Fenomena Kesaksian Murtadin Alarm Degradasi Iman Akidah

Oleh : Cokorda Dewi
LenSaMediaNews.com–Maraknya fenomena kesaksian para murtadin di berbagai platform media sosial. Menimbulkan tanya mengapa terjadi pembiaran. Sebagian umat muslim menganggap hal ini bukan sesuatu urgensi untuk dicegah. Ada yang beranggapan bahwa hal ini adalah urusan pribadi seseorang, merupakan pilihan mereka yang harus dihormati.
Fakta Fenomena Murtadin
Dalam unggahan video di salah satu chanel YouTube tentang curhatan dan kesaksian murtadin. Salah seorang murtadin mengaku berlatar belakang Islam kuat, dan fasih serta paham bahasa Arab. Menafsirkan Al-Quran versinya sendiri, berdasarkan pada gramatikal bahasa Arab yang dipelajarinya. Sehingga mengalami kebingungan sendiri tanpa mencari tahu kebenarannya. Memahami Islam sebatas agama ritual ibadah (ruhiyah), dan iman adalah kebaikan. Sehingga merasa meninggalkan Islam bukanlah murtad.
Sebuah video pernikahan viral di Facebook, di mana pasangan suami istri muslim mendampingi anaknya berjalan menuju altar gereja Khatolik, untuk mengikuti prosesi pemberkatan. Menurut keterangan si ibu, mendokumentasikan momen pernikahan anaknya adalah sebagai wujud cinta dan dukungan keluarga, meski dalam perbedaan. Menganggap toleransi harus diwujudkan melalui sikap saling menerima dan menghargai perbedaan.
Pemahaman Islam Ideologis Atasi Degradasi Iman Akidah
Fakta tersebut memberikan gambaran betapa rapuhnya keimanan dan akidah di kalangan umat muslim. Seseorang yang fasih dan paham bahasa Arab sekalipun, jika tidak belajar Islam secara benar, maka tidak bisa memahami Al-Quran. Kebanyakan muslim paham, bahwa Islam hanyalah agama ritual ibadah (ruhiyah).
Ketidakpahaman Allah sebagai Sang Pencipta (Al Khaliq) dan Sang Pengatur (Al Mudabbir), turut menjadi penyebab kemurtadan. Allah Swt, tidak sama wujudnya dengan makhluk ciptaanNya. Allah adalah merupakan yang awal dan akhir. Namun Allah tidak berawal dan tidak berakhir. Memaknai yang awal dan akhir dengan tiada berawal dan tiada berakhir adalah sesuatu yang berbeda.
Allah adalah awal dari segalanya, dan tetap hidup meski yang lain berakhir. Allah tiada berawal, karena sifat Allah wajibul wujud, wajib adanya. Allah tiada berakhir, karena Allah tidak sama dengan makhlukNya. Makhluk ciptaanNya bisa berawal setelah diciptakan, dan bisa berakhir dengan kematian. Benda-benda bisa berawal karena dibuat, berakhir karena usang atau aus termakan waktu.
Ketidakpahaman batas toleransi dalam Islam, berakibat pada bermaksiat kepada Allah Swt. Toleransi dalam Islam dibatasi oleh syariat Islam, sebagaimana Firman Allah dalam QS. Al Kaafirun. Umat muslim seharusnya tidak mengikuti prosesi ataupun yang berkaitan dengan ibadah umat lain, karena itu diharamkan dalam Islam.
Fenomena pemurtadan ini didukung oleh sistem yang diterapkan dalam kehidupan, yaitu sistem sekuler kapitalis. Sistem yang menjauhkan urusan agama dari kehidupan umat. Sistem yang tidak bisa mendukung menjaga keimanan dan akidah umat, sebab menjunjung tinggi kebebasan individu dalam kemasan hak asasi manusia. Sistem yang menempatkan materi sebagai wujud kesuksesan dan kebahagian. Maka ketika umat tertimpa masalah kehidupan, padahal sudah merasa istikamah beribadah, mengalami kebuntuan solusi. Sehingga memunculkan anggapan tidak ada take and give dari Allah. Dan berakhir dengan kemurtadan.
Perlu adanya pemahaman Islam Ideologis pada umat, bahwa Al-Quran yang diturunkan Allah melalui Malaikat Jibril kepada Rasulullah dalam Bahasa Arab yang jelas (QS. Asy Syu’ara : 192 – 195), tidak hanya tentang ibadah ruhiyah saja. Akan tetapi mencakup adanya perintah, larangan, petunjuk, dan aturan-aturan dari Allah untuk mengatur segala aspek kehidupan manusia, baik itu politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan, maupun hukum/uqubat. Keimanan dalam Islam adalah keyakinan seratus persen kepada Allah Swt sebagai Sang Pencipta (Al Khaliq) dan Sang Pengatur (Al Mudabbir), serta Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir, utusan Allah.
Sesungguhnya segala masalah yang dihadapi adalah salah satu ujian dari Allah. Allah menguji hambaNya sesuai dengan batas kemampuannya. Hanya diperlukan kesabaran, dan keikhlasan dalam menerima segala ketetapan Allah. Namun, ketika dunia menjadi satu-satunya tujuan, maka Allah berikan dunianya. Ketika Allah ditinggalkan dan Allah tidak ridha, maka ditutuplah mata, hati, dan telinganya dari kebenaran Islam. Wallahu a’lam bishshowab. [LM/ry].
