Gen Z : Seperti apa Sebenarnya Identitasmu?

Oleh: Rejeyanti, S.S
Lensa Media News – Di setiap zaman, ada generasi yang disebut sebagai game – changer, yaitu generasi yang dalam dirinya mempunyai kemampuan dalam melakukan suatu perubahan besar pada sejarah peradaban yang gemilang menujuh perubahan yang hakiki.
Gen Z adalah Generasi pertama yang tumbuh bersamaan dengan munculnya teknologi digital dari internet segala sesuatu dapat diakses dengan mudah apa yang kita inginkan.
Penyebab Gen Z lebih rentan mengalami gangguan emosi dan depresi antara lain:
Pertama: Pengaruh media sosial
Banyak anak muda mengukur nilai diri diri berdasarkan jumlah pengikut suka atau pencapaian yang ditampilkan di dunia maya. Mereka sering melihat kehidupan orang lain yang sempurna, sehingga memicu tidak percaya diri, iri hati.
Kedua: Kurangnya Koneksi emosional
Mereka sering kesepian yang mendalam sering menjadi akar perasaan sedih dan berkelanjutan depres.
Ketiga: Kurangnya Tujuan Hidup
Mereka tidak memahami apa sebenarnya tujuan mereka hidup di dunia.Mereka hanya memahami hidup hanya memenuhi keinginan duniawi
Menurut Kementerian Kesehatan Indonesia bahwa 15,5 juta atau sekitar 6,1 % penduduk berusia diatas 15 tahun terkena penyakit gangguan mental seperti kecemasan dan depresi. (kumparan.com, 21/10/2024).
Akibat masalah kesehatan mental tersebut maka maraknya kasus bunuh diri bahkan angka pengangguran yang meningkat, serta gaya hidup yang konsumerisme dan hedonisme yang, merajalela, ini merupakan gambaran yang sedang dihadapi generasi saat ini.
Meski demikian, ada yang menarik dalam diri Gen Z, memiliki identitas luar biasa yang mampu merubah peradaban gemilang
Berbicara tentang Gen Z rasanya takkan habis dimakan usia. Mendengar kata Gen Z, langsung terbayang di benak yaitu sosok yang kuat, tangguh, cerdas, berani dan visioner.
Gen Z hari ini didorong berdaya guna untuk agenda kapitalisme global. Sekulerisme menjauhkan agama dari kehidupan, dimana generasi dibesarkan tanpa pemahaman apalagi diera digital ini pelajar dipaksa untuk berprestasi, hidup harus nampak bahagia, wajah harus nampak menarik. Akhiranya pelajar hidup dalam tekanan, takut gagal, takut tidak sempurna. Ketika mereka tumbang secara mental, negara hanya menangani gejala bukan akar masalah
Solusi Islam
Solusi yang dibutuhkan untuk Maslah ini harus bersifat sistematis menyentuh Samapi akar persoalan.
Diantaranya:
Pertama, Islam bukan sekadar agama ritual, tetapi sistem kehidupan yang sempurna. Ketika aturan Allah diterapkan, manusia tidak lagi hidup dalam kebingungan arah. Dari sinilah ketenangan lahir, bukan karena tekanan hidup hilang, tetapi karena hidup berjalan sesuai dengan fitrah dan petunjuk-Nya.
Kedua, sejarah Islam telah membuktikan bahwa generasi yang dibentuk dengan Islam memiliki karakter yang kokoh.Islam menjadikan mereka memiliki arah hidup yang jelas dorongan untuk menuntut ilmu melahirkan kontribusi besar bagi dunia.
Gambaran pemuda seperti Ibnu Sina tampil sebagai ilmuwan besar di bidang kedokteran, Al-Khawarizmi sebagai pelopor dalam ilmu matematika, serta Imam Syafi’i yang tidak hanya mendalami ilmu agama tetapi juga dikenal di bidang kepemimpinan, hadir pula sosok seperti Umar bin Khattab yang dikenal dengan keadilan dan ketegasannya dalam mengurus rakyat.
Mereka lahir dari sistem yang sama—sistem Islam yang membentuk pola pikir, kepribadian, dan orientasi hidup mereka. Inilah gambaran generasi yang tidak mudah rapuh, karena hidupnya dibangun di atas akidah yang kuat dan tujuan yang pasti. Yang pada akhirnya peradaban Islam mampu melahirkan generasi unggul yang tidak hanya beriman, tetapi juga berilmu dan berkontribusi besar bagi dunia.
Ketiga: Negara sebagai pihak yang bertanggung jawab penuh atas kesejahteraan rakyat. Islam tidak membiarkan sedikitpun umat berjalan sendiri tanpa perlindungan. Kehadiran negara dalam Islam berfungsi Sangat penting sebagai pelindung dan pelayan umat, yang menjamin pemenuhan kebutuhan hidup secara adil. Dengan demikian negara hadir sebagai pengurus, bukan sekadar penguasa.
Allah Swt. berfirman, “Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh ia akan menjalani kehidupan yang sempit” (QS. Thaha: 124). Ayat ini menegaskan bahwa krisis gen Z yang terjadi hari ini adalah dikarenakan ditinggalkannya aturan Allah dalam kehidupan. Maka sudah seharusnya kewajiban kita mengembalikan Islam dalam kehidupan bukan hanya pilihan, tetapi kebutuhan yang mendesak.
Keempat, di tengah kondisi ini, pemuda memiliki peran yang sangat strategis. Pemudah bukan hanya sekedar korban sistem yang ada, tetapi juga kunci perubahan. Kesadaran yang lahir dari kegelisahan hari ini harus diarahkan menjadi kepedulian terhadap umat dan dorongan untuk mengemban mabda Islam. Dari sinilah akan terlihat jelas bahwa masa depan yang lebih baik bukan sekadar angan-angan, tetapi sesuatu yang bisa diwujudkan melalui perjuangan yang terarah.
Maka dari itu sudah selayaknya kita mengembalikan Islam sebagai sistem kehidupan.
[LM/nr]
