Self-Reward atau Pelarian? Gen Z di Tengah Himpitan Ekonomi

Oleh: Niskala Salsabila
Lensa Media News, Remaja — “Kerja keras bagai kuda, tetapi gaji tetap segini-gini aja. Sebenarnya gua hidup untuk apa, sih?”
Mungkin, seperti inilah isi hati sebagian Gen Z. Katanya, generasi paling pemberani dan tidak takut kepada siapa pun. Namun, nyatanya, Gen Z justru menjadi generasi yang paling merasa tidak aman secara finansial. Survei Deloitte (2025) menyatakan bahwa 48% Gen Z mengalami ketidakamanan finansial, meskipun sepanjang hari mereka telah menghabiskan waktu untuk fokus mencari uang.
Loh, kok bisa?
Gen Z sebagai generasi muda sering kali terbuai dengan istilah self-reward karena merasa berhak menggunakan gajinya untuk menghibur diri, memenuhi kebutuhan emosional, dan memuaskan inner child yang meronta-ronta di dalam dada. Akhirnya, tanpa sadar, mereka sering membeli sesuatu hanya untuk memenuhi rasa senang sesaat.
“Lebih baik menyesal karena membeli daripada penasaran.”
Kiranya, begitulah pikiran sebagian Gen Z. Mereka cenderung lebih khawatir tidak dapat berbelanja sesuka hati dan senang mengikuti tren agar tidak ketinggalan. Hal ini membuat Gen Z terjebak dalam budaya konsumtif dan belanja impulsif.
Lantas, mengapa hal ini bisa terjadi?
Perilaku konsumtif yang sering dilakukan oleh Gen Z merupakan efek dari tekanan ekonomi yang menghimpit. Gen Z merasa bahwa meskipun sudah bekerja keras, bahkan hingga mencari pekerjaan sampingan, gaji yang mereka dapatkan tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup karena kebutuhan dasar terus mengalami kenaikan secara signifikan.
Di samping itu, banyaknya konten influencer yang mayoritas menampilkan kehidupan hedonistis dan tren populer membuat belanja impulsif dengan alasan self-reward dianggap sebagai “solusi” untuk mengatasi penat dan sesaknya kehidupan serta dunia pekerjaan.
Parahnya, di tengah tekanan ekonomi yang semakin menghimpit, generasi ini semakin kehilangan arah karena keliru dalam memahami tujuan hidupnya. Mereka selalu mengukur kebahagiaan hanya sebatas pencapaian materi.
Semua permasalahan ekonomi serta hilangnya arah dan tujuan hidup manusia yang sesungguhnya sangat mungkin terjadi karena negara tidak hadir dalam memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya.
Negara lepas tangan karena memang dalam sistem kapitalisme, kehidupan hanya berorientasi pada keuntungan materi. Akibatnya, rakyat dibiarkan berjuang sendirian dan merasakan penderitaan di tengah himpitan ekonomi yang semakin menyesakkan.
Padahal, jika kita melihat lebih jauh ke dalam sistem ekonomi Islam, negara memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya. Negara wajib mengelola sumber daya alam (SDA) untuk kepentingan rakyat, bukan demi menggemukkan kantong para pejabatnya. Dalam Islam, negara harus memastikan tersedianya lapangan pekerjaan yang layak sehingga rakyat, termasuk Gen Z, tidak merasa berjuang sendirian.
Selain itu, dalam Islam, setiap konten yang ditayangkan harus memberikan edukasi dan membawa kemaslahatan. Konten yang dapat meningkatkan rasa syukur dan ketakwaan kepada Allah ﷻ perlu dikembangkan sehingga konten-konten populer yang menampilkan kehidupan konsumtif dan hedonistis dapat ditekan.
Dengan demikian, rakyat, termasuk Gen Z, tidak akan merasakan kesengsaraan dalam menjalani hidup akibat tekanan ekonomi yang tinggi. Sebab, lingkungan yang diciptakan tidak menuntut keberhasilan hanya sebatas materi. Keberhasilan diukur ketika seseorang menaati segala hukum syarak dan beribadah kepada Allah ﷻ, sebagaimana tujuan hidup manusia yang Allah ﷻ tuangkan dalam QS. adz-Dzāriyāt ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
Wallāhu aʿlam biṣ-ṣawāb. [LM/Ah]
