Tidak Boleh Membiarkan Orang Tua Berjuang Sendirian

Oleh Nadisah Khairiyah
LensaMediaNews.com, Parenting _ Ketika Anak Kita Tinggal di Dunia Maya (4)
Orang tua adalah garda terdepan penjagaan anak. Namun sejak awal, Islam tidak pernah menugaskan orang tua untuk bekerja sendirian. Anak tumbuh dalam ekosistem, bukan dalam ruang tertutup. Karena itu, masyarakat, sekolah, lingkungan, masjid, komunitas, memiliki peran besar dalam memastikan jiwa anak tetap sehat di tengah derasnya arus digital.
Al-Qur’an memberi prinsip penting tentang kerja kolektif ini:
“Dan hendaklah ada di antara kamu satu kelompok yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar.”
(TQS Ali Imran: 104)
Ayat ini menunjukkan bahwa menjaga masyarakat termasuk menjaga generasi harus dilakukan secara terorganisir, bukan dibiarkan berjalan sendiri-sendiri. Orang tua membutuhkan dukungan sosial, dan masyarakat membutuhkan kesadaran bersama.
Berikut tiga kontribusi penting yang bisa dilakukan masyarakat:
1. Menjadi Lingkungan yang Menguatkan, Bukan Menghakimi
Tidak semua orang tua memiliki energi yang sama. Ada yang lelah, ada yang bingung, ada yang ingin memperbaiki keadaan, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Masyarakat seharusnya menjadi penopang, bukan tempat yang membuat orang tua merasa semakin kecil, menjadi tempat bertanya, bukan diperolok, tempat mencari solusi, bukan ditambah beban, tempat mendapatkan empati, bukan vonis.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa meringankan kesulitan seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesulitannya pada hari kiamat.”
(HR. Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa membantu sesama, termasuk membantu orang tua dalam mendidik anak, adalah ibadah besar.
Ketika masyarakat menjadi ruang penguat, orang tua merasa aman untuk belajar, memperbaiki, dan mencari arah. Anak-anak pun merasakan bahwa lingkungan sekitarnya peduli dengan mereka.
2. Membangun Kegiatan Kolektif yang Memperbaiki Jiwa Anak
Anak dan remaja membutuhkan tiga hal:
aktivitas bermakna, komunitas baik, dan teladan kedewasaan. Masyarakat yang baik akan menyalurkan energi anak ke arah yang benar dengan menciptakan kegiatan positif seperti: kegiatan masjid yang ramah remaja, halaqah Qur’an yang lembut dan menguatkan, klub minat: sains, menulis, olahraga, robotik, kepemimpinan, ruang aman untuk mengobrol dengan mentor dewasa.
Kegiatan ini bukan sekadar pengisi waktu, tetapi menjadi penopang jiwa bagi anak yang setiap hari melihat filter kecantikan, komentar negatif, perbandingan sosial, dan godaan dunia maya. Allah mengingatkan:
“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan.”
(TQS Al-Ma’idah: 2)
Membangun kegiatan kolektif adalah bentuk konkret dari ayat ini. Saat aktivitas positif hidup di sekitar anak, ketergantungan mereka pada layar akan berkurang, bukan karena dilarang, tetapi karena jiwa mereka terpenuhi.
Menjaga Ruang Publik dari Normalisasi Perilaku Buruk
Tantangan anak hari ini bukan hanya gadget, tetapi budaya digital yang semakin permisif:
judi online, perundungan, konten vulgar, budaya flexing, sampai moderasi agama yang memelintir nilai. Jika masyarakat diam, perilaku buruk akan dianggap biasa. Jika masyarakat peduli, anak-anak merasa terlindungi. Dalam sebuah ayat, Allah menggambarkan ciri masyarakat beriman:
“Kalian adalah umat terbaik, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.”
(TQS Ali Imran: 110)
Ayat ini tidak hanya bicara tentang negara; ia bicara tentang budaya sosial, tentang warga yang saling menjaga, tentang tetangga yang saling memperhatikan, tentang lingkungan yang tidak diam melihat kerusakan. Masyarakat yang kuat adalah yang berani mengatakan: “Ini tidak baik untuk anak-anak kita.”
Kita Tidak Bisa Membiarkan Orang Tua Berjuang Sendirian
Anak-anak hari ini menghadapi tekanan yang tidak kita alami saat remaja. Dunia maya terus aktif 24 jam sehari, terjadi perbandingan sosial tidak pernah berhenti. Informasi masuk tanpa filter, hingga gangguan moral hadir tiap detik. Karenanya, perjuangan melindungi anak tidak cukup dilakukan dalam rumah saja.
Harus ada keluarga yang hangat, sekolah yang menenangkan, masyarakat yang peduli,
dan komunitas yang terorganisir menyeru kebaikan sebagaimana perintah Allah dalam surat Ali Imran 104.
Di sinilah kita memahami bahwa kerja kolektif bukan pilihan, tetapi perintah Allah agar generasi tetap selamat.
Menuju Edisi 5, pada satu pilar besar yang tidak boleh diabaikan yaitu negara. Negaralah yang seharusnya menyediakan ekosistem digital yang aman, bersih, dan bermartabat untuk anak-anak.
Di Edisi 5, kita akan membahas: apa sebenarnya tugas negara dalam menjaga anak-anak dari kerusakan digital?
