Karhutlah, Bencana Alam atau Bencana Sistem?

Karhutlah-LenSaMediaNews

Oleh: Audia L. Maulita

Pena Peradaban

 

Lensamedianews,Opini—Kalimantan, langitnya tidak lagi berwarna biru, melainkan berubah menjadi kuning pekat tertutup kabut asap yang beracun. Jangan memilih diam hanya karena kita tidak merasakannya.

Karhutla bukan sekadar hutan yang terbakar, tetapi ada kehidupan yang terancam. Banyak saudara kita yang kesulitan menghirup udara bersih, anak-anak mulai terserang ISPA, dan satwa-satwa kehilangan habitat bahkan nyawa mereka.

 

Dampak Karhutla

Data terbaru Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes), hingga pertengahan Oktober 2026, tercatat akumulatif ada 277.075 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang disebabkan oleh kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dari total angka tersebut, kelompok yang paling rentan, yaitu anak-anak/balita (usia 0–5 tahun), mendominasi hingga 62.400 kasus (sekitar 22,5 persen).

Kasus ini tersebar di 63 kabupaten/kota pada 7 provinsi yang terdampak utama, meliputi Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Udara di wilayah tersebut mengandung partikel halus PM2.5, karbon monoksida, dan senyawa beracun yang dapat merusak sistem pernapasan.

 

Respons Pejabat Nir Empati dan Tidak Berpikir Secara Logis

Muncul pernyataan Muhidin, Gubernur Kalimantan Selatan,“Kita meninjau bersama-sama ternyata tidak parah. Heli pun tidak ada hari ini. Biasanya kalau parah heli itu ada menyiram, ini tidak ada. Artinya tidak parah.”Kemudian,“Bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi.” Pernyataan dari Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran). Ditambah, “Kualitas udara untuk Kalimantan Timur Alhamdulillah masih semuanya aman terkendali, masih dalam kondisi aman.” Pernyataan dari Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud. Pernyataan para pemimpin ini semua bermuara pada satu hal, mereka mati hati dan tak berpikir secara logis.

 

Bencana Hasil dari Sistem yang Serakah

Bumi tidak akan tiba-tiba merusak dirinya sendiri. Secara alamiah, api mempunyai sifat membakar, gambut kering akan mudah tersulut, dan angin akan memperluas kobaran. Ini merupakan keteraturan alam dan potensi yang dimiliki benda yang sejatinya kita imani sebagai qadar Allah.

Namun, jika kita lihat, yang terjadi di Kalimantan ini bukan bencana alam, melainkan bencana yang tersistem atas dasar kepentingan sekelompok orang dan keserakahan. Ada keputusan politik perizinan sawit yang ugal-ugalan, ada pembukaan lahan baru, dan ada pembakaran yang memang disengaja, yang menguntungkan sebagian orang dan menyengsarakan banyak orang, terutama masyarakat kecil.

Penanganan karhutla sangat lemah, bahkan memang sengaja dibiarkan untuk kepentingan proyek tertentu. Mirisnya, efek karhutla sudah meluas, bahkan sampai di negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, namun negara tetap minim penanganan.

 

Solusi Islam Mengatasi Karhutla

Dalam Islam, kekayaan alam yang melimpah tidak boleh dimiliki oleh segelintir orang. Sebaliknya, pengelolaan SDA digunakan untuk kemaslahatan bersama. Rasulullah Saw. Bersabda,” Manusia berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput (hutan), dan api (energi).” (HR. Abu Dawud).

Islam memberi solusi permasalahan karhutla, dibagi ke dalam tiga pilar diantaranya pilar pertama, individu, dimana setiap individu harusnya mempunyai kesadaran untuk menjaga alam sebagai amanah Allah dan bertakwa dengan syariat Allah. Pilar kedua, masyarakat, yang berani untuk menyuarakan pendapat dan membela mereka yang dirugikan oleh korporasi.Pilar ketiga, penguasa, seharusnya mampu mengeluarkan regulasi tegas dan menindak perusak lingkungan.

 

Belajar dari Sejarah

Ketika Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq mengutus pasukannya menuju wilayah Syam di bawah pimpinan Yazid bin Abu Sufyan, beliau memberikan sepuluh pesan kepada pasukannya. Salah satunya adalah larangan menebang pohon yang sedang berbuah dan membakar pohon kurma. Perintah Abu Bakar menunjukkan bahkan dalam kondisi peperangan sekalipun, Islam mengajarkan manusia untuk tetap menjaga kehidupan. Ada batasan yang tidak boleh dilanggar. Logikanya, jika dalam perang saja diatur bagaimana mungkin dalam keadaan damai manusia justru dengan sengaja membakar hutan demi kepentingan ekonomi? Inilah kesempurnaan Islam, bukankah seharusnya kita memperjuangkannya? Wallahualam bissawab. [LM/ry].