Generasi Rapuh, Buah dari Sekulerisme

Oleh: Ummu Maryam
Opini_LenSa Media News_ Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, kesetaraan justru menjadi persoalan yang semakin nyata. Media sosial membuat manusia dapat terhubung dengan siapa saja, kapan saja. Namun, banyaknya koneksi tidak selalu menghadirkan kedekatan. Di balik aktivitas yang padat, pencapaian akademik, pekerjaan, maupun kehidupan sosial, sebagian generasi muda justru menghadapi stres dan tekanan yang tidak terlihat.
Peristiwa yang terjadi di Malang dan Jakarta kembali menunjukkan seriusnya permasalahan tersebut. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya berinisial RR (19) diduga melakukan percobaan bunuh diri dengan melompat dari lantai enam gedung di kampus Kamis (10-9-2026). Beberapa hari sebelumnya, seorang pria berinisial FS (30) ditemukan meninggal dunia di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta Pusat, pada Minggu (6-9-2026) dini hari dan diduga bunuh diri. Sebelum kejadian, FS sempat mengunggah pesan perpisahan dan mendonasikan Rp. 40 juta kepada komunitas kesehatan mental.
Kasus-kasus tersebut bukan sekadar persoalan individu. Data layanan pencegahan bunuh diri Healing 119.id juga menunjukkan bahwa klien yang mengakses layanan didominasi kelompok usia 21-30 tahun. Fakta ini menunjukkan bahwa tekanan psikologis serius banyak dialami kelompok usia muda, yaitu generasi yang seharusnya berada dalam fase membangun masa depan.
Ketika Kesuksesan Tidak Lagi Menjamin Ketenangan
Mengapa generasi muda yang hidup di era serba mudah terhubung justru dapat merasa begitu kesepian?
Salah satu akar permasalahannya dapat dilihat dari paradigma sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Ketika keberhasilan hidup lebih banyak diukur melalui prestasi, materi, popularitas, dan pencapaian individu, manusia berpotensi kehilangan jawaban mendasar tentang apa ia hidup dan kepada siapa kehidupan ini dipertanggungjawabkan.
Kapitalisme dengan orientasi individualistik juga berkontribusi membentuk pola kehidupan semacam ini. Persaingan ekonomi membuat setiap individu didorong untuk mencapai keberhasilan masing-masing. Ukuran keberhasilan sering dikaitkan dengan produktivitas, pendapatan, kepemilikan, dan status sosial. Dalam kondisi demikian, persoalan hidup mudah dipandang sebagai tanggung jawab pribadi semata.
Akibatnya, ketika seseorang gagal mencapai standar yang dibangun masyarakat, ia dapat merasa tertinggal, tidak berharga, bahkan menjadi beban. Padahal manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial yang membutuhkan dukungan, perhatian, dan kepedulian.
Kesehatan mental pribadi tentu tidak dapat menimbulkan ketidaknyamanan hanya sebagai akibat dari satu faktor. Kondisi setiap individu berbeda dan kasus bunuh diri memiliki latar belakang yang kompleks. Namun, lingkungan sosial dan sistem kehidupan turut mempengaruhi bagaimana manusia memaknai masalah, membangun hubungan, dan mencari pertolongan.
Sistem pendidikan sekuler cenderung mengecewakan akademik dari pembentukan kepribadian berbasis agama. Sementara itu, sistem ekonomi kapitalistik menjadikan persaingan dan pencapaian materi sebagai bagian yang dominan dalam kehidupan.
Islam Membangun Benteng Jiwa dan Masyarakat
Islam menawarkan paradigma yang berbeda. Akidah tidak ditempatkan hanya sebagai urusan ibadah pribadi, tetapi menjadi landasan dalam menjalani seluruh kehidupan.
Sejak dini, kepribadian seorang muslim dibangun dengan keyakinan bahwa kehidupan dunia merupakan ujian dan setiap kesulitan memiliki hikmah dalam ketetapan Allah. Keyakinan kepada Allah, kehidupan akhirat, serta adanya pahala dan dosa membentuk cara pandang yang membuat seorang Muslim tidak menjadikan keberhasilan duniawi sebagai satu-satunya ukuran kebahagiaan.
Islam juga dengan tegas mengharamkan bunuh diri. Larangan tersebut bukan sekedar aturan hukum, namun menjadi bagian dari penjagaan jiwa dan terbentuknya kesadaran bahwa kehidupan merupakan amanah dari Allah.
Negara sebagai Pelindung Generasi
Dalam perspektif Islam, penyelesaian permasalahan generasi tidak cukup hanya dengan menyediakan layanan konseling setelah masalah muncul. Negara memiliki tanggung jawab menciptakan lingkungan kehidupan yang mendukung terbentuknya manusia yang kokoh secara akidah, sehat secara sosial, dan memenuhi kebutuhan dasarnya.
Konsep Khilafah yang menerapkan Islam secara kaffah menempatkan pendidikan sebagai sarana pembentukan kepribadian Islam. Ekonomi Islam juga memiliki mekanisme tersendiri untuk menjamin kebutuhan dasar masyarakat dan mencegah kekayaan hanya berputar di kalangan tertentu.
Tujuannya bukan menciptakan manusia yang bebas dari masalah. Sebab ujian kehidupan akan selalu ada. Namun, manusia dibentuk agar memiliki pegangan ketika menghadapi ujian, sementara masyarakat dan negara hadir sebagai bagian dari solusi. Islam menawarkan kehidupan yang menempatkan akidah sebagai fondasi, keluarga dan masyarakat sebagai pelindung, serta negara sebagai penjaga kemaslahatan rakyat.
Wallahu’alam .
( LM/Sn )
