunya pemersatu umat. Dengan khilafah, segala bentuk kezaliman mampu dihentikan.
Tanah Palestina merupakan tanah kaum muslim dan harus dikembalikan kepada kaum muslimin. Khilafah juga menjadi satu wadah yang mampu menyatukan umat sekaligus mengurusi semua urusan warga negaranya dengan aturan hukum syarak yang adil dan bijaksana.
Khilafah merupakan institusi pemersatu umat. Pemikiran dan pemahaman umat harus disatukan melalui dakwah jama’i. Dakwah inilah yang mampu menempatkan Islam sebagai ideologi sehingga mampu mengubah arah pandang umat agar mampu berjuang menerapkan Islam yang menyeluruh di setiap bidang kehidupan.
Kekuatan Islam-lah yang mampu mengembalikan kekuatan umat Islam. Solusi inilah satu-satunya jalan menuju kemuliaan. Dengannya umat terjaga sempurna dalam tatanan amanah. Wallahu’alam bisshowwab. [LM/ry].
