Maulid Nabi, Meneladani Perjuangan Rasulullah Secara Kafah

MaulidNabi-LenSaMediaNews

Oleh: Iliyyun Novifana

 

LenSaMediaNews.com–Setiap tahun, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW selalu hadir dengan beragam bentuk. Umat Islam berkumpul membaca shalawat, mengikuti tabligh akbar, pengajian, hingga pawai.

 

Hal ini menjadi sarana menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW dan mengenang perjuangan beliau. Sejumlah pemberitaan tentang Maulid juga menekankan pentingnya kecintaan dan keteladanan terhadap akhla beliau. Namun, pertanyaannya: sudahkah kecintaan itu melahirkan kesadaran untuk mengikuti seluruh risalah dan metode perjuangan beliau?

 

Maulid semestinya tidak berhenti sebagai ekspresi kecintaan yang bersifat ritual dan emosional. Sebab, cinta kepada Rasulullah memiliki konsekuensi berupa ittiba’, yakni mengikuti beliau secara menyeluruh. Sebagaimana firman Allah SWT. yang artinya, “Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (TQS Ali Imran:31).

 

Ittiba’ kepada Rasulullah SAW bukan hanya meneladani kejujuran, kelembutan, kesabaran, dan akhlak mulia beliau. Lebih dari itu, umat perlu memahami bagaimana Rasulullah berjuang mengubah masyarakat jahiliah menuju kehidupan yang tunduk kepada Allah SWT. Beliau tidak sekadar mengubah perilaku individu, tetapi membangun kesadaran umat hingga Islam menjadi landasan kehidupan masyarakat dan negara.

 

Hari ini, penghambaan kepada selain Allah dapat berlangsung secara sistemik. Kapitalisme dan sekularisme menjadikan materi, kebebasan tanpa batas, serta pemuasan hawa nafsu sebagai orientasi kehidupan. Demokrasi pun dijadikan mekanisme pengaturan kehidupan yang menempatkan manusia sebagai pembuat aturan. Akibatnya, aturan Allah kerap dipisahkan dari pengaturan kehidupan publik.

 

Tidak mengherankan jika tuntutan perubahan sebenarnya mulai muncul di tengah umat. Berbagai persoalan ekonomi, ketidakadilan, kerusakan moral, dan krisis sosial mendorong masyarakat mencari alternatif. Namun, perubahan tersebut sering diarahkan sebatas pergantian kebijakan atau pergantian penguasa, bukan perubahan mendasar menuju kehidupan yang diatur berdasarkan syariat Islam.

 

Di sinilah pentingnya menjadikan Maulid sebagai momentum mempelajari bagaimana perjuangan Rasulullah secara kafah (menyeluruh), dalam setiap detail kehidupan beliau membawa umat dari kegelapan menuju cahaya Islam. Dalam dakwahnya di Makkah, Rasulullah membina individu dengan pemikiran dan tsaqafah Islam (tatsqif), kemudian melakukan interaksi dengan masyarakat (tafa’ul ma’al ummah) untuk membangun kesadaran dan dukungan terhadap Islam. Setelah itu, beliau memperoleh kekuasaan melalui istilamul hukmi, sehingga Islam dapat diterapkan secara menyeluruh dalam kehidupan.

 

Karena itu, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW semestinya tidak berhenti pada lisan yang bershalawat, tetapi berlanjut pada keterikatan terhadap risalah dan perjuangan beliau. Umat Islam perlu memahami bahwa penerapan syariat secara kafah membutuhkan perjuangan yang serius, terarah, dan mengikuti metode yang dicontohkan Rasulullah SAW.

 

Dengan demikian, Maulid bukan sekadar mengenang kelahiran manusia agung, tetapi menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat mengikuti risalahnya. Sebab, Rasulullah diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Maka, mencintai beliau seharusnya mendorong umat untuk menjadikan Islam benar-benar hadir sebagai rahmat dalam kehidupan. Wallahua’lam bishshowab. [LM/ry].