Board of Peace: Dewan Perdamaian yang Mencederai Fitrah Kemanusiaan

1001326564

 

Oleh Nadisah Khairiyah

 

LensaMediaNews.com, Opini_ 

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا
Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.”
(QS ar-Rūm [30]: 30)

Setiap manusia diciptakan dengan fitrah. Fitrah untuk mencintai keadilan. Fitrah untuk membenci kezaliman. Fitrah untuk membela yang tertindas. Karena itulah, ketika dunia menyaksikan Gaza dibombardir, anak-anak dibunuh, rumah-rumah dihancurkan, dan tanah dirampas, hati manusia yang masih hidup pasti bergetar. Itu bukan karena kita lemah. Itu karena fitrah kita masih berfungsi. Namun Allah tidak hanya menurunkan fitrah. Allah juga menurunkan agama sebagai sistem kehidupan, agar fitrah itu terjaga, terarah, dan tidak dikalahkan oleh hawa nafsu dan kepentingan manusia.

 

Fitrah Tidak Cukup Dijaga dengan Niat Baik

Fitrah membutuhkan aturan.
Aturan membutuhkan sistem.
Dan sistem membutuhkan institusi yang menegakkannya. Islam tidak diturunkan sekadar sebagai ibadah personal, tetapi sebagai manhaj kehidupan yang mengatur seluruh aspek hidup manusia, termasuk politik, keamanan, hukum, dan hubungan antarnegara. Allah telah mengingatkan dengan sangat jelas:
وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ
Seandainya kebenaran mengikuti hawa nafsu mereka, pasti rusaklah langit dan bumi.”
(QS al-Mu’minūn [23]: 71)

Ketika sistem Allah ditinggalkan, lalu akal manusia dan kepentingan kekuasaan dijadikan standar kebenaran, maka kerusakan bukanlah kemungkinan melainkan kepastian.
Dan di titik inilah persoalan Palestina harus dipahami. Bukan sebagai isu kemanusiaan belaka, tetapi sebagai akibat langsung dari hilangnya sistem dan kepemimpinan Islam dalam mengatur dunia.

 

Saat Institusi Islam Hilang, Sistem Kafir Mengambil Alih

Sejarah memperlihatkan satu fakta yang tidak pernah berubah: dunia selalu dipimpin oleh suatu sistem. Ada masa ketika Persia memimpin dunia. Ada masa Romawi menguasai peradaban. Dan ada masa Islam memimpin dunia, di bawah kepemimpinan Rasulullah ﷺ dan para penerus beliau. Namun ketika umat Islam tidak lagi memiliki institusi global yang menegakkan sistem Allah, kekosongan itu tidak pernah dibiarkan lama. Ia segera diisi oleh sistem buatan manusia. Maka tampil kembali sistem kufur: kapitalisme, imperialisme, dan standar ganda sistem yang mengagungkan kepentingan, bukan keadilan; kekuatan, bukan kebenaran.

Dalam kondisi inilah Allah mengingatkan kaum beriman:
وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang Mukmin.”
(QS an-Nisā’ [4]: 141)

Ayat ini bukan sekadar peringatan, tetapi motivasi kebangkitan.
Agar kaum Mukmin kembali menjalankan fungsinya sebagai penebar rahmat bagi seluruh alam. Sebab setiap kali kaum beriman menjalankan sistem kafir, saat itu pula mereka membuka jalan bagi penjajah untuk menguasai hidup mereka bahkan mengendalikan arah dunia.

 

Board of Peace: Nama Indah, Luka yang Dalam

Di sinilah Board of Peace (BoP) harus dibaca dengan jujur dan sadar iman.
Dewan ini digagas dan dipimpin oleh Amerika Serikat, negara dengan rekam jejak panjang invasi dan penghancuran negeri-negeri Muslim. Namun hari ini, Amerika tampil sebagai juru damai bagi Gaza.
Namanya terdengar indah: Peace.
Namun isinya justru mencederai fitrah kemanusiaan. Mengapa? Karena BoP:
• Merampas hak rakyat Gaza dengan membentuk struktur pemerintahan asing.
• Mendorong pelucutan senjata rakyat yang dijajah, sementara penjajah tetap bersenjata.
• Tidak melibatkan rakyat Palestina sebagai subjek utama.
• Justru memberi ruang kepada Zionis Yahudi, penjagal Gaza, sebagai bagian dari solusi.
• Sama sekali tidak menyentuh akar penjajahan dan perampasan tanah Palestina.
Ini bukan perdamaian. Ini adalah penataan ulang penjajahan dengan kemasan diplomasi.

Ketika Korban Diminta Mengalah, Dunia sedang Sakit

Secara fitrah, setiap manusia tahu:
yang salah adalah penjajah, bukan yang melawan, yang harus dihentikan adalah agresi, bukan perlawanan.
Rasulullah ﷺ bahkan memuliakan orang yang mati membela diri, keluarga, darah, dan agamanya. Itu menunjukkan bahwa melawan penjajahan adalah kehormatan, bukan kejahatan. Namun sistem dunia hari ini telah terbalik. Karena ia tidak berdiri di atas wahyu, melainkan di atas kepentingan politik penjajah.

 

Khilafah: Perisai yang Hilang

Palestina tidak kekurangan konferensi. Umat Islam tidak kekurangan resolusi. Yang hilang adalah perisai umat.Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ
Imam (Khalifah) adalah perisai.”

Sepanjang sejarah, hanya di bawah Khilafahlah darah dan kehormatan kaum Muslim benar-benar terjaga. Ketika perisai ini hilang, umat diserang dari segala arah, dan sistem kafir dengan mudah menentukan nasib Palestina.

 

Kembali ke Fitrah, Kembali ke Sistem Allah

Wahai kaum Muslim, jangan biasakan hati kita menerima kezaliman yang dibungkus rapi. Jangan biarkan fitrah kita mati oleh istilah perdamaian palsu. Dan jangan rela sistem Allah digantikan oleh sistem penjajah.
Fitrah menuntun kita kepada kebenaran.
Wahyu menjelaskan jalannya. Sejarah membuktikan hasilnya. Kini pertanyaannya kembali kepada kita: apakah kita akan tetap menjadi saksi luka, atau kembali menjadi umat pembawa rahmat?

و الله اعلم بالصواب