Haji, Persatuan Umat Tanpa Sekat

Oleh Nadisah Khairiyah

 

 

LensaMediaNews.com, Tsaqofah_ Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 97,

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana.”

 

 

Ayat ini menegaskan bahwa haji adalah kewajiban. Allah tidak memerintahkan haji untuk membuat kita sibuk dengan ritual semata, tapi agar kita kembali sebagai manusia yang sadar akan tanggung jawab sebagai hambaNya. Haji mengajarkan bahwa perbedaan bahasa, warna kulit, atau paspor hanyalah ilusi, sebab di hadapan Ka’bah, semua hamba setara, tunduk pada Rabb yang satu. Semua bersujud dalam pakaian yang sama, mengikis sekat status duniawi, dan menyatu dalam kalimat tauhid: ‘Labbayk Allahumma Labbayk.’ Semua melaksanakan puncak haji di Arafah. Sekat bangsa hilang di padang Arafah. Khutbah di padang Arafah melambangkan persatuan dan ketaatan. Namun, persatuan di Arafah terasa tidak berma’na. Setelah pulang, kita kembali terpecah-belah oleh golongan, sekat-sekat bangsa yang diciptakan oleh negara penjajah. Hal ini membuat kita diam melihat penindasan terhadap saudara seiman seperti Palestina.

 

 

Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Barangsiapa yang tidak peduli dengan urusan kaum Muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka.” (HR. Hakim)

 

Apakah kita mau dianggap sebagai bagian di luar umat Nabi Muhammad ﷺ?
Haji mengajak kita peduli bukan hanya pada kesucian diri, tapi juga kesucian sistem hidup. Saat ini sistem hidup yang membuat kita kaum muslimin kebingungan dengan jati dirinya sebagai umat yang satu adalah kapitalisme global. Kapitalisme, dia adalah sebuah sistem yang bekerja secara sistematis: Bukan sekadar teori ekonomi, kapitalisme telah menjadi akidah (keyakinan) dunia modern, sebuah agama baru yang menjadikan materi sebagai tuhan, laba sebagai tujuan, dan eksploitasi sebagai metode.

 

Kapitalisme bukanlah perdagangan bebas atau pertumbuhan ekonomi semata. Ia adalah sistem yang mendewakan kepemilikan individu. Uang dan sumber daya dikuasai oleh segelintir orang, sementara mayoritas manusia diperas untuk memperkaya mereka. Agama hanyalah digunakan di ranah individu. Memutus hubungan ilahiyah dalam aspek sosial, politik, budaya atau ranah publik. Dalam kapitalisme, nilai sesuatu ditentukan oleh pasar, bukan oleh halal-haram, adil-zalim, atau baik-buruk. Mengubah manusia menjadi komoditas. Manusia dinilai berdasarkan produktivitasnya. Jika tidak menghasilkan uang, ia dianggap tidak berguna. Kapitalisme menghancurkan solidaritas. Kapitalisme mengajarkan: Urus dirimu sendiri, jangan peduli orang lain.

 

 

Inilah mengapa kita bisa tidur nyenyak sementara Gaza dibombardir karena kita terbiasa dengan individualisme. Nilai kemanusiaan runtuh, saat orang lebih sedih jika sahamnya turun daripada melihat anak-anak Gaza terbunuh.

 

 

Islam adalah agama yang sempurna. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, baik spiritual, sosial, maupun politik. Rasulullah ﷺ tidak hanya mengajarkan tata cara shalat dan puasa, tetapi juga mencontohkan bagaimana memimpin dengan adil, melindungi yang lemah, dan menegakkan keadilan. Dalam hadits riwayat Muslim, beliau bersabda:
Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

 

Ini adalah prinsip dasar kepemimpinan dalam Islam: amanah (tanggung jawab) dan ri’ayah (perlindungan). Sejarah mencatat bagaimana Umar bin Khattab memastikan tidak ada rakyatnya yang kelaparan, atau bagaimana Umar bin Abdul Aziz membangun sistem ekonomi yang memakmurkan seluruh warganya, baik muslim maupun nonmuslim. Islam menawarkan sistem alternatif. Terkandung konsep ri’ayah dalam Islam. Kepemilikan adalah amanah Allah, yang dikelola untuk kemaslahatan umat, dan dijaga agar tidak dikeruk korporasi asing. Pemimpin adalah pelayan rakyat, bukan penguasa yang memeras. Ekonomi yang dibangun adalah ekonomi Islam yang melarang riba, monopoli, dan penimbunan harta.

 

 

Ibadah haji seharusnya menjadi titik balik, bukan hanya untuk perubahan personal, tetapi juga sosial. Jika di tanah suci kita menyadari bahwa semua manusia setara, maka seharusnya kesadaran itu juga tercermin dalam cara kita membangun masyarakat. Kita bangun nilai-nilai persatuan, ketaatan total, dan perlindungan yang menjadi esensi haji agar tercermin dalam tatanan kehidupan kita.

 

 

Maukah kita terus jadi bagian dari sistem saat ini, yang menghancurkan persatuan hakiki kaum Muslimin? Atau mulai membangun alternatif? Sebagai perwujudan dari ucapan para jama’ah haji ‘Labbayk Allahumma Labbayk’.

و الله اعلم بالصواب