Karhutla-LenSaMediaNews

LenSaMediaNews.com–Sudah lihat berita yang berseliweran di depan mata kita bagaimana seekor ular mati terbakar ketika melindungi telur-telurnya? Atau bagaimana rasanya monyet-monyet tumbang kehabisan nafas di tengah lautan asap? Atau burung-burung dan berbagai hewan lainnya yang mati dan kehilangan rumah, bagaimana nasib mereka ke depan?

 

Coba rasakan pula bagaimana rumah-rumah penduduk ikut terbakar? Bagaimana rasa sesaknya menghirup udara buruk karena kepulan asap? Bagaimana rasanya kehilangan keluarga yang mati karena menjadi pemadam kebakaran hutan yang tak kunjung mereda?

 

Pasti rasanya menyesakkan dada bukan? Ya, beginilah nasib naas makhluk-makhluk Allah yang menjadi tumbal karhutla. Tumbal kepongahan para kapitalis, para pemilik modal yang punya prinsip dengan modal sekecil-kecilnya mendapatkan untung sebesar-besarnya. Alhasil, hutan sengaja dibakar dan menjadi momok yang mengerikan.

 

Dari akun IG auriga_id, memberitakan 2.638 konsensi ekstraktif tercatat mengalami kebakaran sepanjang Januari-Juni 2002 2006 dengan total luas 36.389 hektare. Kalimantan konsisten jadi episentrum baik untuk konsensi sawit maupun tambang. Yang tidak kalah mengkhawatirkan, 22.703 hektare lahan yang terbakar berada di area proyek ketahanan pangan, setara 13% dari total kebakaran nasional.

 

Tentu ini bukan jumlah kecil yang bisa diabaikan. Ini adalah polemik di tengah sistem kehidupan kapitalistik. Siapa yang punya modal besar, dialah yang berkuasa. Rakyat jelata siap-siap jadi tumbalnya.

 

Padahal, Allah menciptakan alam semesta, manusia, dan kehidupan ini punya tujuan jelas yakni terikat syariat. Tak boleh manusia membuat aturan seenaknya saja. Ia harus mengingat-ingat firman Allah swt. yang artinya,”(Pada) pergantian malam dan siang serta rezeki yang diturunkan Allah dari langit, lalu dihidupsuburkannya bumi (dengan air hujan) sesudah matinya, dan pada perkisaran angin terdapat (pula) tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mengerti.” (TQS Al-Jasiyah:5).

 

Kini, di tengah kekeringan tanpa air hujan manusia malah berbuat ulang di luar batas syariat. Harusnya manusia menjadikan hutan sebagai paru-paru dan sumber kehidupan, malah dijadikan sebagai tempat mendulang keuntungan bagi para kapitalis dan kerugian bagi rakyat.

 

Ini tidak akan terjadi jika manusia menggunakan sistem Islam sebagai pegangan. Dalam sistem Islam, individu atau kelompok tidak boleh memiliki hutan, karena termasuk kepemilikan umum. Andaikan terjadi kebakaran yang disengaja, negara pun akan siap berada di garda terdepan menyelesaikan masalah dan menghukum seberat-beratnya pelaku pembakaran. Dengan, sistem mulai dari Allah inilah tidak akan terjadi kasus berulang yang menjadikan makhluk Allah tumbal karhutla. Wallahua’lam. Choirin Fitri  [LM/ry].