Gen Z dan Misi Kebangkitan Islam

Banjir, Bukti Gagalnya Negara_20260709_080716_0000

Oleh: Yulfianis

(Aktivis Dakwah)

 

Lensa Media News – Indonesia Emas 2045 bisa berubah menjadi “Indonesia Cemas” jika anak-anak sebagai generasi masa depan bangsa menghadapi gangguan kecemasan dan depresi. Pernyataan ini bukan sindiran atau sarkasme terhadap visi Indonesia Emas 2045 yang digalakkan pemerintah, melainkan sebuah alarm serius mengenai kondisi kesehatan jiwa anak di Indonesia.(Tirto.id, 12-03-2026)

Generasi Z sering disebut sebagai generasi paling adaptif terhadap teknologi. Mereka tumbuh di era internet, kecerdasan buatan, dan arus informasi tanpa batas. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, tersimpan kenyataan yang memprihatinkan. Kecemasan, depresi, kehilangan arah hidup, hingga krisis identitas menjadi persoalan yang banyak menghantui generasi ini.

Di Indonesia, kondisi tersebut semakin diperparah oleh ketidakpastian ekonomi, sulitnya memperoleh pekerjaan, tingginya biaya pendidikan, sempitnya ruang berekspresi, serta tekanan sosial yang terus meningkat. Pandemi beberapa tahun lalu turut meninggalkan luka yang belum sepenuhnya pulih, baik secara ekonomi maupun psikologis.

Akibatnya, banyak anak muda tumbuh dengan rasa pesimis terhadap masa depan. Mereka kehilangan harapan dan mulai mempertanyakan makna hidup yang sesungguhnya.

 

Kapitalisme Melahirkan Generasi yang Rapuh

Persoalan kesehatan mental tentu tidak bisa disederhanakan menjadi satu penyebab. Namun, kondisi sosial dan sistem yang mengatur kehidupan masyarakat memiliki pengaruh besar terhadap meningkatnya tekanan yang dialami generasi muda.

Sistem liberal kapitalisme menjadikan kebebasan individu sebagai ukuran utama. Kesuksesan diukur dengan materi, popularitas, dan pencapaian duniawi. Media sosial membentuk standar kehidupan yang semu sehingga banyak anak muda merasa tertinggal ketika tidak mampu memenuhi ekspektasi tersebut.

Dalam sistem ini, manusia dipaksa bersaing tanpa henti. Nilai seseorang ditentukan oleh produktivitas dan keuntungan ekonomi, bukan oleh ketakwaan ataupun kemuliaan akhlaknya. Akibatnya, ketika gagal mencapai standar yang dibangun sistem, banyak generasi muda merasa dirinya tidak berharga.

Sekularisme yang menjadi fondasi kapitalisme memisahkan agama dari kehidupan. Agama hanya dianggap sebagai urusan pribadi, bukan pedoman dalam menyelesaikan persoalan hidup. Padahal manusia tidak cukup hanya diberi kebebasan, tetapi juga membutuhkan petunjuk dari Sang Pencipta.

 

Islam Mengubah Depresi Menjadi Resistensi

Islam memandang masa muda sebagai fase terbaik untuk menjadi agen perubahan. Pemuda bukan sekadar objek pembangunan, melainkan pengemban risalah yang akan menentukan arah peradaban.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini menanamkan optimisme bahwa perubahan selalu dimulai dari kesadaran dan keimanan.

Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya, di antaranya adalah pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menunjukkan betapa besarnya kedudukan pemuda yang menjadikan keimanan sebagai fondasi kehidupannya.

 

Saatnya Gen Z Memimpin Perubahan

Gen Z memiliki potensi luar biasa. Mereka menguasai teknologi, cepat belajar, kreatif, dan memiliki semangat untuk menghadirkan perubahan. Potensi tersebut tidak boleh dibiarkan habis hanya untuk mengejar validasi media sosial atau larut dalam kecemasan yang diciptakan sistem.

Sudah saatnya depresi berubah menjadi resistensi. Resistensi bukan berarti melawan dengan kemarahan tanpa arah, tetapi keberanian menolak nilai-nilai kapitalisme yang merusak dan menggantinya dengan nilai-nilai Islam yang membangun kepribadian, menjaga akal, menenangkan jiwa, serta mengarahkan seluruh potensi untuk kemaslahatan umat.

Generasi muda Islam harus menyadari bahwa mereka adalah pewaris estafet perjuangan para nabi. Mereka bukan generasi yang ditakdirkan menjadi korban zaman, melainkan generasi yang akan mengubah zaman dengan keimanan, ilmu, dan dakwah.

Ketika Islam dijadikan pedoman hidup secara menyeluruh, generasi muda tidak lagi hidup dalam ketidakpastian. Mereka memiliki tujuan yang jelas, yaitu beribadah kepada Allah SWT, menjadi pembawa rahmat bagi manusia, serta memperjuangkan tegaknya kehidupan yang diatur dengan syariat-Nya. Dari sanalah lahir generasi yang tidak mudah depresi oleh tekanan dunia, tetapi kokoh menjadi pelopor kebangkitan peradaban Islam.

 

[LM/nr]