Rupiah Melemah, Rakyat semakin Pasrah

Polemik Pesta Babi dalam Pandangan Islam_20260528_140001_0000

Oleh: Maratus Sholikha

LenSa Media News _ Opini _ Imbas dari melemahnya nilai rupiah terhadap dolar mengakibatkan tekanan terhadap dunia usaha dan adanya potensi PHK massal yang membuat para korban PHK dari perkotaan kembali ke desa yang tentunya akan menambah permasalahan baru didesa. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira pada Jawapos.com sabtu (16-5-2026).

Berdasarkan berita yang dilansir kontan.co.id menyebutkan bahwa nilai tukar rupiah kini kian merosot tajam dan tercatat menduduki rekor paling lemah pada jumat (22-5-2026), kurs rupiah di level Rp 17.717 per dolar Amerika Serikat (AS).

 

Pemimpin Baru Harapan Semu

Rakyat kembali dibuat kecewa dengan kondisi ekonomi yang tidak menentu alih-alih menghadirkan angin segar dengan adanya pergantian pemimpin baru yang akan memberi harapan baru namun justru membuat masyarakat semakin kehilangan arah. Ditambah lagi dengan adanya rentetan pernyataan dari para pemimpin yang membuat rakyat penuh tanda tanya dan rasa kecewa mendalam.

Beberapa pidato presiden yang tersebar di media sosial yang menyatakan bahwa rakyat tidak membutuhkan dolar dan rakyat tidak perlu menjadi kaya adalah wujud lepas tangannya sosok pemimpin dan bentuk respon sosial yang tidak responsif. Lalu apa yang terjadi ketika rupiah melemah? Tentu yang paling berdampak adalah rakyat kecil.

Misal saja dalam kehidupan sehari-hari, produksi tempe dan tahu bergantung pada kebutuhan impor kedelai. Ketika dolar makin naik rupiah makin melemah maka harga yang harus dibayarkan tentu akan semakin mahal yang kemudian berdampak pada harga jual di masyarakat yang semakin tinggi juga. Ditambah lagi ketergantungan pada minyak bumi yang saat ini sebagian besar masih impor sekitar 1 juta barel minyak per hari. Tentu hal ini akan menjadikan harga minyak semakin naik dan imbasnya kebutuhan pokok di masyarakat juga akan mengikuti harga pasar.

Pelemahan nilai rupiah adalah konsekuensi logis dari penerapan sistem ekonomi kapitalis yang menggunakan mata uang kertas tanpa ada backup dengan komoditi berharga seperti emas dan perak.

Emas dan Perak Solusi Melemahnya Rupiah

Islam adalah agama yang komprehensif bukan hanya agama yang mengatur ibadah sholat saja tapi juga mengatur masalah komplek kehidupan termasuk pada masalah ekonomi. Dalam islam standard mata uang bertumpu pada emas dan perak atau mata uang subtitusi yang memiliki keseimbangan terhadap inflasi dan fluktuasi global. Hal ini menunjukkan bahwa emas dan perak bukan sekedar barang untuk investasi saja akan tetapi digunakan sebagai alat tukar utama. Dengan menjadikan emas dan perak sebagai mata uang pengganti fiat money negara tidak bisa bebas mencetak mata uang kertas karena dibatasi pada jumlah cadangan emas atau perak yang tersedia.

Sejak dulu nilai komoditi ini tetap memiliki nilai yang diakui oleh masyarakat sebagai contoh 1 dinar emas pada era dahulu dapat digunakan untuk membeli kambing sampai saat ini dengan nilai yang sama juga tetap bisa membeli kambing. Hal ini berbeda dengan mata uang kertas dengan nilai 50.000 dulu masyarakat dapat membeli berbagai kebutuhan pokok dengan jumlah yang cukup banyak namun saat ini justru dengan uang yang memiliki nilai sama hanya mendapatkan sedikit barang kebutuhan.

Selain itu pengelolaan sumber daya alam yang maksimal dikelola oleh negara seperti minyak, batu bara dan sejenisnya yang hasilnya dikembalikan pada kesejahteraaan rakyat tentu akan membuat kondisi ekonomi semakin baik tanpa tergantung pada permintaan impor karena sejatinya dalam Islam SDA merupakan kepemilikan umum yang haram hukumnya dimiliki oleh individu atau korporasi tertentu. Maka solusi atas permasalahan ini bukan sekedar mengganti mata uang saja tapi juga mengganti system yang mengatur kehidupan manusia dengan lebih baik.

 

(LM/Sn)