Buruh Bersedih, Bagaimana Solusinya?

Oleh : Aprilya Umi Rizkyi
Komunitas Setajam Pena
LenSaMediaNews.com–Buruh adalah salah satu kebutuhan vital dalam sebuah industri. Baik itu berskala kecil maupun besar. Di kota besar atau pun di pinggiran kota. Karena dengan adanya peran buruh ini semua aktifitas, program dan tujuan dari sebuah industri akan bisa tercapai.
Pada kondisi saat ini, dimana perang pecah antara Iran dan Israel memicu terjadinya krisis global. Orang yang terdampak paling pertama adalah buruh. Dimana, mereka sejatinya adalah tumbal dari kerakusan para oligarki. Meskipun setiap tahun mereka berupaya untuk menuntut keadilan dengan berbagai aksi damai.
Presiden Prabowo berjanji untuk membuat satu juta rumah bagi para buruh. Hal ini disampaikan saat ia berpidato di hadapan ratusan ribu buruh saat peringatan Hari Buruh di Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat ( tribunnews.com, 1-5-2025). Selain itu, ada janji untuk memperjuangkan daycare ( tempat penitipan anak) dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Dari fakta di atas sebenarnya permasalah krisis ada pada dominasi sistem sekuler Kapitalisme yang kepemimpinannya dikendalikan negara adidaya serta secara sistemis bertanggungjawab menciptakan berbagai kezaliman dan ketidakadilan di dunia. Sistem ini sebagai alat bagi para kapital ( negara adidaya) untuk mengeruk kekayaan alam dan menyukseskan penjajahan ekonomi, politik ideologi, dan militer.
Kapitalisme merupakan sistem destruktif yang rusak dan merusak karena tegak di atas paham sekularisme dan kebebasan. Sistem ini menolak adanya peran agama dalam pengaturan kehidupan, sehingga wajar jika tidak mengenal prinsip halal haram.
Islam seseungguhnya menawarkan solusi tuntas problem buruh dalam perkara menyelesaikan problem umat manusia secara keseluruhan secara mendasar. Diawali dari koreksi total atas asas hidup baik individu, masyarakat maupun negara. Kesadaran atas adanya hak mutlak Sang Pencipta alam, manusia dan kehidupan dalam pengaturan kehidupan. Aturan itu berupa syari’at Islam.
Faktanya, sistem Islam memiliki aturan yang komprehensif dan sempurna. Meliputi seluruh aspek kehidupan yang saat diterapkan benar-benar menjamin terwujudnya kesejahteraan hakiki bagi seluruh umat manusia (orang per orang).
Salah satunya melalui penerapan sistem politik dan ekonomi Islam yang memastikan setiap orang memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses faktor ekonomi dengan cara halal. Menempatkan negara sebagai pengurus dan penjaga bagi seluruh masyarakat tanpa terkecuali, bukan hanya sekadar regulator dan fasilitator semata. Dalam pandangan Islam, problem ekonomi itu bukan karena terbatasnya jumlah barang, tetapi ketimpangan distribusi akibat penerapan sistem zalim.
Sistem ekonomi Islam mengatur soal kepemilikan, di antaranya menjadikan sumber daya alam sebagai milik umum yang haram dikuasai individu apalagi asing. Padahal, sumber kekayaan yang melimpah ruah ini akan menjadi salah satu pos pemasukan dalam sistem keuangan Islam yaitu Baitul Mal, menjadi modal bagi negara menyejahterakan rakyatnya muslim maupun non muslim.
Islam juga melarang praktik ribawi, penimbunan dan monopoli, penipuan, menimbun harta, dan lainnya, karena bertentangan dengan syariat. Aturan ini bertujuan untuk menjamin perputaran harta berjalan secara adil dan merata. Islam juga menerapkan moneter berbasis emas dan perak yang menjamin ekonomi berjalan stabil, kuat, independen, dan jauh dari peluang menjadi objek penjajahan oleh negara lain.
Semua aturan ini diterapkan dalam sebuah negara yang disebut sistem pemerintahan Khilafah dan sistem-sistem lainnya yang tegak di atas basis akidah. Khilafah siap menyatukan seluruh negeri Islam dan umatnya dalam satu kepemimpinan politik Islam. Dengan sistem ini dipastikan negara Islam akan tampil sebagai negara yang kuat, berwibawa dan independen karena semua potensi umat akan dimobilisasi untuk kepentingan umat.
Tentu saja kehadiran Khilafah harus diperjuangkan. Seluruh komponen umat termasuk para buruh wajib sungguh-sungguh dan bersatu padu melakukan perubahan mendasar dengan mengikuti thariqah perjuangan Rasulullah Saw.
Mereka tidak boleh santai menghabiskan waktu dan energi untuk memperjuangkan sistem yang lain. Apalagi berdamai dengan Sistem Kapitalisme karena kesejahteraan hakiki dan keberkahan hanya akan diraih jika mereka hidup di bawah naungan Islam, sebagaimana sejarah telah mencatat, sepanjang belasan abad yaitu 1300 tahun lamanya umat Islam pernah tampil sebagai umat terbaik dan mengalami puncak kejayaan. Wallahualam bissawab. [LM/ry].
