Jalan Hidup yang Benar hanya Datang dari Allah

Jalan hidup

 

Oleh Nadisah Khairiyah

 

LensaMediaNews.com, Tsaqofah Aqliyah_ Allah ﷻ berfirman:
وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا
Siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?”
(QS an-Nisa: 122)

Jika kita ingin membeli sebuah barang, kita mencari petunjuk penggunaan dari pembuatnya. Karena yang membuat pasti paling tahu cara menggunakannya.

Apalagi manusia.

Yang paling tahu tentang manusia bukan manusia itu sendiri, tetapi Allah ﷻ yang menciptakan manusia.

Karena itu Allah ﷻ tidak membiarkan manusia hidup tanpa petunjuk. Allah ﷻ menurunkan Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan.

Maka jika kita ingin hidup benar, mendidik anak dengan benar, mengatur keluarga dengan benar, bahkan mengatur negara dengan benar semuanya harus kembali kepada petunjuk Allah ﷻ.

 

Menggunakan Petunjuk Allah dalam Kehidupan

Sering kali Al-Qur’an dipahami hanya untuk dibaca saat pengajian, saat sedih, atau saat ada musibah.

Padahal Al-Qur’an diturunkan untuk memimpin kehidupan.
Saat mendidik anak, gunakan petunjuk Allah ﷻ.
Contoh: QS an-Nisa: 9.

Karena Allah ﷻ paling tahu bagaimana menjaga fitrah anak.
Saat bergaul, gunakan petunjuk Allah ﷻ.
Contoh: QS an-Nur: 27–31, QS al-Ahzab: 59.

Karena Allah ﷻ paling tahu apa yang menjaga kehormatan manusia.
Saat mencari rezeki, gunakan petunjuk Allah ﷻ.
Contoh: QS al-Baqarah: 275, QS Shad: 24.

Karena Allah ﷻ tahu mana yang halal dan membawa keberkahan.
Bahkan saat mengatur pemerintahan dan rakyat, harus menggunakan petunjuk Allah ﷻ.
Contoh: QS an-Nisa: 58–59.

Karena kehidupan manusia tidak akan pernah baik jika berjalan jauh dari wahyu-Nya.

 

Janji Allah ﷻ Jika Wahyu Diterapkan

Allah ﷻ memberikan janji yang sangat indah:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.”
(QS al-A’raf: 96)

Bukan hanya individu yang Allah ﷻ janjikan keberkahan, tetapi juga sebuah negeri.

Jika sebuah negeri dibangun dengan keimanan dan ketakwaan, maka keberkahan akan turun:
• hasil bumi melimpah,
• kehidupan terasa aman,
• masyarakat tidak saling menzalimi,
• dan kekayaan tidak hanya dinikmati segelintir orang.

 

Karena keberkahan bukan sekadar banyaknya harta. Kadang harta banyak, tetapi hidup penuh kecemasan. Kadang sumber daya melimpah, tetapi rakyat tetap kesulitan. Mengapa?
Karena keberkahan hadir saat manusia taat kepada Allah ﷻ.

 

Ketika Al-Qur’an Dijauhkan dari Kehidupan

Allah ﷻ juga memberi peringatan:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا
Siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit.”
(QS Thaha: 124)

 

Kadang ayat ini dipahami hanya tentang kemiskinan. Padahal kehidupan sempit bisa hadir dalam banyak bentuk: hati penuh kecemasan, hidup terasa tidak tenang, keluarga mudah rapuh, rakyat terus merasa terbebani, bahkan negeri yang kaya belum mampu menyejahterakan seluruh rakyatnya.

 

Bukankah sebagian itu sedang dirasakan hari ini? Indonesia diberi kekayaan alam yang luar biasa: laut yang luas, tanah yang subur, tambang yang melimpah, dan hutan yang besar.

Namun mengapa masih banyak rakyat yang hidup sulit? Mengapa kebutuhan pokok terus naik, pendidikan dan kesehatan terasa berat bagi sebagian masyarakat? Dan mengapa negeri yang kaya masih bergantung pada utang?

 

Di sinilah manusia belajar bahwa kekayaan saja tidak cukup. Kekayaan harus dikelola dengan petunjuk Allah ﷻ. Karena ketika Al-Qur’an tidak dijadikan pedoman dalam mengatur kehidupan, kekayaan negeri sering kali tidak kembali sepenuhnya untuk kemaslahatan rakyat.

 

Ketika Pemenuhan Tidak Dibangun di Atas Wahyu

Kadang sebuah kebijakan dibuat dengan tujuan yang terlihat baik: meningkatkan gizi masyarakat, membantu rakyat kecil, atau meningkatkan kesejahteraan.
Dan Islam memang mengajarkan kepedulian terhadap kebutuhan rakyat.

 

Namun seorang Mukmin tidak hanya melihat tujuan akhirnya. Islam juga mengajarkan bahwa: cara mencapai kebaikan harus sesuai dengan aturan Allah ﷻ.

Jika Allah ﷻ telah menganugerahkan kekayaan yang besar kepada sebuah negeri, maka kekayaan itu seharusnya menjadi jalan kesejahteraan bagi rakyatnya, bukan justru lebih banyak dinikmati pihak lain.

Bukan dengan jalan yang justru menambah beban masyarakat, atau membuat negeri kehilangan kemandiriannya. Dan bukan dengan cara yang menjauh dari keberkahan.

Karena Islam bukan hanya mengajarkan niat yang baik, tetapi juga jalan yang benar.

 

Penutup

Suatu hal yang membahagiakan ketika kaum Muslim menunjukkan cintanya kepada Al-Qur’an, melalui tahsin Al-Qur’an, tahfizh, kajian, wakaf Al-Qur’an, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya. Itu tanda bahwa Al-Qur’an masih hidup di hati umat.

Namun kecintaan kepada Al-Qur’an tidak cukup berhenti pada bacaan dan hafalan.
Al-Qur’an diturunkan bukan hanya untuk dilantunkan, tetapi juga untuk dijadikan petunjuk kehidupan.

Yang masih perlu terus dihidupkan adalah menghadirkan Al-Qur’an dalam seluruh aspek kehidupan.

Karena saat mendidik anak, kita membutuhkan petunjuk Al-Qur’an. Saat menjaga keluarga, kita membutuhkan petunjuk Al-Qur’an. Saat bergaul, kita membutuhkan petunjuk Al-Qur’an. Mencari rezeki, kita juga membutuhkan petunjuk Al-Qur’an. Bahkan saat mengatur kehidupan masyarakat dan negeri, kita juga membutuhkan petunjuk Al-Qur’an.

Sebab hanya Allah ﷻ yang paling mengetahui: apa yang baik bagi manusia, yang merusak dan jalan apa yang akan membawa keberkahan bagi kehidupan.

Maka semakin dekat seseorang kepada Al-Qur’an, seharusnya semakin besar keinginannya untuk taat kepada Allah ﷻ dalam seluruh urusan hidupnya.

Bukan hanya menjadikan Al-Qur’an indah di lisan, tetapi juga hidup dalam pemikiran, sikap, dan aturan kehidupan.

 

Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba-hamba yang: mencintai Al-Qur’an, memahami, mengamalkan dan memperjuangkan agar Al-Qur’an benar-benar menjadi cahaya bagi kehidupan manusia. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
و الله اعلم بالصواب