Doomspending Ala Gen Z di Tengah Himpitan Ekonomi

Doomspending Ala Gen Z di Tengah Himpitan Ekonomi

Oleh: Maratus Sholikha

Lensamedianews.com, Opini — Gen Z menghadapi permasalahan tekanan ekonomi dan ketidakpastian masa depan. Hal ini memicu kecemasan, rasa pesimis dan tingkat stress yang tinggi sehingga mencari pelarian sesaat atas permasalahan yang dihadapi seperti nongkrong ditempat fancy, mencoba hal-hal yang viral, apresiasi diri dengan barang-barang impian yang dipasarakan melalui situs media sosial. Berdasarkan berita yang dirangkum dari media kompas.com menyebutkan bahwa tren ngafe didominasi oleh Gen Z sebagai akibat dari tontonan sosial media serta sebagai bentuk pemenuhan kesehatan mental atau sekedar healing sesaat.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Head of Project & Asset Management JLL Indonesia, Naomi Patadungan mengungkapkan bahwa perilaku yang dilakukan oleh anak muda pada khususnya generasi Z adalah bentuk konstan terhadap keinginan mencoba pengalaman melalui produk baru. (kompas.com, 18-08-2026). Istilah perilaku ini disebut dengan doomspending yaitu sebuah kondisi perilaku berbelanja secara berlebihan sebagai bentuk pengalihan terhadap rasa cemas di tengah ketidakpastian ekonomi demi mencapai tujuan kesenangan instan saja.

Kebiasaan melakukan doomspending ini memicu perubahan kebiasaan prioritas menabung untuk dana darurat atau tabungan yang akibatnya ketika dihadapkan pada suatu masalah rumit yang berkaitan dengan kebutuhan dana yang besar generasi Z cenderung memilih cara instan seperti berhutang.

Hal ini terjadi karena adanya tekanan ekonomi yang semakin menghimpit seperti tingginya biaya hidup, kebutuhan pokok, kesehatan, mahalnya tempat tinggal, dan permasalahan lainnya yang tidak diimbangi dengan kenaikan upah pekerja sementara budaya konsumtif semakin gencar di media membuat para gen Z lebih mudah terpengaruh atas standar kebahagiaan semu ditambah lagi banyaknya intensitas waktu untuk scroll media sosial semakin tidak terkontrol yang tentunya akan mempengaruhi perubahan perilaku generasi dalam mencari sebuah solusi atas permasalahan yang dihadapi.

Melihat fakta di atas maka dapat ditarik benang merah bahwa doomspending terjadi bukan semata-mata karena kesalahan individu saja, tapi lebih kompleks dari itu yaitu berkaitan dengan sebuah sistem yang membentuk mereka menjadi para pemuda konsumtif. Hal ini sebagai konsekuensi atas diterapkannya sistem kapitalisme yang berlandaskan sekularisme yaitu pemisahan antara kehidupan dengan agama.

Seharusnya para pemuda memiliki potensi yang besar dan kecerdasan berpikir yang matang. Namun, tekanan ekonomi menjadikan mereka hidup dalam bayang-bayang keraguan. Apabila melihat mundur ke belakang, pada masa kejayaan Islam, banyak bermunculan ilmuan-ilmuan hebat yang bukan hanya menguasai satu bidang tertentu, tapi juga menguasai banyak hal di usia muda. Seperti Ibnu Sina, Al Khawarizmi, Ibnu Haitam, Al Biruni, dan masih banyak contoh generasi emas yang dilahirkan pada sistem yang kondusif.

Islam sebagai sebuah sistem yang berisi aturan hidup menyeluruh dengan menawarkan berbagai solusi kehidupan, yang termasuk di dalamnya mengatur tatanan ekonomi, politik, sosial, hukum, dan berbagai aspek kehidupan. Maka, solusi Islam dalam mengatasi ini harus menyeluruh baik secara individu, masyarakat, dan tatanan negara.

Pada aspek individu dan masyarakat negara wajib membina generasi islami yaitu membentuk kepribadian Islam terutama dalam meletakkan standar kebahagiaan yaitu tolok ukur bahagia bukanlah kepuasaan materi, akan tetapi rida Ilahi. Sehingga para generasi muda akan memprioritaskan kebutuhan dan keinginan dengan prioritas yang berbeda, dan tentu hal ini akan menghilangkan budaya konsumtif di tengah masyarakat. Firman Allah :

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra: 26–27)

Pada aspek ekonomi wajib hukumnya negara menjamin kesejahteraan masyarakat yaitu dengan pemenuhan kebutuhan dasar. Pada sisi lain, negara memberikan akses pekerjaan dengan upah yang layak juga menjadi prioritas utama. Dan hal ini dapat diwujudkan dengan mengelola sumber daya alam untuk pemenuhan fasilitas yang memadai. Dengan hal ini ketika kebutuhan dasar masyarakat sudah terpenuhi dan seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda, memiliki kepribadian Islam yang kuat tidak akan terpengaruh terhadap budaya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam. [LM/Ah]