Gen Z Terus Tertekan, Hidup Kian Hilang Tujuan

Oleh: Yuke Octavianty
Forum Literasi Muslimah Bogor
LenSaMediaNews.com–Kehidupan gen Z kian membingungkan. Beban finansial yang terus bertambah menjadikan gen Z semakin limbung. Keadaan pun kian parah saat pekerjaan yang ada tidak menjanjikan kehidupan yang sesuai ekspektasi.
Beban Kian Berat
Lifestyle gen Z semakin beragam. Mulai dari self reward hingga healing tipis-tipis marak dilakukan untuk memberikan motivasi kepada diri sendiri agar lebih bersemangat menjalani rutinitas hidup yang dirasa berat dan tidak nyaman.
Tingginya angka belanja non prority di awal bulan menjadi pertanda bahwa gen Z tengah berusaha bertahan dengan beratnya beban kehidupan (kompas.com, 12-8-2026). Tekanan ekonomi ini secara tidak langsung mempengaruhi psikis sehingga setiap keputusan membutuhkan simultan demi menguatkan diri agar mampu melewati berbagai beban yang terus bertambah.
Gaya hidup ini banyak diterapkan bagi para “pejuang nafkah” yang tinggal di kota besar. Fakta ini merefleksikan bahwa hidup di kota besar bukanlah hal mudah. Terlebih, saat lapangan pekerjaan yang saat ini dijalani tidak mampu menjadi satu-satunya sandaran yang mampu menutup biaya kebutuhan. Tak sedikit masyarakat menambal kekurangannya dengan lapangan kerja lain, seperti jualan, membuka layanan jasa dan lainnya.
Tidak kurang dari 48 persen gen Z menuturkan tidak sepenuhnya merasakan aman secara finansial. Pembelanjaan prioritas yang memakan lebih dari separuh gaji memberikan dampak signifikan. Terutama dampak secara psikis dan emosional. Alhasil, mereka lebih intens membelanjakan hampir separuh gajinya untuk healing dan self reward. Alasannya satu, demi kesehatan mental dan emosional.
Rangkaian fakta ini hadir sebagai dampak penerapan sistem yang menjadikan materi sebagai satu-satunya tujuan hidup. Kepuasan dan kebahagiaan jasadiyah menjadi standar keberhasilan. Inilah sistem kapitalisme sekuler yang membentuk pemahaman rusak esensinya. Konsep ekonomi ala kapitalisme terus menghimpit pemahaman gen Z.
Fakta terkait biaya hidup yang terus naik dan diperparah dengan gaji yang tetap pun merupakan dampak dari penerapan sistem kapitalisme yang diterapkan dalam setiap kebijakan negara. Alhasil negara menjadi abai dari tugas utamanya, yakni melindungi dan menjamin setiap kebutuhan hidup rakyat. Akibatnya, rakyat mencari solusi pelarian yang sama sekali tidak menuntaskan permasalahan.
Tekanan ekonomi pun kian hebat saat gaya sekuler liberal menjangkiti generasi muda. Self reward, gaya healing hingga konsumsi hedonis menjadi refleksi betapa penatnya generasi saat ini dengan kehidupan yang serba sulit. Gaya hidup ini pun memberikan dampak psikologis yang terus menjadi trend di tengah pergaulan generasi muda. Parahnya lagi, media sosial pun menjadi tempat kampanye senyap yang tak disadari. Media sosial terus menayangkan trend populer yang memicu FOMO (Fear of Missing Out/ kekhawatiran saat ketinggalan trend) dan gaya belanja yang impulsif.
Rangkaian fakta ini menunjukkan betapa mandulnya generasi muda. Mereka tak mampu memahami tujuan kehidupan. Akhirnya, kehidupan pun hanya disetir kenikmatan sesaat dan solusi yang menipu. Potensi generasi muda pun hilang begitu saja tanpa jejak kekuatan.
Potensi Generasi Muda
Generasi muda merupakan kekuatan utama suatu bangsa. Generasi muda dalam Islam menjadi aset luar biasa yang mampu menjadi penggerak yang tangguh menjemput peradaban gemilang.
Menyoal kesejahteraan rakyat, negara menjadi satu-satunya wadah yang menjamin setiap kebutuhan dasar rakyat melalui pengelolaan sumber daya alam dan jaminan lapangan pekerjaan yang layak bagi setiap rakyat, terlebih kepala keluarga. Dalam hal ini, gen Z sebagai generasi muda pun mendapatkan akses lapangan kerja yang sesuai keahliannya.
Negara memiliki kewajiban memberikan edukasi sistematis terkait gaya hidup. Secara utuh, negara menutup gaya hidup ala barat yang hedonis dan kapitalistik. Paparan konten yang merusak dikendalikan oleh negara dan menggantinya menjadi konten edukatif yang membangun kesadaran politis bagi generasi muda. Tujuannya agar mampu membangkitkan kesadaran berpikir dan mengembalikan posisi generasi muda sebagai agent of change. Agen perubahan yang mampu membawa kehidupan menjadi lebih baik di bawah naungan ketaatan pada syariat yang utuh dan menyeluruh.
Inilah kekuatan generasi dalam dalam paradigma Islam. Islamlah satu-satunya sistem tangguh yang mampu menjaga kemuliaan dan menebar kebaikan bagi setiap proses kehidupan. Demikianlah konsep ibadah dalam pandangan Islam. Tak sekedar ibadah secara individu namun konsep ibadah menyeluruh yang menjadi poros utama kehidupan setiap individu muslim.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”(TQS. Az-Zariyat: 56). Wallahu’alam bisshowwab. [LM/ry].
