Generasi Muda Rapuh, Buah Sistem Sekuler Kapitalistik

Oleh: Dinda Ilmiasih
Lensa Media News, Opini — Kasus krisis kesehatan mental di kalangan generasi muda kembali menjadi sorotan. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya berinisial RR (19) diduga melakukan percobaan bunuh diri pada Kamis (10-9-2026). Beberapa hari sebelumnya, seorang pria berinisial FS (30) ditemukan meninggal dunia di kawasan GBK, Jakarta Pusat. Sebelum kejadian, FS sempat meninggalkan pesan perpisahan dan memberikan donasi Rp40 juta kepada komunitas kesehatan mental. (Kompas, 10-9-2026)
Bukan Sekadar Masalah Individu
Fenomena ini tidak cukup dilihat sebagai persoalan individu. Selama ini, solusi banyak diarahkan pada peningkatan kesadaran kesehatan mental, mencari bantuan profesional, membangun support system, hingga mengajak generasi muda berpikir positif. Upaya tersebut penting, tetapi tidak menyentuh persoalan yang lebih mendasar: sistem kehidupan yang membentuk cara manusia berpikir dan menjalani hidup.
Sekularisme memisahkan agama dari kehidupan. Akidah tidak lagi menjadi landasan dalam menentukan tujuan hidup, sementara keberhasilan lebih banyak diukur dari prestasi, karier, penghasilan, dan pencapaian duniawi.
Budaya positivisme turut mendorong seseorang untuk selalu terlihat kuat, optimistis, produktif, dan sukses. Kegagalan seolah harus disembunyikan. Di tengah tuntutan tersebut, seseorang dapat merasa tertekan, tetapi enggan mengungkapkan masalahnya.
Kapitalisme kemudian memperkuat individualisme. Setiap orang didorong mengejar kesuksesan pribadi. Hubungan sosial pun semakin pragmatis. Akibatnya, seseorang dapat hidup di tengah keramaian, tetapi tetap merasa sendirian ketika menghadapi persoalan.
Islam Membangun Benteng Jiwa
Islam memiliki solusi yang berbeda sejak dari akarnya. Akidah Islam membentuk manusia dengan tujuan hidup yang jelas, yaitu sebagai hamba Allah SWT yang akan mempertanggungjawabkan kehidupannya di akhirat.
Keyakinan bahwa kehidupan dunia adalah ujian membuat seorang muslim memiliki perspektif ketika menghadapi kesulitan. Ia tidak memandang masalah dunia sebagai akhir dari segalanya. Islam juga dengan tegas mengharamkan bunuh diri sebagai bentuk penjagaan terhadap jiwa yang merupakan amanah dari Allah SWT.
Namun, Islam tidak berhenti pada pembentukan individu. Islam membangun keluarga dan masyarakat dengan ikatan akidah. Kepedulian terhadap sesama bukan sekadar pilihan, tetapi bagian dari tanggung jawab. Dengan demikian, seseorang tidak seharusnya dibiarkan menghadapi kesulitan seorang diri.
Negara Bertanggung Jawab Menjaga Rakyat
Islam juga menjadikan negara sebagai pihak yang bertanggung jawab mengurus rakyat. Dalam negara Khilafah, penerapan Islam secara kafah mencakup pendidikan, ekonomi, sosial, dan berbagai aspek kehidupan.
Pendidikan berbasis akidah membentuk manusia yang memiliki tujuan hidup yang benar. Sistem ekonomi Islam mengatur distribusi kekayaan dan menjamin pemenuhan kebutuhan pokok. Sistem sosial Islam memperkuat kepedulian sehingga masyarakat tidak berubah menjadi kumpulan individu yang hidup sendiri-sendiri.
Karena itu, ketika generasi muda semakin banyak menghadapi krisis, pertanyaannya bukan hanya, “Bagaimana membuat mereka lebih kuat?” tetapi juga, “Sistem kehidupan seperti apa yang sedang membentuk mereka?”
Selama sekularisme dan kapitalisme menjadi fondasi kehidupan, generasi akan terus didorong mengejar kesuksesan individual di tengah melemahnya pegangan dan ikatan sosial.
Islam menawarkan solusi yang menyeluruh: membangun individu dengan akidah, masyarakat yang saling peduli, serta negara yang menerapkan syariat Islam secara kafah. Bukan sekadar mengajarkan manusia untuk bertahan dalam sistem yang rapuh, tetapi menghadirkan sistem kehidupan yang menjaga manusia dari akar persoalannya.
Wallahualam bissawab. [LM/AH]
