Langit Merah Jingga

Karhutla

Oleh Bintang Kejora

 

Lensa Media News, Opini — Masyarakat Paduran Sebangau, Kalimantan Tengah, menyaksikan fenomena alam yang tak biasa, yaitu langit berwarna oranye pekat hingga merah menyala. Di beberapa wilayah di Kalimantan Barat, demikian pula halnya. Bukan pemandangan yang indah, pun jauh dari romantis, sebab warna tersebut muncul akibat tingginya konsentrasi partikel aerosol dan kabut asap pekat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

 

Secara ilmiah, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi karena proses hamburan Rayleigh (Rayleigh Scattering) yaitu penyaringan cahaya karena tebalnya asap karhutla, dengan partikel polutan berukuran sangat kecil. Partikel asap tersebut menyerap dan menghamburkan gelombang cahaya pendek yang berwarna biru, hijau, dan kuning. Hanya gelombang cahaya terpanjang yang sanggup menembus ketebalan asap hingga sampai ke mata manusia, yaitu oranye (jingga) dan merah.

 

Fenomena langit semacam ini menandakan tingkat polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Konsentrasi partikulat (PM2.5) di wilayah terdampak, bahkan sempat melonjak hingga puluhan kali lipat di atas ambang batas aman. Maka perlu upaya  tanggap darurat bencana yakni pemadaman segera pada sumber api dengan water bombing, yaitu menggunakan helikopter pengebom air, dan Satgas Darat berupa tim darat (Manggala Agni, TNI, Polri, dan relawan) untuk menyekat kobaran api di wilayah yang bisa dijangkau manusia.
Dapat pula melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yaitu menyemai garam (NaCl) di awan potensial untuk mempercepat turunnya hujan buatan sebagai pemadaman titik api (hotspot) berskala besar.

 

Tak hanya upaya pemadaman api, juga perlu sanksi tegas terhadap pelaku kerusakan hutan, berupa sanksi administratif, pencabutan izin usaha, denda materiil bagi perusahaan perkebunan yang terbukti sengaja membuka lahan dengan cara dibakar (slash and burn), hingga sanksi pidana. Pun tak bisa hanya bertindak reaktif, tetapi perlu pencegahan dan kepastian hukum agar karhutla tak menjadi ritual tahunan.

 

Kapitalisme meniscayakan terjadinya kerusakan ini. Demi mendapatkan materi, manusia akan melakukan segala cara, termasuk mengeksploitasi hutan. Tidak hanya manusia yang akan terdampak, melainkan satwa dan tanaman juga ikut musnah. Tatanan kehidupan ini terbukti tak mampu mengelola kehidupan dengan baik, oleh sebab itu perlu ada sistem pengganti yang akan menyelamatkan alam raya ini beserta isinya.

 

Solusi Hakiki

Dalam sistem ekonomi Islam, hutan dikategorikan sebagai kepemilikan umum (milkiyah ammah), yaitu hutan sebagai aset milik seluruh rakyat yang pengelolaannya wajib diatur oleh negara demi kemaslahatan bersama.
Kaum muslim berserikat (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal: air, rumput (padang gembala/hutan), dan api.” (HR Abu Dawud).

 

Karhutla bukan hanya kesalahan individu pelaku pembakaran, tetapi merupakan persoalan sistemik sehingga perbaikannya pun harus dilakukan di beberapa lini kehidupan manusia. Islam melarang swastanisasi atau privatisasi hutan. Kepemilikannya tidak boleh dikuasai oleh individu, korporasi atau swasta yang akan mengeksploitasinya demi kepentingan bisnis segelintir orang, seperti yang terjadi pada alih fungsi lahan gambut skala masif menjadi perkebunan monokultur.

 

Negara merupakan pengatur dan pengelola urusan rakyat, bukan pemilik yang bisa menjual atau mendelegasikannya kepada pihak lain. Dalam Islam, negara wajib menjaga kelestarian hutan dari kerusakan (dharar) dan memberi sanksi tegas yang bersifat penebus (jawabir) dan pencegah (zawajir), bagi perusak milkiyah ammah.
Negara juga mengatur pihak-pihak yang akan mengelola milkiyah ammah dengan akad ijarah. Kemudian mengembalikan hasil pengelolaannya berupa kayu atau selainnya, untuk fasilitas umum dan kemaslahatan publik.

 

Dalam tatanan kehidupan yang penuh berkah, alam pun berada dalam perlindungan. Sehingga semburat jingga yang dihasilkannya bukan refleksi kengerian seperti pada film fiksi ilmiah, melainkan benar-benar keindahan dan nikmat Allah yang tak terhingga. Teja merah jingga akan tampak di senja hari, jelang matahari terbenam. Tanpa asap, bau dan polusi. Yang ada hanya fenomena alami yang memukau, Mahakarya Allah Sang Pencipta semesta alam. Allahumma ahyanā bil Islām.