Bukan Tak Bisa, Hanya Tak Jadi Prioritas 

BukanPrioritas-LenSMediaNews

Oleh: Beta Arin Setyo Utami, S. Pd.

 

LenSa Media New, Tsaqafah—Indonesia dengan segudang persoalan yang tak berkesudahan, seolah tanpa titik terang dan berbagai kebijakan yang tak kunjung menyolusi.

 

Berikut deretan masalah negeri ini yang seolah dibiarkan, sebenarnya bisa tapi dialihkan pada hal lain seolah sesuai pesanan, jauh dari prioritas. Indonesia mempunyai banyak sekolah tapi gedungnya rusak dan sangat tidak layak justru tidak semua diperbaiki, hanya sebagian diperbaiki dan sebagian besar dibiarkan. Sedangkan pembangunan Koperasi Merah Putih bisa berdiri kokoh sampai ke pelosok terpencil bahkan dengan bangunan yang terstandarisasi.

 

Berbicara gaji tenaga pendidikan dan kesehatan yang tidak sebanding dengan tuntutan kinerjanya, dikatakan oleh Pemerintah tidak ada uang tapi nyatanya untuk kenaikan gaji hakim, kemenham dan gaji karyawan SPPG bisa diadakan dan jauh lebih tinggi.

 

Belum lagi proyek MBG hingga tega memangkas sebagian besar dana pendidikan dan kesehatan. Kriminalitas kian marak di tengah masyarakat dan aduan hanya berakhir pelaporan tanpa tindak lanjut nyata, seolah kekurangan aparat, tapi nyatanya jumlah aparat sedemikian besar ketika menghadapi rakyat demo dan mirisnya para aparat justru dialihkan kinerjanya untuk ketahanan pangan.

 

Judol dan pinjol bahkan pornografi juga kian meresahkan apalagi koruptor kian brutal, seolah negara tak berdaya memblokir rekening dan akun mereka, tapi nyatanya untuk sekelas Bank Mandiri bisa memblokir secara sepihak rekening nasabahnya yang menjadi ketua pendemo dari Pati dengan dalih perintah aparat.

 

Berbagai kebijakan dan pembangunan beserta dana yang digelontorkan, nyatanya tidak berimplikasi pada kebutuhan masyarakat dan kemajuan negara, justru penuh dengan kontroversi. Publik semakin geram dan murka, nyatanya pemerintah tak bergeming. Pemberitaan media luar justru lebih objektif daripada pemberitaan media dalam negeri, itupun tak diindahkan, seolah berlalu tanpa evaluasi.

 

Banyak pihak yang menilai jika negara berjalan tanpa prioritas utama yakni kesejahteraan bersama, justru lebih mengarah pada kepentingan para elit, menjadi bancakan nasional dan kue yang diperebutkan kapitalis, maka kehancuran hanya perkara waktu. Indonesia tidak akan selamat, melainkan benar-benar “sold out”.

 

Sejatinya arah kebijakan yang hanya mengutamakan kepentingan dan keuntungan para elit, hanya ditemukan pada sistem demokrasi kapitalis liberal. Paradigma sistem ini menggunakan modal dan kekuasaan sebagai alat meraih keuntungan materi semata, tanpa memperdulikan prioritas lain.

 

Pendanaan kampanye dan politik yang berbiaya mahal, meniscayakan politisi harus menyediakan dana yang teramat besar. Pengusaha yang tersandung kebijakan dan ingin memuluskan proyek-proyeknya, meniscayakan pengusaha harus mendanai politisi. Hingga jadilah kolaborasi antara penguasa dan pengusaha bahkan merangkap penguasa sekaligus pengusaha untuk memuluskan jalannya meraih keuntungan materi sebanyak-banyaknya, tanpa memerdulikan amanat nasional, apalagi nasib rakyat.

 

Maka bisa dipastikan mereka akan menelurkan kebijakan yang jelas hanya akan menguntungkan kalangannya, bukan rakyat. Inilah yang dimaksud prioritas kepentingan para kapitalis, bukan prioritas kesejahteraan rakyat. Sebenarnya semua bisa diatur, tergantung arah prioritas ditempatkan. Sekali lagi, bukan tak bisa, masalahnya prioritas itu untuk siapa dan kemana arah prioritas itu ditempatkan.

 

Di sisi lain, ada sistem yang arah kebijakannya semata-mata untuk melayani dan memastikan kesejahteraan rakyat, penguasa adalah pelayan dan rakyat adalah pihak yang dilayani, bukan terbalik sebagaimana sistem kapitalis.

 

Sistem ini melahirkan kebijakan dan aturan dari wahyu Allah, bukan dari hawa nafsu manusia rakus. Sistem ini mempunyai aturan yang sempurna dari bangun tidur hingga bangun negara, dari urusan receh hingga esensial, bahkan semua diatur tanpa terkecuali.

 

Sistem ini mengedepankan halal dan haram, bukan kepentingan dan keuntungan materi. Sistem ini juga mempunyai jaminan keselamatan dunia dan akhirat. Sistem ini telah terbukti mampu berkuasa dengan kegemilangannya selama kurang lebih tiga belas abad dengan wilayah kekuasaannya mencapai dua per tiga dunia. Sistem ini disebut sistem Islam dan nama negaranya yakni Daulah Khilafah dengan metode kenabian. Wallahualam bissawab. [LM/ry].