Persatuan Umat Muslim Dunia, Pembebas Derita Gaza

Oleh : Cokorda Dewi
LenSaMediaNews.com–Peringatan 78 tahun Nakba Day (Al-Nakba) digelar di Kedutaan Besar Palestina untuk Indonesia, Jakarta. Menurut Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdalfatah A.K. Alsattari, bahwa peristiwa ini merupakan simbol awal penderitaan bangsa Palestina yang belum pernah berhenti, dimana terjadi pengusiran besar-besaran warga Palestina, dan mereka kehilangan rumah serta tanahnya. Hingga kini, Gaza tetap menjadi simbol perlawanan rakyat Palestina terhadap penjajahan zionis, walaupun mereka terus dilanda konflik dan blokade (zonautara.com, 19-05-2026).
Aksi demonstrasi di Wilayah Washington DC, Amerika Serikat (AS) merupakan bagian dari gelombang demonstrasi internasional dalam rangka memperingati Al-Nakba sekaligus menyerukan tekanan politik global untuk perlindungan hak-hak rakyat Palestina, di antaranya mendesak dihentikannya perang di Gaza. Mereka meminta perlindungan terhadap situs-situs suci Islam dan Kristen di Yerusalem (metrotv.com, 17-05-2026).
Pidato peringatan Al-Nakba oleh Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdalfatah A.K. Alsattari, menyampaikan dengan tegas bahwa tahun ini terasa semakin pilu di tengah situasi kemanusiaan yang memburuk di Jalur Gaza, akibat serangan dan blokade berkepanjangan (cnbcindonesia.com, 18-05-2026).
Peristiwa Sejarah Al-Nakba bukanlah sekedar sejarah masa lalu, yang hanya bisa dikenang atau diambil pelajarannya. Akan tetapi merupakan tragedi kemanusiaan yang terjadi secara terus menerus seolah tiada akhir.
Aksi perampasan, penindasan, pembunuhan, dan penjajahan brutal yang telah berlangsung selama 78 tahun, terjadi sejak pengambilan paksa tanah Palestina pada Mei Tahun 1948 oleh entitas Yahudi yang didukung oleh Inggris. Hingga saat ini di tengah diamnya para penguasa muslim dunia, sebagian umat muslim terus berjuang mengusir para penjajah dari tanah Palestina.
Penjajahan yang tak berkesudahan terjadi di Palestina, merupakan bukti gagalnya sistem yang sedang berlangsung saat ini di dunia dalam memberikan jaminan kedamaian di dunia, hingga gagal menciptakan kerahmatan bagi dunia. Sebaliknya, sistem hari ini hanya memunculkan kerakusan hegemoni para penjajah. Dan menunjukkan bahwa konsep negara bangsa telah terbukti melemahkan kekuatan umat muslim.
Negara-negara adidaya, lembaga-lembaga internasional maupun regional, termasuk para penguasa muslim dunia tak kan mampu membebaskan Palestina dari penjajahan entitas Yahudi. Sebab di antara mereka ada yang justru menjadi pendukung para penjajah, dan menindas umat muslim.
Sudah saatnya umat muslim seluruh dunia bangkit dan bersatu padu dalam satu naungan yang bisa menerapkan Sistem Islam, yaitu melalui kepemimpinan Islam yang satu. Daulah Khilafah Islamiyah. Dengan adanya institusi yang menegakkan dan menerapkan Sistem Islam itu, serta mempersatukan umat muslim dunia, maka akan mampu melindungi umat muslim dunia dari segala kemungkaran dan kemaksiatan, serta membuat keimanan umat muslim semakin meningkat, dan menjadi lebih taat kepada Allah Swt.
Melalui penerapan Sistem Islam secara kafah, seorang Khalifah akan mampu memobilisasi pasukan dan menyeru jihad fii sabilillah, untuk membebaskan Palestina dari cengkraman Zionis dan sekutunya. Serta dapat membebaskan umat muslim dibelahan bumi manapun yang saat ini sedang terjajah. Dalam naungan penerapan sistem Islam, akan memudahkan dakwah Islam untuk tersebar membawa rahmat bagi seluruh dunia. Wallahu a’lam bishshowab. [LM/ry].
