Aku Tak Pernah Melihatmu, Ya Rasulullah, Tapi Aku Sangat Mencintaimu

Oleh Nadisah Khairiyah
LensaMediaNews.com, Tsaqofah Aqliyah_ Kita sering mengatakan, “Aku mencintai Rasulullah ﷺ.”
Kita bershalawat, membaca sirah, tersentuh mendengar kisah perjuangannya, dan berharap kelak dikumpulkan bersama beliau.
Tetapi pernahkah kita bertanya:
Jika aku benar-benar mencintai Rasulullah ﷺ, apa yang sudah kuberikan?
Erich Fromm dalam The Art of Loving menggambarkan cinta sebagai sesuatu yang aktif. Mencintai bukan terutama tentang apa yang kita terima, tetapi tentang apa yang bersedia kita berikan: perhatian, kepedulian, tanggung jawab, dan penghormatan.
Menariknya, Islam pun memberi arah yang jelas:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
“Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.” (QS Ali ‘Imran [3]: 31).
Cinta memiliki bukti: ittibaa’.
Lalu, apa yang telah Rasulullah ﷺ berikan kepada kita?
Hampir seluruh hidupnya.
Beliau memberikan waktu, tenaga, harta, kenyamanan, bahkan hidupnya agar manusia mendapatkan petunjuk Allah.
Allah SWT berfirman:
عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Terasa berat olehnya penderitaan yang kalian alami, sangat menginginkan kebaikan bagi kalian, dan terhadap orang-orang Mukmin dia sangat penyantun dan penyayang.” (QS at-Taubah [9]: 128).
Bayangkan, kita adalah umat yang tidak pernah beliau temui, tetapi keselamatan kita beliau pikirkan. Beliau berdakwah dan bersabar agar risalah sampai kepada generasi setelahnya.
Dan kita termasuk generasi itu.
Hari ini kita mengenal Al-Qur’an, shalat, halal dan haram, serta jalan menuju Allah karena lebih dari empat belas abad lalu beliau tidak menyerah membawa risalah-Nya.
Maka jika kita mencintai beliau, bukankah cinta itu semestinya melahirkan sesuatu yang ingin kita berikan?
Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.” (TQS al-Ahzab [33]: 21).
Lihatlah jejak cinta beliau.
Rasulullah ﷺ bukan hanya mengajarkan shalat, puasa dan akhlak. Beliau membina manusia, mempersaudarakan umat, menegakkan keadilan, mengatur masyarakat, menjaga keamanan, dan menjadi kepala negara. Apakah karena haus kekuasaan?
Tidak.
Rasulullah ﷺ tidak membutuhkan kekuasaan untuk dirinya. Umat dan risalah membutuhkan kepemimpinan beliau.
Ada kebaikan yang dapat dilakukan individu. Tetapi ada kebaikan yang membutuhkan kekuasaan.
Seseorang dapat mengajarkan kejujuran. Tetapi siapa yang menegakkan keadilan ketika orang kuat menzalimi yang lemah? Seseorang dapat berdakwah kepada individu. Tetapi bagaimana Islam menjadi aturan kehidupan masyarakat jika hanya ditempatkan di ruang pribadi?
Karena itu, kepemimpinan Rasulullah ﷺ adalah bagian dari amanah risalah yang beliau tunaikan.
وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ
“Hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang Allah turunkan.” (QS al-Maidah [5]: 49).
Beliau menjadikan Islam bukan hanya ajaran yang diyakini, tetapi juga petunjuk yang mengatur kehidupan.
Lalu, bagaimana kita mencintai Rasulullah ﷺ meskipun tidak pernah melihat beliau?
Kenali beliau. Ikuti beliau. Cintai apa yang beliau cintai.
Semakin kita mengenal beliau, semakin kita menyadari betapa banyak yang telah beliau berikan untuk kita.
Dan mungkin hati kita kemudian bertanya:
“Rasulullah ﷺ telah memberikan begitu banyak untukku. Lalu, apa yang bisa kuberikan karena aku mencintainya?”
Mungkin cinta itu mulai mengubah cara kita hidup: lebih sungguh-sungguh mempelajari Al-Qur’an, menghidupkan sunnah, peduli kepada umat, berani menyampaikan kebenaran. Dan perlahan, kita rela memberikan waktu, tenaga, pikiran, bahkan hidup untuk apa yang beliau perjuangkan.
Semua itu lahir dari cinta: hati yang tidak nyaman hanya menerima, tetapi ingin memberi.
Suatu hari nanti, semoga Allah mempertemukan kita dengan beliau.
Saat itu kita ingin berkata:
“Ya Rasulullah ﷺ, aku memang tidak pernah melihatmu. Tetapi aku mengenalmu. Aku membaca perjuanganmu. Aku merasakan cintamu kepada umat. Aku mencintaimu. Dan sepanjang hidupku, aku berusaha mengikuti jalan yang engkau tunjukkan.”
Karena mencintai Rasulullah ﷺ bukan sekadar ingin bersama beliau.
Tetapi bersedia memberikan hidup untuk apa yang beliau cintai dan perjuangkan.
Itulah cinta yang menjadi ittibaa’. Cinta yang membuat kita ingin melangkah.Wallahu a’lam bi ash-shawab.
