Trend Freestyle, Kebebasan Berujung Maut

FreestyleTren-LenSaMediaNews

Oleh: Evi Faouziah, S.Pd

Praktisi Pendidikan dan Aktivis Dakwah

 

LenSaMediaNews.com–Fenomena konten digital berbahaya kembali memakan korban jiwa. Tren freestyle yang ramai di media sosial diduga menyebabkan dua anak di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), meninggal dunia akibat cedera leher setelah meniru aksi berbahaya tersebut (jawapos.com,07-05-2026).

 

Peristiwa ini bukan sekadar duka keluarga atau kecelakaan biasa. Ia adalah alarm keras bagi masyarakat tentang rusaknya arah pembentukan generasi hari ini. Sebab anak-anak tidak lahir dengan naluri menyukai tindakan berbahaya. Mereka dibentuk oleh lingkungan, dipengaruhi oleh tontonan, dan diarahkan oleh sistem yang mengelilinginya.

 

Maka pertanyaan mendasarnya bukan sekadar, “Mengapa anak meniru?” melainkan, “Mengapa sistem membiarkan anak hidup dalam lingkungan yang menormalisasi bahaya?”

 

Ketika Hiburan Kehilangan Nilai

Di era digital hari ini, konten tidak lagi dinilai dari benar atau salah, baik atau buruk, mendidik atau merusak. Nilai tertinggi yang dijunjung adalah perhatian (attention). Semakin viral, semakin menguntungkan. Semakin banyak ditonton, semakin bernilai secara ekonomi.

 

Inilah wajah kapitalisme digital menjadikan perhatian manusia sebagai komoditas yang dapat diperdagangkan. Aksi berbahaya, tantangan ekstrem, dan perilaku yang menegangkan diproduksi secara terus-menerus karena mampu menarik klik dan meningkatkan keuntungan. Algoritma tidak mengenal empati. Ia tidak memahami keselamatan anak-anak. Ia hanya mengenal angka, interaksi, dan keuntungan.

 

Akibatnya, bahaya dibungkus dengan kemasan hiburan. Risiko dipoles menjadi tantangan. Kerusakan dikemas menjadi kreativitas. Padahal Allah Swt. berfirman yang artinya,“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (TQS. Al-Isra: 36). Islam tidak mengajarkan manusia mengikuti sesuatu tanpa aturan.  Termasuk pola asuh kepada anak.

 

Sekularisme Melahirkan Krisis Pengasuhan

Dalam sistem sekuler ini, pendidikan dipersempit hanya menjadi tanggung jawab sekolah, sementara keluarga semakin kehilangan fungsinya sebagai institusi pembentuk kepribadian. Tekanan ekonomi memaksa banyak orang tua lebih sibuk mengejar kebutuhan hidup. Waktu bersama anak semakin sedikit. Gawai akhirnya mengambil alih fungsi pengasuhan.

 

Tanpa disadari, algoritma menjadi guru baru bagi anak-anak. Layar menjadi teman terdekat mereka. Konten digital menjadi kurikulum yang membentuk pola pikir dan perilaku. Anak akhirnya lebih mengenal tokoh media sosial daripada mengenal teladan kehidupan yang benar.

 

Padahal Islam menetapkan keluarga sebagai benteng pertama penjaga generasi. Allah Swt. berfirman yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...” (TQS. At-Tahrim: 6). Ayat ini adalah perintah yang menunjukkan bahwa menjaga keluarga merupakan tanggung jawab besar yang tidak boleh diserahkan kepada layar dan algoritma.

 

Negara Netral, Generasi Menjadi Korban

Yang lebih mengkhawatirkan adalah posisi negara dalam sistem sekuler yang sering mengambil peran sebagai regulator. Atas nama kebebasan berekspresi dan kebebasan pasar, negara cenderung membiarkan arus konten digital mengalir tanpa arah yang jelas.

 

Padahal netralitas terhadap kerusakan bukanlah sikap netral, tapi bentuk pembiaran. Ketika konten berbahaya bebas beredar, anak-anak dapat mengakses apa pun tanpa perlindungan memadai, dan regulasi hanya sebatas imbauan, sesungguhnya negara sedang melepaskan tanggung jawabnya.

 

Rasulullah Saw. bersabda, “Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR. Bukhari). Jelas,  pemimpin bukan sekadar pengelola administrasi negara, tetapi penjaga kehidupan masyarakat. Negara memiliki kewajiban melindungi akal, moral, dan keselamatan generasi.

 

Dalam pandangan Islam, negara tidak boleh membiarkan media bergerak bebas tanpa arah. Negara wajib menutup akses terhadap konten yang membahayakan, mengawasi industri digital, memperkuat pendidikan keluarga, dan membangun lingkungan sosial yang sehat bagi tumbuh kembang anak.

 

Bukan Sekadar Mengubah Tren, Tetapi Mengubah Arah Sistem

Persoalan utamanya terletak pada sistem yang melahirkan dan membiarkan tren-tren negatif berkembang. Selama kebebasan tanpa batas dijadikan prinsip kehidupan,  keuntungan ekonomi dijadikan tujuan utama hingga agama diabaikan, maka generasi akan terus menjadi korban.

 

Islam menawarkan konstruksi yang utuh. Anak dipandang sebagai amanah yang wajib dijaga. Orang tua diposisikan sebagai pendidik utama. Masyarakat menjadi lingkungan pembentuk kepribadian. Negara bertindak sebagai pelindung yang aktif dan bertanggung jawab. Inilah solusi ideologis, bukan sekadar solusi teknis. Wallahualam bissawab. [LM/ry].