Darurat Kesehatan Mental Anak

Kesehatan mental anak

Oleh: Noor Dewi Mudzalifah

(Aktivis Dakwah)

 

 

LensaMediaNews.com, Opini_ “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan ku cabut Semeru dari akarnya. Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” , demikian pernyataan dari Ir. Soekarno. Begitu hebat sosok pemuda digambarkan, namun apalah jadinya jika saat ini kondisi mental mereka saat ini justru sedang dalam keadaan sakit parah?

 

Belum lama ini, Senin (09/03/2026), Menteri Kesehatan RI menyampaikan hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) terhadap tujuh juta anak Indonesia yang berusia 7—17 tahun, yang mana hasilnya adalah 10% atau sekitar 700.000 darinya mengalami gejala gangguan psikologis. Rinciannya, 363.326 anak (4,8%) menunjukkan gejala depresi dan 338.316 anak (4,4%) mengalami gejala kecemasan.

 

Selaras dengan hal ini, Laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyampaikan bahwa selama periode 2023—2025 kelompok usia 10—17 tahun adalah yang paling dominan dalam kasus bunuh diri pada anak. Dari sini semakin nyata bahwa masalah kesehatan mental bukan masalah sepele, tapi merupakan alarm kehancuran generasi.

 

Faktor Penyebab

Menurut data Kemenkes, faktor utama masalah kesehatan mental anak bukan dari diri anak, melainkan karena konflik keluarga dan pola asuh yang salah, perundungan (bullying), tekanan akademik, paparan media sosial, ekonomi keluarga, biologis dan genetik.

 

Dari semua faktor penyebab di atas jika kita mau mencermati dan jujur, ada satu penyebab utama dan inti dari bertambah suburnya masalah kesehatan mental anak, yaitu tata kelola kehidupan yang salah.
Dalam hal keluarga, pertemanan, pendidikan, bermedia sosial, berekonomi sampai hal yang mempengaruhi kesehatan biologis dan genetik, semua menapikkan peran agama. Padahal agama ada justru untuk merapikan kehidupan manusia. Islam berisi aturan yang lengkap dan sempurna, melaksanakannya bukan hanya merupakan kewajiban tapi juga kebutuhan. Tanpanya wajar saja jika terjadi kekacauan, kehancuran fisik dan psikologis, jiwa dan raga.

 

Setidaknya Ada tiga pilar utama yang runtuh akibat sistem sekuler ini:
Pertama, disfungsi keluarga akibat kapitalisme. Sistem ekonomi hari ini memaksa orang tua menghabiskan waktu demi materi. Ibu, yang seharusnya menjadi sekolah pertama, banyak yang terpaksa bekerja di luar rumah. Akibatnya, anak kehilangan figur pendidik dan hanya mendapatkan kasih sayang lewat benda (gadget), yang justru merusak saraf dan mental mereka.

 

Kedua, pendidikan yang sekuler-materialistik. Kurikulum saat ini lebih fokus mencetak pekerja daripada manusia beradab. Anak-anak dibebani standar kesuksesan materi, sementara aspek spiritual (akidah) hanya diajarkan sebagai teori tanpa implementasi. Anak tidak tahu tujuan hidupnya untuk beribadah kepada Allah, sehingga saat menghadapi tekanan, mereka merasa hampa dan putus asa.

 

Ketiga, lingkungan sosial yang individualis. Islam memerintahkan amar ma’ruf nahi munkar. Namun, masyarakat saat ini cenderung memuja kebebasan (liberalisme). Perundungan (bullying) dan konten negatif di media sosial dibiarkan atas nama hak asasi, sehingga kesehatan mental anak terus digempur tanpa perlindungan.

 

Islam Solusi Tepat

Islam memberikan solusi komprehensif yang melibatkan tiga pilar yakni individu atau keluarga, masyarakat, dan negara.
Penguatan akidah akan dimulai dari level keluarga. Keluarga adalah benteng pertahanan utama. Orang tua wajib menanamkan bahwa setiap ujian hidup adalah ketetapan Allah SWT. Anak yang memiliki akidah kuat tidak akan mudah menyerah pada depresi karena mereka yakin Allah SWT. adalah sebaik-baik penolong. Ibu akan difungsikan kembali sebagai pengatur rumah tangga (rabbatul bait) yang fokus menjaga kewarasan mental anak.

 

Kontrol sosial masyarakat haruslah ada. Masyarakat tidak boleh abai. Lingkungan harus menjadi tempat yang mendukung pertumbuhan anak. Budaya saling menasihati dalam kebaikan harus dihidupkan kembali untuk mencegah perilaku menyimpang seperti bullying atau pergaulan bebas yang sering kali menjadi pemicu trauma mental pada remaja.

 

Negara berperan sebagai perisai (junnah). Dalam hal ini tugas negara diantaranya adalah;
Pertama, menyusun kurikulum berbasis akidah. Pendidikan harus melahirkan generasi yang berkepribadian Islam, kuat secara mental karena memahami makna hidup.

Kedua, menjamin kesejahteraan. Negara harus menyediakan lapangan kerja bagi para ayah agar para ibu bisa fokus mendidik anak di rumah tanpa tekanan ekonomi.

Ketiga, menyaring Informasi. Negara wajib menutup akses terhadap konten pornografi, kekerasan, dan paham liberal yang merusak mentalitas generasi di media massa.
Sungguh kemuliaan hidup hanya akan didapatkan dengan penerapan Islam secara kaffah. Dengannya rahmat bagi fisik dan psikologis akan mampu dirasakan bagi manusia keseluruhan. Tentu kerinduan inilah yang harus kita perjuangkan.