Rekonstruksi Kebahagiaan Jelang Ramadan

1001357188

 

Oleh: Eli Ermawati

 

 

LensaMediaNews.com, Reportase_ Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga momentum untuk menata kembali cara pandang hidup, termasuk dalam memaknai kebahagiaan. Di tengah berbagai tantangan kehidupan modern, tidak sedikit orang yang merasakan kegelisahan meskipun secara materi tampak berkecukupan. Hal inilah yang menjadi fokus pembahasan dalam kegiatan B-talk yang diselenggarakan Forum Binar Islam (Bicara Narasi Islam) pada Sabtu, 15 Februari 2026.

 

Kegiatan yang menghadirkan Ustazah Elis Maryati sebagai pembicara ini mengangkat tema “Rekonstruksi Kebahagiaan Jelang Ramadan.” Tema tersebut dipilih sebagai respon atas realitas kehidupan masyarakat yang semakin kompleks. Perubahan gaya hidup, tekanan ekonomi, serta tuntutan sosial yang terus meningkat telah memengaruhi cara manusia dalam memahami makna kebahagiaan.

 

Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan adanya fenomena paradoks dalam pengukuran kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan Global Flourishing Study (GFS), Indonesia dinobatkan sebagai negara dengan tingkat kesejahteraan menyeluruh tertinggi di dunia. Namun di sisi lain, World Happiness Report 2025 menempatkan Indonesia pada peringkat ke-83 dari sekitar 147 negara dalam hal kesejahteraan hidup.

 

Perbedaan hasil tersebut menunjukkan adanya dua realitas yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, masyarakat Indonesia dikenal memiliki karakter sosial yang kuat, seperti keramahan, budaya gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai ini selama ini menjadi kekuatan yang menjaga ketahanan sosial masyarakat dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup.

 

Namun di sisi lain, masyarakat juga dihadapkan pada berbagai persoalan yang tidak ringan. Tingginya biaya hidup, angka pengangguran, kriminalitas, hingga meningkatnya kasus bunuh diri menjadi indikator bahwa banyak individu belum merasakan ketenteraman secara utuh. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak dapat diukur hanya dari aspek sosial permukaan, tetapi perlu dipahami secara lebih mendalam dan menyeluruh.

 

Ustazah menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak lepas dari cara pandang dalam memaknai kebahagiaan. Dalam perspektif sekuler, kebahagiaan sering diukur dari indikator material, seperti kekayaan, kenyamanan fisik, serta pencapaian duniawi. Akibatnya, manusia cenderung menjadikan materi sebagai standar utama kebahagiaan, meskipun pada kenyataannya hal tersebut tidak selalu mampu menghadirkan ketenangan jiwa.

 

Dalam Islam, kebahagiaan atau as-sa’adah berkaitan erat dengan kondisi nafs al-muthmainnah, yaitu jiwa yang tenang karena kedekatannya dengan Allah SWT. Kebahagiaan tidak hanya bersifat material, tetapi juga mencakup dimensi spiritual yang memberikan rasa tenteram, rasa cukup, serta keyakinan terhadap tujuan hidup yang hakiki.

Sejarah Islam menunjukkan bahwa pada masa Rasulullah SAW dan para khalifah setelahnya, masyarakat mampu merasakan ketenteraman meskipun memiliki kondisi ekonomi yang berbeda-beda. Perbedaan tingkat kekayaan tidak menjadi sumber kegelisahan karena kehidupan diatur dengan nilai keimanan, keadilan sosial, serta sistem yang menjamin terpenuhinya kebutuhan masyarakat secara layak.

 

Islam sendiri memiliki parameter kebahagiaan yang mencakup tiga aspek utama, yaitu personal, sosial, dan sistemis. Pada aspek personal, kebahagiaan dibangun melalui keimanan, ketaatan, serta hubungan yang kuat antara individu dengan Allah Swt. Pada aspek sosial, kebahagiaan terwujud melalui hubungan harmonis antarmanusia, seperti saling menolong dalam kebaikan, menjaga ukhuwah, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama, demikian Ustazah menambahkan.

 

Adapun pada aspek sistemis, narasumber menekankan bahwa kebahagiaan tidak akan terwujud secara sempurna tanpa adanya peran negara.
Atmosfer keimanan membutuhkan lingkungan yang kondusif, dan hal tersebut hanya dapat diwujudkan ketika negara menjalankan tanggung jawabnya dalam mengatur kehidupan masyarakat sesuai dengan aturan Allah SWT. Kebijakan yang selaras dengan syariat akan menciptakan keadilan, menjamin kesejahteraan, serta menghadirkan yang mampu menumbuhkan kondisi nafs al-muthmainnah secara kolektif.

 

Dalam suasana Ramadan 1447 H, pesan yang disampaikan dalam kegiatan ini menjadi pengingat penting bahwa bulan suci bukan hanya momentum peningkatan ibadah, tetapi juga waktu yang tepat untuk melakukan refleksi mendalam tentang makna kebahagiaan. Ramadan mengajarkan kesederhanaan, empati, serta kesadaran bahwa ketenangan sejati bersumber dari kedekatan kepada Allah dan kepedulian terhadap sesama.

 

Melalui kegiatan ini, Ustazah Elis mengharapkan umat Islam dapat menjadikan Ramadan sebagai sarana untuk merekonstruksi pemahaman tentang kebahagiaan yang hakiki. Tidak hanya berorientasi pada pencapaian material, tetapi juga berupaya menumbuhkan ketenangan jiwa, memperkuat hubungan sosial, serta berkontribusi dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih tenteram dan penuh keberkahan.