Perundungan Pasien BPJS : Sistem Kesehatan Nirempati

Oleh Ummu Khaira, S.Farm
LensaMediaNews.com, Opini_ Dunia medis gempar dengan kasus Yurizal Tri Chaerawan, seorang pasien BPJS kesehatan yang membagikan utas di sosial media terkait dirinya yang harus menunggu hingga 8 jam di IGD salah satu rumah sakit, yang terakhir diketahui bahwa itu merupakan Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo (RSCM), Jakarta Pusat. Keluhan Yurizal untuk mendapatkan ruangan rawat inap pun viral dengan berbagai komentar hingga akhirnya Yurizal dikabarkan meninggal dunia pada akhir Juli lalu. (cnnindonesia.com, 08/08/2026)
Kasus ini viral bukan hanya karena persoalan menunggu ruang rawat, namun karena beragam komentar yang menanggapi utas tersebut, termasuk dari sejumlah akun yang diduga milik dokter dan nakes yang dinilai tidak pantas dan kurang empati terhadap pasien BPJS, dan sontak hal ini memicu kemarahan publik.
Di samping itu, Azhar Jaya, selaku Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes menyatakan bahwa menunggunya pasien bukan karena tidak tersedianya ruang rawat. Namun, pasien membutuhkan penanganan High Care Unit (HCU) sementara ruang itu terbatas, mengingat RSCM juga merupakan rumah sakit rujukan Nasional yang tingkat keterisian fasilitas perawatan cukup tinggi.
Mengapa dunia kesehatan terlihat kejam hari ini? Komentar mencibir pasien yang datang dari dokter dan nakes seharusnya tidak boleh terjadi karena mereka adalah tenaga kesehatan yang disumpah untuk melayani masyarakat dengan baik. Namun sikap dokter dan nakes yang nirempati seperti ini menunjukan bahwa nakes tersebut memiliki cacat kepribadian baik dipandang dalam dunia kesehatan mapun sosial. Pendidikan ala kapitalis yang mereka dapati, hingga akhirnya menjadi dokter dan tenaga kesehatan tidak serta merta menjadikan mereka sebagai pribadi yang berperikemanusiaan dan memiliki akhlak yang baik.
Selain komentar dari nakes yang nirempati, permasalahan lain dari dunia kesehatan dalam sistem kapitalis hari ini karena diskriminasi terhadap pasien BPJS yang selama ini selalu berada di urutan prioritas nomor sekian. Alhasil pasien harus bersabar menunggu lama untuk mendapatkan ruangan rawat inap, meskipun kondisi sudah dalam keadaan darurat. Penyedia layanan kesehatan akan terus memberikan berbagai alasan untuk membenarkan tindakan diskriminatif ini. Hal ini tentu akan berbeda jika pasien ini bukanlah pasien BPJS.
Jaminan kesehatan yang seharusnya ditanggung negara secara merata untuk seluruh rakyat adalah sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan dalam sistem kapitalis. Dimana dalam sistem ini kesehatan dibebankan pada pasien. Fasilitas dan pelayanan kesehatan tergantung pada kemampuan bayar pasien. Dengan kata lain pasien merupakan salah satu objek bisnis, tanpa melihat urgensi kondisi kesehatan yang tengah mereka hadapi.
Pandangan kesehatan dalam Islam. Semua permasalahan kesehatan di atas tidak akan terjadi dalam sistem Islam. Nakes dan dokter yang memliki cacat kepribadian lahir dari pola pikir dan pola sikap yang tidak islami. Hal ini menunjukkan sistem pendidikan hari ini gagal membentuk karakter kepribadian Islam di semua lini kehidupan termasuk kesehatan. Sistem kesehatan sekuler kapitalistik jelas merugikan rakyat yang melahirkan pelayanan nirempati. Karena itu penting adanya perubahan paradigma sistem jaminan kesehatan.
Islam memandang kesehatan merupakan hak dasar yang dijamin oleh negara. Pembiayaan kesehatan diambil dari Baitul Mal yang dananya bersumber dari pengelolaan harta milik umum. Negara berperan sebagai raa’in (pangatur dan pemelihara urusan umat).
Kesuksesan pengurusan kesehatan masyarakat pernah terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Harun Ar-Rasyid. Pada saat itu, dunia kesehatan maju pesat, Khalifah mendirikan rumah sakit umum pertama yang disebut Bimaristan, yang menghadirkan para dokter ahli dalam bidangnya dan memiliki rasa empati yang tulus pada semua pasien.
Negara khilafah memberikan layanan gratis baik dari perawatan maupun obat-obatan untuk seluruh rakyat negara Khilafah. Tidak ada diskriminasi kelas dalam layanan kesehatan seperti yang terjadi dalam sistem hari ini. Bahkan pelayanan kesehatan tidak hanya fokus pada pasien semata, melainkan juga memberikan kenyamanan bagi keluarga pasien selama mendampingi pasien dirumah sakit.
Begitulah cara Islam dalam menangani permasalahan kesehatan. Semua dilaksanakan sesuai dengan tuntunan syariat demi kemaslahatan umat. Dan hal ini tidak akan terwujud tanpa adanya penerapan syariat Islam secara menyeluruh di bawah kepemimpinan yang satu.
Wallahu ‘alam bi ashawab.
