Gaza Membaik, Klaim Keji Tutupi Penderitaan

Oleh: Yuke Octavianty
Forum Literasi Muslimah Bogor
LenSaMediaNews.Com–Kondisi Gaza semakin memrihatinkan. Sebagian besar warganya masih tinggal di tenda-tenda yang jauh dari kata layak. Keadaan ini pun kian parah saat badai hujan deras menimpa sejak Jumat, 14 November 2025. Banjir pun menerpa kala musim dingin tiba. Tidak sedikit dari tenda mereka menjadi koyak, basah dan roboh (detiknews.com, 16-11-2025).
Berbagai bantuan sudah disiapkan untuk disalurkan, sayangnya sumberdaya yang diharapkan tidak ada. Demikian disampaikan Juru Bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal (detiknews.com, 16-11-2025). Keadaan kian mencekam dan memprihatinkan.
Di sisi lain, gencatan senjata yang telah disepakati bersama, terus dilanggar. Zionis tetap saja memblokir masuknya material perlindungan seperti tenda. Sedikitnya, terdapat 260 warga Palestina dilaporkan tewas dan lebih dari 630 warga mengalami luka-luka sejak gencatan senjata dimulai pada 10 Oktober 2025 lalu.
Gaza Tak Baik-Baik Saja
Kondisi Gaza semakin mengkhawatirkan. Sikap para pemimpin muslim menunjukkan tidak ada keseriusan untuk membela Gaza. Solusi-solusi yang ditawarkan dunia, termasuk two state solution (solusi dua negara), terbukti hanya menjadi alat Barat untuk melegitimasi perampasan tanah Palestina. Karena itu, konflik terus berlanjut tanpa penyelesaian tuntas dan adil.
Gencatan senjata demi gencatan senjata terus dikhianati. Hal ini membuktikan bahwa gencatan senjata bukanlah cara jitu menghentikan peperangan. Selama penjajah masih bercokol, penindasan akan terus terjadi. Bencana kemanusiaan pun tidak bisa terhindari.
Dunia, termasuk negeri-negeri muslim, hanya berkutat pada forum dan dialog tanpa tindakan nyata. Banyak pemimpin muslim sekadar beretorika, sementara langkah mereka tetap mengikuti arahan bangsa Barat. Komunitas internasional hanya mampu mengecam tanpa gerakan nyata.
Sistem Kapitalisme sekuler saat ini terbukti gagal menghentikan penjajahan dan mengabaikan nilai halal-haram serta benar-salah. Aturan agama disisihkan demi kepentingan materi. Betapa rusaknya sistem kapitalisme sekuler yang hanya mengutamakan materi dan melalaikan keselamatan umat.
Islam sebagai Solusi Nyata
Allah SWT berfirman yang artinya,
“Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (TQS. Ali ‘Imran: 104).
Islam menegaskan bahwa umat muslim adalah satu tubuh yang terikat akidah. Persatuan ini mestinya menjadi dasar untuk membela Palestina dan mengakhiri penjajahan.
Jihad adalah strategi nyata untuk membebaskan Palestina. Jihad juga menjadi satu-satunya strategi untuk mengusir penjajah. Pemimpin negeri muslim seharusnya menggerakkan kekuatan militer, bukan sekadar mengecam atau mengikuti skenario Barat.
Pada masa kekhilafahan, pasukan Islam merupakan salah satu kekuatan Daulah Islamiyyah yang masyhur. Contohnya pada masa Abbasiyah. Khalifah Harun ar Rasyid mengerahkan pasukan untuk menahan serangan dan ekspansi Byzantium.
Salah satunya perang Amorium yang terjadi pada tahun 838 M. Pasukan Abbasiyyah menyerang basis utama Byzantium sebagai balasan penyerangan terhadap umat Islam.
Kekuatan tangguh ini tidak mungkin terwujud tanpa persatuan umat di bawah satu kepemimpinan, yaitu khilafah. Khilafah-lah satu-satunya perisai yang mampu menghentikan penindasan dan melindungi umat.
Penegakan Khilafah membutuhkan dakwah yang terstruktur untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya persatuan dan jihad. Hanya dengan akidah yang kokoh dalam wadah Khilafah, kezaliman dapat dihentikan dan keadilan ditegakkan. Demi pembelaan dan keselamatan umat dunia. Wallahu a‘lam bisshawab. [LM/ry].
