Nasionalisme Menjadi Penghalang Pembebasan Palestina

Oleh Zhiya Kelana, S.Kom
LensaMediaNews.com, Opini_ Setelah aksi heroik dari para aktivis yang berasal dari berbagai dunia yang mencoba menyeberang ke Gaza mengunakan Kapal Madleen dengan 12 orang aktivis di tahan oleh pihak Israel dan mereka dideportasi. Mereka sudah memprediksi hal ini akan terjadi, karena itu mereka menyiapkan diri dan meninggalkan video agar umat bisa melihat kenyataannya. Bahwa mereka yang nonmuslim saja berani untuk melakukan itu meski nyawa taruhannya.
Dilansir dari kompas TV, 12/06/2025 bahwa;
Hal ini membuka mata umat untuk melakukan Aksi Global March To Gaza yang bertujuan untuk menekan pihak terkait dan membuka blokade Gaza yang diserang Israel. Namun nyatanya aksi ini mendapat penentangan dari pemerintah Mesir. Pihak pemerintah mendeportasi 30 aktivis dihotel dan bandara Kairo juga menahan 170 peserta yang ingin mengikuti aksi tersebut. (Kompas.tv, 12/06/2025)
Dalam aksi ini ada ribuan orang dari manca negara. Bahkan mereka punya latar belakang dari pensiunan perawat, jurnalis, dokter, pegiat HAM, hingga para pemuda yang ingin bersuara dan menolak untuk diam atas krisis kemanusian yang terjadi di Palestina. Para aktivis terus bergerak menuju gerbang Rafah dengan berjalan kaki dari Mesir, hal ini menarik perhatian dunia internasional. (Republika.co.id, 14/6/2025)
Global March to Gaza adalah aksi jalan kaki sejauh 50 km dari Mesir menuju Rafah, yang diikuti oleh 10.000 orang yang berasal dari 50 negara lebih. Aksi ini dilakukan untuk menunjukkan kepada para penguasa dan lembaga internasional bahwa mereka sangat marah, tak bisa lagi diharapkan menyelamatkan Gaza. Mereka hanya bisa mengecam, mengutuk tapi nyatanya mereka diam saja tak melakukan apapun, contohnya adalah Mesir.
Pemerintah Mesir menahan para aktivis yang hendak menuju Rafah dan sebagian dideportasi. Seolah menunjukkan bahwa gerakan kemanusian pun bukanlah sebuah solusi untuk masalah Gaza. Karena yang menjadi penghalang terbesar adalah nasionalisme dan konsep negara bangsa yang telah berhasil dibangun oleh penjajah bertahun lalu di negeri kaum muslimin.
Paham inilah yang membuat hati nurani para pemimpin negeri Islam dan tentaranya rela membiarkan saudaranya dibantai dengan keji di depan matanya bahkan ikut andil menjaga kepentingan mereka demi meraih keridaan dari negara adikuasa yang menjadi tempat tumpuan kekuasaannya selama ini, tanpa dukungan mereka mana mungkin bisa mempertahankan kekuasaannya dengan begitu lamanya.
Umat Islam harusnya paham bahwa bahaya dari nasionalisme dan konsep negara bangsa ini membuat mereka tidak bisa berbuat apapun, baik dilihat dari sejarah dan pemikirannya. Ini juga yang membuat Khilafah runtuh saat ini, yaitu saat para penjajah melanggengkannya di
negeri yang mayoritas muslim.
Umat juga harusnya paham ke mana arah pergerakan mereka dalam memberi solusi atas konflik Palestina
harus bersifat politik dan fokus untuk membongkar sekat negara bangsa juga mewujudkan satu kepemimpinan politik Islam di dunia. Yaitu kepemimpinan yang dipilih oleh umat berdasarkan hukum syara dan akan taat kepada Allah, menjalankan semua bentuk tanggung jawabnya terhadap umat.
Dan hal ini sangat urgen untuk dilakukan segera oleh umat demi mendukung dan bisa bergabung dengan gerakan politik ideologis yang berjuang tak kenal lelah dan tanpa sekat, sudah terbukti konsistennya dalam memperjuangkan Islam kaffah. Karena tanpa kepemimpinan Islam Ideologis umat tidak akan bisa bersatu, seperti saat ini. Maka
untuk mewujudkannya kita harus memiliki kepemimpinan yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-sunnah.
Kewajiban memilih pemimpin dalam Islam ditegaskan dalam Al-Qur’an. Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan yang baik dan bertanggungjawab adalah bagian penting dari ajaran Islam. Pemilihan pemimpin yang tepat harus mempertimbangkan sifat-sifat seperti amanah, adil, dan kemampuan untuk menjalankan tugas dengan baik. Dalil Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberikan pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS An-Nisaa : 58)
Ayat di atas secara jelas menunjukkan bahwa memilih pemimpin yang amanah, adil, dan memiliki kemampuan adalah kewajiban dalam Islam. Pemimpin yang baik akan membawa kemaslahatan bagi umat, sementara pemimpin yang zalim dan tidak amanah akan membawa kerusakan. Oleh karena itu, umat Islam memiliki tanggung jawab untuk memilih pemimpin yang terbaik
untuk kemaslahatan dunia dan akhirat.
Dan untuk kemaslahatan dunia dan akhirat sangat penting untuk memilih pemimpin seperti spesifikasi di atas, maka kita harus mewujudkannya dengan bergabung dengan kelompok dakwah Islam yang ikhlas berjuang untuk umat. Dan menyadarkan umat bahwa sudah saatnya kita kembali ke sistem yang benar yaitu Islam dan kepemimpinan sesuai ketentuan syariat. Wallahu ‘alam
