Tren Freestyle : Kebebasan yang Berujung Maut

Oleh : Maratus Sholikha
Lensa Media News – Publik kembali dihebohkan dengan berita meninggalnya anak bangsa setingkat SD dan diketahui penyebab utamanya adalah meniru tren yang saat ini sedang ramai diperbincangkan dikalangan anak dan remaja. Berdasarkan berita yang diliput oleh Tribunnews.com seorang murid kelas 1A sekolah dasar bernama Nizan meninggal dunia setelah diduga mengalami cedera akibat aksi freestyle di rumahnya.
Berdasarkan keterangan pihak sekolah menurutnya, korban diasuh oleh kakek dan nenek karena kedua orang tuanya bekerja di luar negeri sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI).
Tren Free Style : Ketika Nyawa Hanya Dihargai atas Nama Viral
Freestyle sebenarnya bukanlah sebuah permasalahan jika dilakukan oleh ahli atau profesional, namun belakangan menjadi masalah karena bebas dilakukan oleh siapapun tanpa pengawasan. Tren freestyle terinspirasi oleh game online kemudian diviralkan melalui konten di berbagai media sosial yang menampilkan gerakan dengan tumpuan kepala dan leher yang berbahaya ditirukan oleh anak-anak. Maraknya konten serupa di media sosial menjadi penyebab anak-anak terinspirasi melakukan hal yang sama.
Sebelum viralnya tren ini sedari awal harusnya sudah menjadi alarm keras bagi semua pihak terutama negara yang memilki akses penuh terhadap tontonan media sosial maupun game online yang bebas diakses oleh berbagai usia termasuk didalamnya adalah usia anak-anak. Anak seusia SD belum memilki kemampuan menalar dengan benar sehingga belum bisa membedakan baik dan buruknya pengaruh tren medsos. Bagi mereka meniru hal yang sering dipertontonkan adalah hal yang wajar dan menyenangkan serta akan adanya rasa kebanggaan terhadap dirinya karena telah mampu mengikuti tren yang saat itu sedang viral .
Terkikisnya Peran Orang Tua
Seharusnya rumah adalah madrasah awal bagi anak-anak bukan sekadar mencukupi kebutuhan sandang pangan dan papan saja tapi juga memperhatikan bagaimana ilmu dan pengetahuan terserap dengan baik karena informasi yang diterima sangat berpengaruh bagi tumbuh kembang anak . Melihat fenomena saat ini anak-anak difasilitasi dengan gadget tanpa adanya kontrol orang tua yang mejadikan anak bebas mengakses media sosial.
Namun sayangnya, peran orang tua kini telah terkikis dengan adanya tuntutan ekonomi yang semakin menekan sehingga anak menjadi korban dan terbaikan. Orang tua disibukkan mencari nafkah dan melupakan peran utamanya di lingkup keluarga padahal pondasi awal terbentuknya pribadi yang kuat adalah dari sini.
Tindak Tegas Platform Media
Kasus ini sebenarnya bisa dicegah jauh sebelum menjadi tren yang ditiru oleh anak-anak. Pihak negara mengambil peran penting untuk menjaga setiap nyawa individu dan hanya negara yang memilki akses untuk pemblokiran situs-situs yang dinilai tidak pantas.
Sejak awal munculnya konten freestyle yang dilakukan anak-anak di media langkah cepat untuk meminimalisir adalah dengan penghapusan konten terkait agar tidak semakin menyebarluas.
Negara dapat membuat aturan atau regulasi hukum yang membatasi atau melarang tren berbahaya apalagi sampai merenggut nyawa begitu juga pada media sosial pemerintah dapat memblokir akses konten negatif menindak tegas dan memperkuat keamanan digital yang ramah anak.
Akar Masalah Ekonomi Menjadikan Bobroknya Pola Pengasuhan
Namun ada hal yang lebih utama yang patut disoroti dari kasus ini, misal saja dilihat pada aspek ekonomi negara harusnya memberikan jaminan kesejahteraan dengan memberikan lowongan pekerjaaan sebanyak mungkin bagi warganya sehingga para orang tua tidak perlu repot mencari pekerjaan yang layak sampai harus menjadi pekerja di luar negeri yang dinilai lebih menjanjikan.
Adanya sumber daya alam yang semestinya dimaksimalkan untuk kepentingan kesejahteraan rakyatnya tentu akan menjadikan para orang tua lebih fokus pada pola pengasuhan anak tanpa dipusingkan dengan naiknya harga-harga bahan baku dan kebutuhan mendasar lainnya.
Dengan begitu anak tumbuh dengan perhatian dan kasih sayang penuh dari orang tua serta anak lebih terkontrol dalam menyaring informasi yang beredar di media atau pun di lingkungannya.
[LM/nr]
