Tarhib Ramadhan: Agar Kita Tidak hanya Lapar, tapi Benar-Benar Bertakwa

IMG_20260217_063202

 

Oleh Nadisah Khairiyah

 

LensaMediaNews.com, Tsaqofah Aqliyah_ Ramadan selalu datang. Setiap tahun ia menyapa. Namun pertanyaannya sederhana dan dalam: apakah kita benar-benar menyambutnya, atau hanya melewatinya?

Tarhib Ramadan kali ini dibuka dengan pengingat yang lembut tapi menggetarkan: jangan biarkan Ramadhan menjadi sekadar ritual tahunan. Jangan sampai ia hanya ramai di jadwal, tetapi sepi di perubahan.

Ramadhan adalah replika kehidupan. Allah ﷻ memberi kita Ramadhan sebagai “miniatur hidup”: ada perintah, ada larangan, ada ujian, ada kesabaran. Semua itu latihan, agar ketika hidup benar-benar berakhir, kita siap menghadap-Nya dalam keadaan husnul khatimah.

 

Ust. Eri Abdul Karim: Ramadhan Bukan tentang Manfaat, tapi tentang Takwa

Dalam pemaparannya, Ust Eri Abdul Karim mengajak jamaah kembali ke pertanyaan paling mendasar: Apa itu Ramadan?

Shaum, tegas beliau, bukan untuk sehat. Bukan untuk detoksifikasi. Bukan untuk sekadar mendapat manfaat sosial. Semua itu mungkin ikut hadir, tetapi itu bukan tujuan.

 

Tujuan Ramadan satu: la‘allakum tattaqun agar kalian bertakwa.

Beliau menyoroti kondisi umat hari ini. Banyak kemaksiatan dilakukan bukan selalu karena sengaja menantang Allah, tetapi karena bingung. Standar benar dan salah kabur. Hal yang haram terasa biasa. Yang wajib terasa berat.

 

Maka untuk meraih takwa, ada fondasi yang harus ditegakkan:

1. Iman karena tanpa iman, tidak ada benteng saat godaan datang.
2. Ilmun syar’iyun tahu mana wajib, sunnah, haram, makruh. Tanpa ilmu, semangat bisa salah arah.
3. Standar amal yang konsisten perintah dilaksanakan, larangan ditinggalkan. Bukan hanya di bulan Ramadhan, tapi sepanjang hidup.4. Memperbanyak amal shalih karena waktu kita terbatas, dan kita tidak tahu kapan kesempatan berhenti.

 

Beliau lalu membacakan ayat yang membuat ruangan terasa hening:

Katakanlah (Muhammad), apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya…”
 (TQS. Al-Kahfi: 103–105)

Betapa menakutkan, sibuk beramal, merasa sudah baik, tetapi ternyata kosong di sisi Allah. Ramadan hadir untuk meluruskan itu. Untuk memastikan amal kita tidak sekadar banyak, tetapi benar.

 

Ust. Asoed (Buya Asoed): Shaum Itu Ibadah, maka harus Terikat Nash

Sesi berikutnya disampaikan oleh Ust Asoed, yang dikenal sebagai Buya Asoed. Beliau menekankan satu prinsip penting: shaum adalah ibadah. Dan setiap ibadah harus terikat dalil.

Allah menyeru langsung dalam QS. Al-Baqarah: 183. Itulah tanda kewajibannya. Syarat wajibnya jelas: Muslim, baligh, dan berakal. Sebab wajibnya pun jelas: masuknya bulan Ramadan. Jika belum masuk waktunya, belum jatuh kewajiban.

 

Karena ia ibadah, maka penentuan awal dan akhirnya pun tidak boleh mengikuti sekadar kebiasaan atau hitung-hitungan adat. Rasulullah ﷺ bersabda:

Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal), dan berbukalah karena melihatnya. Jika terhalang atas kalian, maka sempurnakanlah hitungan Sya’ban tiga puluh hari.”
 (Muttafaq ‘alaih)

Hilal dilihat saat maghrib. Hukumnya fardhu kifayah. Di Indonesia, rukyat dilakukan di banyak titik dan terhubung dengan kaum muslimin di berbagai belahan dunia.

 

Beliau mengingatkan dengan nada prihatin tentang realitas perbedaan yang sering muncul. Idealnya, satu rukyat berlaku untuk seluruh kaum muslimin. Namun praktik penetapan sering mengikuti batas-batas wilayah politik. Ini menjadi cermin bahwa persatuan umat masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Dan satu kalimat beliau terasa menenangkan: melihat adalah hasil. Tidak melihat pun hasil. Jangan memaksakan kehendak untuk selalu harus melihat, karena hadits sendiri memberi ruang penyempurnaan 30 hari jika hilal tidak tampak.

 

Ramadhan itu tentang Kejujuran

Tarhib ini menutup dengan satu rasa yang sama: Ramadan bukan tentang lapar. Bukan tentang sibuknya jadwal. Bukan tentang ramai masjid saja.

 

Ramadan adalah tentang kejujuran. Apakah kita sungguh ingin bertakwa? Apakah kita ingin hidup dengan standar Allah, bukan standar perasaan?Apakah kita ingin ketika Allah memanggil, kita pulang dalam keadaan baik?

Ramadan adalah kesempatan. Ia tidak selalu datang dalam jumlah yang banyak dalam hidup kita. Semoga ketika nanti Ramadan pergi, ia tidak meninggalkan kita dalam keadaan yang sama. Semoga ia membentuk iman, meluruskan ilmu, dan menguatkan langkah kita bukan hanya sebulan, tapi sepanjang usia. Semoga kita tidak hanya menjalani Ramadan. Semoga kita berubah karenanya.