Karena Orangtua Tidak Mungkin Menjaga Anak Sendirian

Oleh Nadisah Khairiyah
LensaMediaNews.com, Parenting- Ketika Anak Kita Tinggal di Dunia Maya (5)
Ada satu kenyataan besar yang sering kita lewatkan, orangtua bisa mengasuh, masyarakat bisa mendukung, tetapi hanya negara yang bisa menciptakan ekosistem yang aman bagi anak.
Di era digital, ancaman tidak lagi datang dari jalanan gelap, tetapi dari ruang yang tidak terlihat: layar, algoritma, aplikasi, tren viral, dan industri digital yang bekerja tanpa tidur, 24 jam sehari membentuk pikiran dan selera generasi kita.
Karena itu, peran negara tidak bisa hanya menjadi pemberi imbauan.
Negara seharusnya menjadi penjaga peradaban, memastikan setiap anak tumbuh dengan hati yang bersih, akal yang terjaga, dan lingkungan yang tidak merusak.
Al-Qur’an menggambarkan betapa pentingnya kepemimpinan yang adil dan penjagaan yang kuat:
“(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar.”
(TQS Al-Hajj: 41)
Ayat ini menunjukkan bahwa kekuasaan bukan untuk membiarkan keburukan, tetapi untuk menegakkan ketertiban moral sehingga masyarakat termasuk anak-anak dapat hidup dalam suasana yang sehat.
Berikut tiga tugas besar negara yang sangat menentukan kesehatan jiwa generasi:
1. Menciptakan Ruang Digital yang Aman, Bukan Sekadar Dibiarkan
Orangtua bisa membatasi gadget, memeriksa aplikasi, bahkan mengatur waktu layar.
Tetapi orangtua tidak mungkin mengawasi struktur industri digital yang dikendalikan oleh korporasi global.
Di sinilah negara seharusnya hadir untuk menutup akses konten kriminal dan merusak, menghentikan operasi judi online dan pornografi, menindak tegas penipuan digital dan eksploitasi anak,
mengawasi algoritma agar tidak memicu adiksi yang merusak mental remaja.
Jika negara diam, keluarga akan selalu kalah cepat dibanding industri digital.
Allah mengingatkan:
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.”
(TQS Hud: 113)
Tidak menertibkan industri digital yang jelas mengeksploitasi kelemahan manusia adalah bentuk pembiaran yang berbahaya.
Pembiaran seperti inilah yang membuat kerusakan mengalir deras memasuki rumah-rumah.
2. Mengarahkan Teknologi untuk Pendidikan, Bukan Komersialisasi Anak
Teknologi bukan musuh, yang menjadi masalah adalah ketika teknologi dibiarkan mengikuti logika pasar:
“Yang paling viral, itulah yang paling ditampilkan.”
Negara yang peduli pada generasi akan memastikan bahwa digital tidak menjadi hutan liar, tetapi menjadi taman belajar.
Dengan cara: memprioritaskan konten edukasi dan ilmu yang bermanfaat, memastikan ekosistem digital nasional bebas dari eksploitasi, mendukung sekolah dan keluarga dengan platform digital yang aman, mengarahkan industri kreatif untuk menghadirkan hiburan yang sehat.
Anak tidak perlu meninggalkan dunia digital. Justru mereka harus hidup di dalamnya dengan selamat, karena ekosistemnya dijaga oleh kebijakan negara.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Imam (pemimpin) adalah penjaga, dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa negara bukan hanya pengatur administrasi, tetapi penjaga akhlak dan keselamatan generasi.
3. Menjaga Moral Publik agar Anak Tidak Terpapar Kerusakan dari Hulu
Tantangan digital yang dihadapi anak hari ini hampir semuanya berakar dari kebijakan negara seperti judi online, riba yang merusak ekonomi keluarga, pornografi yang merusak otak remaja, budaya kekerasan dan konten vulgar, normalisasi perilaku buruk, sampai moderasi agama yang membuat hal-hal jelas menjadi kabur.
Ketika negara membiarkan kemaksiatan tumbuh, ruang digital pun akan penuh bayangannya. Jika akar ini tidak dicabut, maka: keluarga akan kelelahan, masyarakat kewalahan, dan yang pertama terluka adalah anak-anak kita.
Negara seharusnya menjadi pelindung hami , bukan penonton. Bukan yang melepas arus, tetapi yang menegakkan benteng.
Al-Qur’an menyebut umat terbaik adalah mereka yang:
“Menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.”
(TQS Ali Imran: 110)
Dan negara adalah pihak yang memiliki kekuatan untuk melakukan ini pada level terbesar level sistemik.
Kesimpulan: hanya Negara yang Bisa Membuat Benteng Besar Generasi
Pada akhirnya, orangtua bisa memperbaiki rumah, masyarakat bisa memperbaiki lingkungan, sekolah bisa memperbaiki suasana pendidikan. Tetapi hanya negara yang memiliki kekuatan untuk: menciptakan ruang digital yang aman, menutup pintu besar kemaksiatan, mengatur industri, menertibkan algoritma, mengatur platform, dan memastikan anak-anak tumbuh dalam ekosistem yang sehat lahir-batin.
Itulah mengapa upaya menyelamatkan generasi digital tidak boleh parsial, tidak cukup hanya keluarga, tidak cukup hanya masyarakat. Harus ada negara yang menjalankan amanahnya.
Menuju Edisi Terakhir
Di edisi terakhir, kita akan merangkum:
mengapa solusi menyeluruh keluarga, masyarakat, negara harus bekerja bersama agar anak-anak tidak hanyut dalam dunia maya, tetapi tumbuh menjadi generasi. cahaya.
