Fenomena Krisis Murid Baru, SDN Versus Swasta

Oleh : Cokorda Dewi
Lensa Media News – Fenomena krisis murid baru di sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) pada tahun ajaran baru 2026, diberitakan di berbagai media sosial.
Fakta Efek Penerapan Sistem Sekulerisme Liberalisme Kapitalisme
Berdasarkan data Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Temanggung, sebanyak 35 SDN di wilayahnya memperoleh maksimal lima murid baru pada pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026. Menurut Kepala Bidang Pembinaan SD Disdikpora Kabupaten Temanggung, Pamudji Santoso, kondisi ini bukan dipicu dari layanan kualitas pendidikan di sekolah, melainkan karena lebih dipengaruhi kondisi demografi. Kekhawatiran akses pendidikan akan semakin sulit dijangkau oleh para siswa, jika dalam mengatasi krisis murid baru melalui kebijakan regrouping atau penggabungan sekolah dari Disdikpora (kompas.com, 14-07-2026).
Informasi dari kepala sekolah SDN Purwoyoso 1 Kota Semarang , Hajar Riatiani menyampaikan bahwa, siswa yang tidak mendaftar ulang, bukan karena fasilitas sekolah kurang. Melainkan disebabkan kondisi demografis. Kondisi dimana penduduk sekitar, rata-rata sudah termasuk lansia dan tidak ada usia siswa baru SD. Di samping itu, banyak warga memilih pindah ke wilayah perbatasan, disebabkan semakin mahalnya harga rumah di Kota Semarang (detik.com, 17-07-2026).
Fenomena antri pendaftaran murid baru di sekolah swasta, hingga para orang tua rela mendaftarkan anaknya sejak bayi, untuk mendapatkan kuota inden di sekolah. Salah seorang wali murid, Dini Yunitasari mendaftarkan anaknya sejak usia satu tahun di SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta. Hal ini dilakukan karena pertimbangan akademis dan agamis. Di SDN, pendidikan agamanya kurang intens dibandingkan sekolah swasta berbasis Islam. Baginya, untuk menghadapi gempuran teman-teman yang heterogen, diperlukan pondasi agama yang kuat, sebagai bekal agar anak lebih siap dari segi mental dan toleransi (detik.com, 30-01-2026).
Dari pemberitaan tersebut, ada beberapa faktor penyebab minimnya jumlah siswa baru di SDN. Diantaranya adalah pertumbuhan penduduk menurun. Sebagai akibat dari penerapan sistem ekonomi kapitalisme, pemicu kegagalan kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi. Sehingga mengakibatkan tekanan ekonomi semakin menghimpit, biaya hidup melambung tinggi, kesejahteraan hidup semakin sulit diraih. Berimbas pada pasangan muda enggan memiliki anak. Bahkan ada yang memilih tidak menikah. Kesenjangan pendapatan di desa dan kota, turut menyumbang minimnya usia anak SD di wilayah desa. Kebanyakan pasangan muda lebih memilih mengadu nasib di kota, sehingga di desa didominasi usia lansia.
Penerapan sistem sekulerisme liberalisme telah berakibat pada degradasi moral. Kenakalan remaja semakin meningkat, hingga tindakan kriminal terjadi di lingkungan sekolah. Perubahan kurikulum berulang kali terbukti tidak bisa membendung kerusakan di kalangan anak-anak. Sehingga berefek pergeseran orientasi para orang tua yang memiliki anak usia sekolah. Mereka mulai banyak yang sadar akan pentingnya pendidikan agama, dan lebih memilih sekolah swasta berbasis Islam.
Solusi Islam dalam Pendidikan
Dalam paradigma Islam, pendidikan merupakan kebutuhan dasar setiap individu. Negara dalam sistem Islam wajib menyediakan layanan pendidikan berkualitas secara adil merata, dan gratis bagi setiap individu rakyatnya. Menyediakan SDM (Sumber Daya Manusia) guru berkualitas, baik kemampuan akademis maupun akidahnya. Juga menyediakan sarana dan prasarana berkualitas untuk menunjang proses belajar mengajar. Biaya penyelenggaraan pendidikan diambil dari pos dana baitul mal.
Kurikulum pendidikan dalam sistem Islam berbasis akidah Islam. Sehingga dapat menghasilkan generasi berkepribadian Islam, bertakwa, cerdas, cemerlang, dan mampu menguasai ilmu tekhnologi secara bijak serta tepat guna.
Pentingnya pemahaman akidah pada setiap individu, dan penerapan hukum-hukum Allah dalam setiap aspek kehidupan, untuk mencegah terjadinya degradasi moral dan akidah. Bukan hanya sekedar menyelamatkan generasi dari kerusakan sistematik, sebagai akibat dari penerapan sistem sekulerisme liberalisme kapitalisme, yang jelas terbukti menimbulkan kerusakan dalam segala aspek kehidupan. Maka perubahan sistem yang diterapkan dalam negara bersifat urgensi. Melalui penerapan sistem Islam dalam negara, akan mampu mewujudkan kesejahteraan rakyat, melindungi rakyat dari degradasi moral dan akidah, serta Allah akan turunkan keberkahan dari bumi dan langit. Wallahu a’lam bishshowab.
[LM/nr]
