Mahal Biaya Hidup, Konten Haram Ditempuh

Blue and White Modern Bordered Background Instagram Post_20261017_094327_0000

Oleh Rahmi Lubis

LenSa Media News, Opini—Miris, seorang warga Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai ditangkap oleh polisi. Pelaku adalah seorang pria berinisial BI alias Zilla (34) diduga menjadi pemeran konten pornografi gay lalu menjualnya di aplikasi Michat (CNN News, 5-08-26). Desakan ekonomi yang menuntut terasa menghujam. Beban biaya hidup yang semakin mahal. Upaya memenuhi kehidupan jauh dari kata “Bahagia”. Sulitnya memenuhi kebutuhan hidup hampir dirasakan oleh semua masyarakat, terutama kepala keluarga. Fakta inilah yang harus disadari oleh umat manusia bahwa hidup ini tidak sedang baik-baik saja.

Canggihnya teknologi berkembang sesuai dengan perubahan pola hidup manusia saat ini. Konten digital yang bisa menghasilkan uang menjadi salah satu alternatif bagi para penganggur. Namun, sangat disayangkan, konten yang disukai dan diminati berbeda jauh dari moral dan agama pada masyarakat. Contohnya kelainan seksual yang dijadikan bahan tontonan. Konten seperti ini dianggap potensial dan menguntungkan. Benarkah jika hal demikian dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya?

Bahaya Sistem Sekulerisme

Penerapan sistem sekulerisme berlaku saat ini. Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan, menggunakan asas manfaat sebagai landasan perbuatan. Sehingga menjadikan indikator benar atau salah tidak lagi mempunyai arah. Inilah bahaya sekulerisme. Baik dan benar tidak ada indikator yang jelas.

Sejatinya manusia yang serba lemah, kurang, dan terbatas tidak akan bisa menentukan solusi dari permasalahan hidupnya. Pemikiran yang sangat jauh dari standar kebenaran. Maka wajar saja, konten-konten yang dianggap senonoh menjadi sebuah kewajaran atau kenormalan untuk dipublikasikan.

Anehnya, konten yang vulgar atau mengandung seksual malah menjalar ke arah kaum pelangi atau LGBT. Konten-konten ini sekarang menjadi pundi-pundi penghasilan bagi para pelaku dan penikmatnya. Aneh bukan? Sesuatu yang ditolak oleh norma masyarakat, namun menjamur di kalangan masyarakat. Bahaya inilah yang dimaksud dalam sistem sekulerisme.

Ketidakjelasan akan hakikat kebenaran menjadi kelemahan pada sistem saat ini.Tingginya tuntutan memenuhi kebutuhan hidup dan rendahnya pemikiran, menjadi kompleks permasalahan saat ini. Kaum pelangi kini mendapatkan wadah di tengah masyarakat walaupun bertentangan dengan norma masyarakat apalagi norma agama.

Di sinilah harus muncul kesadaran bagi masyarakat bahwa sistem kehidupan yang berlaku saat ini tidak bisa menjamin kebenaran hakiki. Maka harusnya kita sebagai manusia, yang diberikan akal pemikiran dapat menjawab problematika yang terjadi saat ini.

Benarkah pelaku yang ditangkap oleh aparat kepolisian karena menjual konten gay ini hanya seorang atau mungkin sudah sebagian besar? Alasan ketidakberdayaan memenuhi kebutuhan hidup menjadi pembenaran dalam menjual konten gay, lantas mengapa ini harus terjadi?

Islam Solusi Permasalahan

Sebuah pohon yang rusak dari bibit dan akarnya maka tidak bisa menghasilkan buah yang segar. Seperti itulah sistem yang berlaku saat ini. Sistem sekulerisme adalah sistem yang berasal dari manusia, tidak akan bisa menjadikan manusia yang mulia. Disinilah pemahaman ini harus disadari. Tidak ada sistem yang benar untuk mengatur kehidupan manusia, kecuali dari Sang Pencipta pencipta. Maka dari sini, Islam menjadi satu-satunya solusi sistem yang benar. Sistem yang berasal dari Sang Pencipta. Baik dan benar bukan dari hawa nafsu atau kepentingan, namun dari aturan Sang Khalik sebagai Al Mudabbir atau sebagai Sang Pengatur. Maka tidak akan mungkin menjual konten gay merupakan hal yang menjadi solusi dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Sejatinya manusia akan memecahkan solusi atas permasalahan hidupnya berdarkan standar yang jelas yaitu Al Qur’an dan As Sunnah. Lantas, mahalnya biaya hidup yang menjadi persoalan, harusnya sudah ditangani oleh penguasa sebagai pelayan umat. Kesejahteraan ekonomi ini sudah menjadi visi misi dalam Daulah Islam. Negara yang berbasis akidah Islamiyyah yang menganut peraturan ekonomi dan sistem kehidupan berdasarkan aturan Sang Pencipta. Penjaminan hidup sejahtera tanpa mengharuskan keyakinan pada tiap individu harus memeluk agama Islam islam. Semua masyarakat yang hidup dalam daulah akan dijamin kesejahteraan dan keamanan menjadi warga negara tanpa paksaan untuk memeluk agama tersebut. Di sinilah keadilan Islam jelas tampak. Maka sebagai umat Islam, kita harus menjadikan kesadaran untuk menegakkan kembali sistem paripurna yang telah hilang sampai saat ini. Inilah yang menjadi tugas utama kita, bahwasanya Islam bukan hanya agama melainkan, sistem kehidupan yang paripurna untuk semua umat.

(LM/Sn)