Ketika Nenek Dipukul karena Bawang

Oleh Amalia Annisa
Lensamedianews.com_ Tragedi nahas yang dialami oleh seorang nenek yang ketahuan mencuri bawang di Pasar dipukuli oleh massa hingga berlumuran darah. Serupa dengan kasus beberapa tahun lalu, seorang nenek yang mencuri singkong karena kelaparan menerima hukuman dari seorang Hakim Agung.
Terlepas benar atau tidaknya motif pencurian itu, kejadian ini banyak memunculkan pertanyaan moral juga sosial.
Bagaimana bisa masyarakat bisa sampai hati (tega) menghakimi dan menganiaya seorang lansia hanya karena mencuri bawang? Dan pertanyaan yang lebih jauh lagi, sebenarnya apa akar permasalahan ini terjadi?
Memang tak dapat dibenarkan perbuatan mencuri itu, Namun banyak dari mereka mencuri karena lapar. Bukan untuk memperkaya diri. Harga Rp90.000 yang semestinya harus dibayar, malah menjadi penghakiman oleh penjaga pasar.
Lain halnya dengan para pejabat negara yang sudah merugikan seluruh rakyat dengan korupsinya, namun tak jua mendapatkan hukuman yang membuat jera para pelakunya, mereka diperlakukan spesial.
Dalam Islam, peristiwa ini tidak bisa dipandang sebagai kesalahan individu semata, baik dari sisi si nenek maupun sisi warga yang memukul dan menghakimi. Melainkan, ini adalah sebuah bukti akibat dari penerapan sistem kehidupan negara yang tidak menjamin kebutuhan dasar rakyatnya, serta sistem sanksi yang tidak menumbuhkan keadilan dan rasa sayang.
Dalam Islam
Pertama, Pemimpin harus menjamin kebutuhan warga negaranya, karena pemimpin adalah Ra’in (Pengurus) dan mas’ul (Penanggung jawab) atas rakyatnya. Artinya negara wajib menjamin kebutuhan pokok rakyatnya baik sandang, pangan, papan, pendidikan, keamanan dan kesehatan. Dalam hal kasus nenek ini yang mencuri karena lapar, bukan ia yang pertama disalahkan melainkan Sistem yang gagal memenuhi hak-hak dasar kepada rakyatnya.
Kedua, Islam mengharamkan main hakim sendiri. sebab, islam menjunjung tinggi asas keadilan dan proses hukum yang benar. Setiap tuduhan seperti pencurian mesti dibuktikan di Pengadilan Syariah dengan mendatangkan saksi dan alasan.
Nenek tersebut mungkin saja memang salah, namun seharusnya yang dipertanyakan adalah masyarakat lain yang sudah tau ia miskin, tapi membiarkannya kelaparan serta para pemimpin yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban atasnya.
Ketiga, Islam memandang Akar terjadinya sebuah masalah.
Sistem yang diterapkan saat ini yakni kapitalis-sekuler telah melahirkan kesenjangan ekonomi, dan Ketidakpedulian antar sesama. Dalam sistem ini telah dibuktikan banyak melahirkan kesulitan – kesulitan bagi rakyatnya seperti harga bahan pokok yang selalu naik, lapangan pekerjaan yang sempit, dan kehidupan yang sulit terutama bagi lansia. Dalam Islam, diatur bagaimana meriayah rakyatnya salah satunya dengan adanya baitul mal sebagai lembaga untuk mengelola dan mendistribusikan harta milik umat baik berupa zakat, infak, sedekah dll. Rakyatnya akan dididik untuk saling peduli dan membantu sesama bukan menghakimi.
Tragedi nenek ini bukan sekadar tentang hukum atau moral saja, tetapi sebuah potret nyata gagalnya sistem sekuler kapitalis dalam menjamin kesejahteraan rakyat. Hanya dengan kembali kepada Islam kaffah lah kita bisa menghentikan tragedi-tragedi kemanusiaan seperti ini. Sudah saatnya umat menyadari bahwa Islam bukan hanya agama ritual, melainkan sistem hidup yang sempurna dan solusi hakiki bagi persoalan umat.
