Hari Santri: Momen Mengembalikan Kittah Santri sebagai Arsitek Peradaban Islam

Blue and White Modern Bordered Background Instagram Post_20261029_195110_0000

Oleh: Sunarti

LenSa Media News, Opini — Setiap 22 Oktober, negeri ini memperingati Hari Santri. Berdasarkan data verifikasi By Name By Address (BNBA) Kemenag RI, jumlah santri di Indonesia tercatat lebih dari 4,7 juta jiwa yang tersebar di puluhan ribu pesantren. (Sumber: http://Kompas.com, 18-10-2026, “Kemenag Catat 4,7 Juta Santri Terverifikasi Jelang Hari Santri”).

Kemenag tahun ini mengangkat tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas 2045”. Sementara PBNU mengangkat tema “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri”. (NU Online, 15-10-2026).

Narasi resminya mendorong santri menjadi generasi berkarakter, produktif, adaptif, menguasai IPTEK dan mandiri ekonomi.

Sepintas terlihat mulia. Namun di sinilah letak masalah krusialnya.

Ketika peran santri dibingkai hanya untuk “menguatkan negeri” dalam batas nation-state, sesungguhnya ada reduksi peran hakiki. Potensi 4,7 juta santri ini bukan sekadar angka statistik untuk menyokong program Indonesia Emas yang berparadigma sekuler-kapitalistik. Jika orientasinya hanya menjadi pekerja kreatif dan penjaga tradisi, maka pesantren kehilangan jati dirinya sebagai ma’had pencetak kader ulama warasatul anbiya.

Realitas peringatan hari ini pun membuktikannya. Lebih banyak diisi karnaval, lomba shalawat, dan apel kebangsaan. Esensi santri sebagai thalibul ilmi yang mendalami turats dan fiqih secara mendalam, pelan-pelan terpinggirkan.

Perubahan yang Sistematis

Pertama, dari ulama menjadi staf pembangunan. Santri tidak lagi disiapkan menjadi mujtahid dan pemimpin umat, tetapi menjadi tenaga terampil untuk pasar.

Kedua, dari jihad fikriyah menjadi seremonial. Hari Santri yang seharusnya menjadi momen muhasabah peradaban, berubah menjadi ajang tahunan yang hampa makna. Padahal akar Hari Santri adalah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang dikeluarkan Hadratussyekh Hasyim Asy’ari. (Sumber: http://Detik.com, 21-10-2026, “Sejarah Resolusi Jihad Cikal Bakal Hari Santri”

Ketiga, dari ukhuwah islamiyah menjadi nasionalisme. Akibatnya santri merasa cukup berjuang untuk Indonesia, dan lupa bahwa saudara di Palestina dan belahan dunia lain adalah bagian dari tubuh umat yang sama.

Sudah saatnya kita kembalikan khittah santri yang sebenarnya. Pesantren adalah benteng terakhir umat. Tugas santri bukan hanya menjaga negeri, tapi menjaga dien.

Sejarah mencatat peradaban Islam tegak 1300 tahun karena dipimpin ulama dan umara yang bersinergi dalam institusi Khilafah. Santri hari ini seharusnya bercita-cita menjadi negarawan dan pemimpin yang akan membangun kembali izzul Islam wal muslimin.

Islam adalah rahmatan lil alamin yang melampaui sekat geografis. Solusi tuntas bagi keterpecahan umat hari ini adalah satu kepemimpinan untuk seluruh kaum muslimin, yaitu Khilafah ala minhajin nubuwwah.

Jangan biarkan Hari Santri hanya menjadi perayaan seremonial. Jadikan momentum ini untuk bertanya, mau dibawa ke mana 4,7 juta santri ini?

Waallahu alam bisawab 

(LM/Sn)