Indramayu Berdarah

Oleh: Shafayasmin Salsabila
MIMم_Muslimah Indramayu
LenSaMediaNews.com__Belum lama ini, Indramayu digemparkan dengan kasus pembunuhan satu keluarga. Tak tanggung-tanggung, lima nyawa dihabisi lalu dikubur dalam satu liang. Sadisnya, dua korban masih berusia 7 tahun dan bayi 8 bulan (detik.com, 13-9-2025).
Sepekan setelahnya, pelaku pembunuhan pun tertangkap. Pihak polisi menyebut motif pelaku dikatarbelakangi oleh dendam. Bahkan trigger-nya dari persoalan uang Rp750 ribu. Sakit hati dengan satu orang, namun satu keluarga dibantai, sungguh di luar nalar. Demikian menggilanya perilaku seseorang ketika sudah lepas kendali. Saat jiwa dikuasai amarah, bertemu dengan maklumat tsabiqoh (referensi di kepala) seputar kekerasan, maka jadilah tragedi ini.
Meski kasus ini tergolong pembunuhan yang direncanakan, tetap saja pelaku tidak memikirkan risiko jangka panjangnya, baik dunia dan akhirat. Di sini lah titik kritisnya. Pemikiran manusia, termasuk Muslim, sudah terwarnai oleh sekularisme. Islam tak lagi menjadi patokan dalam memilih satu keputusan. Sebaliknya hawa nafsu dijadikan sandaran, menggeser peran agama.
Hal ini terjadi, sebab kajian-kajian Islam seputar pemikiran (tsaqofah) dibatasi, atau tidak menjadi perhatian. Agama seakan dibonsai, hanya soalan ibadah ritual dan sesuatu yang bersifat vertikal semata. Bahkan ada istilah “ngaji kuping”. Isi kajian tidak begitu disimak, cukup “ngalap berkah”.
Di sisi lain, di tengah-tengah masyarakat timbul jarak dengan agama. Dikontak-kotak dengan stigma orang awam dan anak pengajian. Padahal belajar atau menuntut ilmu agama adalah kewajiban bagi tiap orang Islam yang sudah baligh (mukalaf). Rasulullah SAW, bersabda: “Menuntut ilmu (agama) itu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah)
Asingnya umat Islam itu sendiri dengan ajaran agamanya, merupakan kondisi yang tidak alami. Dari sini bermunculan kerusakan demi kerusakan, multi-dimensi. Aspek moral, sosial, politik, pendidikan, kesehatan, hukum, ekonomi, semunya jadi bermasalah, seperti mengurai benang kusut. Kerumitan, kezalimam, kekisruhan, kekejian dan tragedi kian merajalela. Di tiap sudut dunia selalu gaduh, perdetiknya. Nyawa pun menjadi amat murah. Menghilangkannya seperti bercanda di sore hari. Padahal dosa besar dan ancamannya amat mengerikan.
Seperti firman Allah yang menggetarkan jiwa, dalam surat Al-Maidah ayat 32, bahwa menghilangkan satu saja nyawa orang tanpa alasan syar’i, seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia. Dalam pandangan Allah, satu nyawa manusia itu terlalu berharga dan tidak boleh sembarang dihilangkan.
Karenanya cahaya Islam harus kembali dipancarkan. Bersamaan dengan kajian tsaqofah yang menyasar pemikiran. Karena semua tindakan dan pilihan perbuatan manusia diputuskan oleh isi kepala. Tak ayal, isi kepala menjadi sangat penting untuk diperbaiki.
Islam adalah jalan hidup. Akidah Islam menuntun setiap jiwa untuk memahami terlebih dahulu, hakikat pencipta manusia. Mengapa Dia menaruh kita di bumi ini. Apa misi hidup manusia, dan setelah menunaikan misi tersebut lalu datang ajal, ke mana petualangan akan berlanjut.
Sehingga hidup manusia -khususnya orang Islam- di dunia akan terpaut dengan dua hal, Allah dan akhirat. Dengan kata lain, minimal dia akan berpikir dua kali sebelum bertindak. Apakah Allah rida dengan yang terbersit dan akan dilakukannya, lalu apakah hisabnya memberatkan atau meringankan langkahnya kelak di yaumul hisab atau hari perhitungan.
Konsep isi kepala yang bertumpu pada akidah ini, akan membawa perubahan menyeluruh. Inilah yang dinamakan pemikiran mustanir (cemerlang). Bahkan jika pemikiran mustanir ini bersenyawa dengan masyarakat, sampai level negara, niscaya akan mampu mengubah wajah dunia saat ini.
Karena itu, perlu upaya sungguh-sungguh untuk menjadikannya sebagai pusat perhatian. Bukankah Allah SWT telah berfirman dalam surat Ar-Ra’du ayat 11, bahwa Allah tidak akan mengubah kondisi suatu kaum, sampai kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka. Pilihannya, sepakat untuk bersama-sama berubah menuju ketaatan, atau sebaliknya.
Jika tak ingin terjadi lagi tragedi berdarah di Indramayu, atau di daerah mana pun di penjuru bumi, maka mari kita kembali pada cahaya Islam, pelajari Islam terutama tsaqofah-nya. Nantinya tsaqofah tersebut akan menjelma dalam setiap keputusan dan pilihan sikap manusia. Kalau bukan tsaqofah Islam, maka hawa nafsulah yang akan menyetir dan mengubah manusia menjadi monster. Wallahualam bissawab. [LM/Ss]
