Krisis Tenaga Kerja Global, Kapitalisme Sistem Gagal

Pengangguran

Oleh Perwita Lesmana

 

LensaMediaNews.com, Opini_ Hari ini kondisi global berada di masa krisis tenaga kerja, utamanya di kalangan generasi muda. Di Prancis jumlah pengangguran dalam kondisi paling tinggi yaitu 3.030.000 di empat bulan terakhir. Hal ini tejadi merata di hampir kelompok usia.

 

Di negeri yang dijuluki Land of Opportunity yaitu Amerika Serikat juga tidak kalah tingggi. Pada bulan Juli 2025, jumlahnya melonjak sebesar 221.000 menjadi 7.236.000. Gelombang pengangguran juga tejadi di negara China. Pada Juni 2025, ada kenaikan sebesar 14,5 persen. Hal tersebut memicu kondisi yang belum terbayangkan sebelumnya. Di antaranya muncul perusahaan jasa pura-pura bekerja dan tren keluar dari pekerjaan yang jam kerjanya panjang meski bergaji tinggi.

 

Indonesia sendiri juga berjibaku dengan pengangguran anak muda. Menurut data BPS per Februari 2025 menyentuh di angka 16,16 persen. Menurut IMF, Indonesia di rangking tujuh di Asia dan pertama di Asia Tenggara sebagai pemenang negara dengan pengangguran tertinggi. Tentu ini bukan prestasi yang bisa dibanggakan.

Kapitalisme adalah penyebabnya

Tidak bisa dipungkiri, hari ini kita berada dalam tatanan nilai sistem kapitalisme. Dalam kapitalisme yang menjadi standar kehidupan adalah manfaat atau keuntungan sebanyak mungkin. Sedangkan sekularisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan adalah adik kandung kapitalisme. Salah satu dampak dari sistem ini adalah terjadi krisis tenaga kerja global.

 

Negara secara perlahan melimpahkan kewajiban menyediakan lapangan pekerjaan pada oligarki. Sedangkan ciri khas oligarki ketika membuka lapangan pekerjaan hanya mementingkan keuntungan. Ketika sebuah pekerjaan bisa digantikan oleh robot misalnya, maka mereka akan lebih memilih memecat karyawan karena dinilai lebih efisien. Hal ini tentu menguntungkan satu pihak namun merugikan kondisi ekonomi secara umum.

 

Banyaknya job fair seolah menjadi angin segar bagi pemburu lowongan namun faktanya tidak banyak menyerap membludaknya tenaga kerja. Bahkan tampak formalitas semata untuk sekedar memberi kesan negara tidak lepas tangan. Di berbagai tempat job fair selalu menyedot banyak perhatian menjadi indikasi minimnya lapangan kerja.

 

Selain itu masyarakat didorong mandiri secara ekonomi dengan suntikan pinjaman dana ke UMKM yang ada. Masyarakat berbondong-bondong membuat usaha rumahan. Hal ini, tidak sepenuhnya buruk namun kondisi di lapangan tidak semanis harapan. Banyak UMKM yang pada akhirnya gulung tikar karena berbagai sebab.

 

Di sistem ini, negara memang hanya menjadi kaki tangan oligarki. Negara tidak memiliki kewenangan penuh mengurus dan membuat kebijakan demi kemaslahatan rakyat. Selama kapitalisme masih bercokol di Indonesia, nyaris mustahil krisis tenaga kerja teratasi.

Islam adalah Solusinya

Penguasa dalam Islam berperan sebagai raain yaitu mengurus rakyatnya. Negara memastikan rakyat mendapat pekerjaan yang layak. Dengan kekayaan negara yang melimpah dari berbagai pos pendapatan memungkinkan untuk membuka lapangan pekerjaan dari berbagai bidang. Lapangan pekerjaan ini diutamakan untuk laki-laki yang sudah berusia baligh dan mempunyai kemampuan untuk bekerja. Hal ini dilakukan karena laki-laki memiliki kewajiban memberi nafkah untuk keluarganya.

 

Negara tidak hanya berjanji manis semata tapi langkah nyata. Dimulai dengan penyediaan pendidikan gratis dan berkualitas, memberikan pelatihan kerja, bantuan modal tanpa riba dan segala hal yang mendukung terserapnya calon tenaga kerja.

 

Sistem pendidikan dalam Islam mencetak generasi berakidah kuat dan tsaqafah Islam yang luas. Bukan semata-mata untuk mencari uang, tapi dalam rangka meraih kembali masa keemasan Islam.