Islam Mempersembahkan Dunia bagi Generasi Muslim

1001732082

 

Oleh Bintang Kejora

 

LensaMediaNews.com,Opini_ Anak-anak kaum Muslim Palestina harus hidup dalam tragedi yang tak pernah usai, bahkan kini mereka menjadi target kebiadaban Zionis. Ratusan anak ditahan di penjara-penjara Israel hingga Agustus 2026. Sebagian besar di Penjara Megiddo dan Penjara Ofer. Kondisi mereka memprihatinkan dan dilaporkan tanpa proses pengadilan yang transparan. Laporan dari lembaga hak asasi menyebutkan penahanan anak ini menjadi praktik berulang dan bagian dari strategi sistematis Zionis untuk menghancurkan masa depan anak-anak Palestina.

 

Kejahatan Zionis sungguh tak terperi. UNICEF dalam laporannya menggambarkan krisis berlapis menimpa anak-anak Gaza, sebagai akibat serangan yang terus menerus, pengungsian berulang kali, serta runtuhnya layanan dasar, hingga menimbulkan trauma fisik dan psikis dalam diri mereka.

 

Dalam Islam, Anak Bukan Target Perang

Sementara syariat Islam mengatur perlindungan terhadap anak-anak di saat perang, juga memuliakan, menjaga dan memberi harapan masa depan. Dalam kitab Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah jilid II tulisan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, bahwasanya yang menjadi tawanan perang adalah pihak yang tertangkap setelah benar-benar terlibat dalam peperangan. Maka perempuan dan anak-anak yang tidak ikut berperang, tidak otomatis diperlakukan sebagai tawanan perang. An-Nabhani membahas as-sabiy (perempuan dan anak-anak) yang memang dibawa ke medan perang oleh pihak musuh.

 

Di dalam kitab tersebut dijelaskan bahwasanya khalifah memiliki pilihan untuk membebaskan mereka atau menjadikan mereka hamba. Tidak ada tebusan bagi mereka. Rasulullah ﷺ tidak selalu menjadikan mereka sebagai budak. Dalam Perang Khaibar misalnya, perempuan dan anak-anak dibiarkan tetap merdeka. Begitu pula pada Perang Hunain, Rasulullah ﷺ bahkan membebaskan as-sabiy.

 

Islam Melindungi Anak-Anak

Dalam Islam anak adalah amanah Allah yang harus dijaga dengan baik. Mereka merupakan generasi penentu masa depan umat. Islam mengajarkan berkasih sayang kepada anak sebagaimana keteladanan yang diberikan Rasulullah ﷺ saat beliau mencium Hasan bin Ali.

Menariknya, hal tersebut bukanlah sesuatu yang dianggap lemah, melainkan menunjukkan keutamaan akhlak seorang Muslim. Sebagaimana disebutkan,

Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi anak-anak kami…”

(HR al-Adab al-Mufrad 363) 

 

Maka membiarkan mereka dalam petaka merupakan bentuk kelalaian. Sebab ketika anak-anak kehilangan sekolah, keluarga, kesehatan, rasa aman dan masa kecilnya, secara massal, dampaknya bisa berlangsung sangat lama bahkan setelah bom berhenti. Dan ini bukan lagi masalah kemanusiaan, melainkan ada amanah yang sedang dilanggar. Dalam Islam, anak adalah amanah Allah yang wajib dijaga. Mereka bukan milik orang dewasa yang bisa diperlakukan sekehendak hati. Karenanya wajib bagi orang tua, keluarga, masyarakat dan juga negara memperhatikan nasib manusia kecil ini. Mereka memiliki hak hidup, dan mendapatkan pemenuhan kebutuhan asasiyahnya berupa: nafkah, pemeliharaan, kasih sayang, serta perlindungan dari ancaman dan kekerasan.

 

Anak-anak juga memiliki posisi istimewa di dalam Islam, yang harus disiapkan sedari dini menjadi pembangun peradaban. Maka pendidikan yang diberikan pada mereka pun tidak berhenti hanya menjadikan mereka pintar, tetapi harus dapat membentuk kesadaran agar mereka sanggup memikul beban kebangkitan umat.

 

Sejak usia belia mereka diajarkan untuk mengenal Rabb-nya, memahami keindahan kehidupan Islam, dan mencintai Rasulullah saw. Mereka pun harus memiliki arah pandang yang benar tentang kehidupan, dan mampu memberikan manfaat bagi umat. Itulah yang menjadikan generasi sebagai investasi peradaban. Sebuah masyarakat bisa kehilangan gedung, harta, bahkan infrastruktur, akan tetapi selama generasinya berkualitas, beriman dan berilmu, maka sebuah peradaban masih bisa dibangun kembali.

 

Karena itu, menyerang anak, sejatinya adalah menghancurkan lebih dari satu nyawa. Ketika anak-anak meregang nyawa, yang dihancurkan bukan hanya sebuah keluarga, tetapi sebuah kehidupan dan kesempatan lahirnya satu generasi pembangun peradaban, seperti calon guru, calon dokter, ilmuwan, ulama, pejuang, pemimpin, atau orang-orang salih lainnya.

 

Jika dunia hari ini hanya mampu berpangku tangan menonton penderitaan anak-anak yang menjadi korban perang, serta membiarkan sebuah mereka tumbuh dalam kondisi mengenaskan, maka ini membuktikan bahwa dunia yang ada sekarang, tak mampu menjaga generasi.

 

Selayaknya kita kembali kepada corak kehidupan Islam yang menebarkan rahmat bagi semesta alam. Islam mampu memberi jalan lempang bagi generasi, menghiasi masa depannya bahkan memberikan dunia di dalam genggaman tangan mereka. Islam membangun sebuah sistem yang membuat anak-anak dapat hidup dengan aman, terpelihara dan tumbuh menjadi generasi berkualitas. Hanya Islam mampu melahirkan kepemimpinan yang mendunia. Tsumma takuunu khilaafatan a’la minhajin nubuwwah.